Gimana Sih Contoh Percakapan Coaching Model TIRTA untuk Calon Guru Penggerak 2024?

Table of Contents

Halo, Calon Guru Penggerak! 👋 Siapa di sini yang lagi semangat-semangatnya mempersiapkan diri untuk seleksi Guru Penggerak 2024? Pastinya, salah satu hal yang perlu dikuasai adalah coaching dengan model TIRTA. Nah, di artikel ini, kita bakal ngebahas tuntas contoh percakapan coaching model TIRTA, biar kamu makin pede dan siap menghadapi seleksi. Yuk, simak bareng-bareng!

Guru Penggerak

Apa Sih Model TIRTA Itu?

Sebelum masuk ke contoh percakapan, kita pahami dulu apa itu TIRTA. TIRTA adalah singkatan dari Tujuan, Identifikasi, Rencana Aksi, Tanggung Jawab, dan Apresiasi. Model ini merupakan panduan praktis untuk melakukan coaching yang efektif. TIRTA membantu coachee (orang yang di-coach) untuk menggali potensi, menemukan solusi, dan mencapai tujuannya secara mandiri. Coaching dengan model TIRTA ini sangat relevan dengan filosofi Guru Penggerak yang berpusat pada murid.

Kenapa TIRTA Penting untuk Calon Guru Penggerak?

Statistik menunjukkan bahwa guru yang memiliki kemampuan coaching yang baik dapat meningkatkan motivasi dan prestasi belajar murid. (Sumber: misalnya, cantumkan sumber data penelitian tentang efektivitas coaching terhadap prestasi belajar). Sebagai Calon Guru Penggerak, kamu diharapkan mampu menjadi coach bagi rekan guru, murid, bahkan orang tua. Model TIRTA memberikan kerangka berpikir yang terstruktur untuk melakukan coaching yang berdampak positif.

Yuk, Intip Contoh Percakapannya!

Berikut ini contoh percakapan coaching antara seorang coach (C) dan coachee (Co) yang merupakan seorang guru, dengan menggunakan model TIRTA:

Skenario: Seorang guru (Co) merasa kesulitan dalam mengelola kelas yang aktif.

(T) Tujuan:

C: "Bu Ani, hari ini kita akan membahas tentang kesulitan yang Ibu hadapi dalam mengelola kelas. Kira-kira, apa tujuan yang ingin Ibu capai setelah sesi coaching ini?"
Co: "Saya ingin bisa mengelola kelas dengan lebih efektif, sehingga pembelajaran bisa berjalan lancar dan anak-anak bisa fokus."

(I) Identifikasi:

C: "Oke, tujuannya ingin mengelola kelas lebih efektif. Sekarang, coba Ibu ceritakan lebih detail, apa saja kendala yang Ibu hadapi dalam mengelola kelas?"
Co: "Anak-anak seringkali ribut sendiri, sulit untuk memfokuskan perhatian mereka, dan terkadang saya merasa kewalahan."
C: "Bisa Ibu berikan contoh konkret kejadian yang membuat Ibu merasa kewalahan?"
Co: "Misalnya, ketika saya sedang menjelaskan materi, tiba-tiba ada beberapa anak yang bercanda dan mengganggu teman-temannya. Saya sudah menegur, tapi mereka tetap saja mengulangi perbuatannya."

(R) Rencana Aksi:

C: "Baik, saya mengerti. Sekarang, menurut Ibu, apa saja langkah-langkah yang bisa Ibu lakukan untuk mengatasi kendala tersebut?"
Co: "Mungkin saya bisa mencoba membuat kesepakatan kelas bersama anak-anak, atau memberikan reward bagi mereka yang berperilaku baik."
C: "Ide yang bagus! Selain itu, mungkin Ibu juga bisa mencoba variasi metode pembelajaran agar anak-anak lebih tertarik dan terlibat aktif."
Co: "Iya, benar juga. Saya bisa mencoba pembelajaran berbasis permainan atau proyek."
C: "Bagaimana kalau kita buat daftar rencana aksi yang lebih spesifik? Misalnya, kapan Ibu akan menerapkan kesepakatan kelas dan reward, serta metode pembelajaran apa yang akan Ibu coba minggu depan?"

(T) Tanggung Jawab:

C: "Sekarang, setelah kita menyusun rencana aksi, kapan Ibu akan mulai menerapkannya? Dan bagaimana Ibu akan mengukur keberhasilannya?"
Co: "Saya akan mulai menerapkan kesepakatan kelas dan reward mulai hari Senin. Untuk mengukur keberhasilannya, saya akan mengamati perilaku anak-anak di kelas dan mencatat perkembangannya setiap hari."

(A) Apresiasi:

C: "Bagus sekali, Bu Ani! Saya mengapresiasi inisiatif dan komitmen Ibu untuk meningkatkan kemampuan mengelola kelas. Saya yakin Ibu bisa melakukannya. Jangan ragu untuk menghubungi saya jika Ibu membutuhkan bantuan lebih lanjut."

Tips Jitu Menerapkan Model TIRTA:

  • Jadilah pendengar yang aktif: Fokus pada coachee dan dengarkan dengan seksama apa yang mereka sampaikan.
  • Ajukan pertanyaan yang powerful: Pertanyaan yang tepat dapat memicu coachee untuk berpikir kritis dan menemukan solusi sendiri.
  • Berikan dukungan dan motivasi: Berikan apresiasi atas usaha dan kemajuan yang telah dicapai coachee.
  • Jaga kerahasiaan: Pastikan coachee merasa aman dan nyaman untuk berbagi informasi.
  • Latih terus kemampuan coachingmu: Praktik secara konsisten akan membuatmu semakin mahir dalam menerapkan model TIRTA.

Coaching

Contoh Lain Penerapan TIRTA dalam Konteks Sekolah:

Model TIRTA tidak hanya bisa digunakan untuk coaching antar guru. Berikut contoh lain penerapan TIRTA:

  • Coaching Guru kepada Murid: Membantu murid mengatasi kesulitan belajar, mengembangkan bakat, atau merencanakan masa depan.
  • Coaching Guru kepada Orang Tua: Membantu orang tua memahami perkembangan anak dan membangun komunikasi yang efektif.

Jangan Takut Gagal!

Proses coaching bukanlah hal yang instan. Terkadang, kita mungkin menghadapi tantangan atau merasa belum optimal dalam menerapkan model TIRTA. Namun, jangan takut gagal! Yang terpenting adalah terus belajar, berlatih, dan berkembang.

Ingat: Tujuan utama coaching adalah memberdayakan coachee untuk menemukan solusi dan mencapai potensinya secara mandiri.

Kesimpulan

Nah, itu tadi contoh percakapan coaching model TIRTA untuk Calon Guru Penggerak 2024. Semoga artikel ini bermanfaat dan bisa membantu kamu mempersiapkan diri menghadapi seleksi. Ingat, kunci sukses coaching adalah empati, kesabaran, dan kemampuan mendengarkan. Semangat terus dan jangan menyerah!

Bagaimana pendapatmu tentang artikel ini? Yuk, share pengalaman atau pertanyaanmu di kolom komentar! Jangan lupa kunjungi blog kami lagi untuk mendapatkan informasi menarik lainnya seputar pendidikan dan Guru Penggerak. See you! 👋

Posting Komentar