Puasa 2025 Mungkin Gak Bareng? Ini Kata Ilmuwan BRIN!

Table of Contents

Puasa 2025 Mungkin Gak Bareng? Ini Kata Ilmuwan BRIN

Jakarta - Kamu udah siap-siap menyambut Ramadan 2025 belum nih? Tapi, eh, denger-denger kayaknya awal puasa tahun depan ini berpotensi beda lagi ya? Nah, biar nggak bingung, yuk kita dengerin penjelasan dari ahlinya langsung, Profesor Thomas Djamaluddin, ilmuwan dari BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional). Beliau ini Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika, jadi pasti penjelasannya valid dan berdasarkan ilmu pengetahuan. Kira-kira gimana ya prediksi beliau soal awal Ramadan 2025?

Prediksi Awal Ramadan dari BRIN: Ada Potensi Beda!

Profesor Thomas Djamaluddin menyampaikan bahwa ada kemungkinan perbedaan nih dalam menentukan kapan kita mulai puasa Ramadan 1446 Hijriah nanti. Pemerintah sendiri diprediksi bakal menetapkan 1 Ramadan itu jatuh pada tanggal 2 Maret 2025. Kenapa bisa gitu ya? Ternyata semua ini berkaitan sama posisi bulan dan perhitungan astronomi, alias ilmu falak. Penasaran kan gimana detailnya?

Menurut Profesor Thomas, semua bermula dari hari Jumat, tanggal 28 Februari 2025. Hari itu penting banget karena pemerintah bakal ngadain rukyatul hilal di 125 titik di seluruh Indonesia. Rukyatul hilal itu apa sih? Singkatnya, itu adalah proses pengamatan hilal, yaitu penampakan bulan sabit muda yang menandakan masuknya bulan baru dalam kalender Hijriah. Nah, dari pengamatan hilal inilah nanti ditentukan awal Ramadan.

Profesor Thomas menjelaskan, pada tanggal 28 Februari 2025 itu, posisi Bulan saat matahari terbenam di Banda Aceh udah memenuhi kriteria MABIMS. MABIMS itu singkatan dari Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Kriteria MABIMS ini jadi acuan penting buat menentukan awal bulan Hijriah. Kriterianya gimana sih? Tinggi bulan minimal 3 derajat dan sudut elongasi minimal 6,4 derajat.

“Posisi Bulan pas maghrib tanggal 28 Februari 2025 di Banda Aceh itu tinggi toposentriknya 4,5 derajat, elongasi geosentriknya 6,4 derajat. Nah, ini udah sedikit lebih tinggi dari kriteria MABIMS,” jelas Profesor Thomas dalam video yang diunggah di kanal YouTube pribadinya. Jadi, secara perhitungan astronomi, posisi bulan di Banda Aceh udah oke nih menurut kriteria MABIMS.

Tapi, ternyata situasinya beda di wilayah Indonesia lainnya, contohnya Surabaya. Di Surabaya, posisi Bulan belum memenuhi kriteria MABIMS. Elongasi geosentrik Bulan di Surabaya baru mencapai 5,8 derajat. Ini berarti, secara astronomi, kondisi hilal di Surabaya dan wilayah lain di Indonesia bagian timur mungkin belum terlalu ideal untuk dilihat.

Sulitnya Mengamati Hilal Ramadan 2025

Profesor Thomas juga bilang, kayaknya bakal sulit nih mengamati hilal Ramadan kali ini. Kenapa sulit? Soalnya posisi Bulan terlalu dekat sama Matahari, dan ketinggiannya juga masih cukup rendah. Kondisi ini bikin hilal jadi tipis banget dan susah banget buat dilihat dengan mata telanjang, apalagi kalau kondisi cuacanya kurang mendukung.

“Karena posisi Bulan yang terlalu dekat dengan Matahari dan ketinggiannya masih cukup rendah, ini nunjukkin kalau posisi Bulan di awal Ramadan untuk nentuin awal Ramadan ini sulit diamati,” kata Profesor Thomas. Jadi, kemungkinan besar, proses rukyatul hilal pada tanggal 28 Februari 2025 itu bakal gagal. Kalau rukyatul hilal gagal, gimana dong nentuin awal Ramadan-nya?

Nah, kalau rukyatul hilal gagal, biasanya pemerintah akan menggunakan metode istikmal. Istikmal itu artinya menyempurnakan bulan Syakban menjadi 30 hari. Jadi, kalau tanggal 28 Februari 2025 itu masih tanggal 29 Syakban, dan rukyatul hilal gagal, maka bulan Syakban digenapin jadi 30 hari, dan 1 Ramadan jatuh pada hari berikutnya, yaitu tanggal 2 Maret 2025.

“Kemungkinan gagal rukyat, kita tunggu aja hasil sidang isbat. Ada kemungkinan 1 Ramadan 1446 jatuh pada 2 Maret 2025,” sambung Profesor Thomas. Jadi, kita tunggu aja ya keputusan resmi dari pemerintah setelah Sidang Isbat nanti.

Sidang Isbat Pemerintah: Penentu Awal Puasa

Pemerintah melalui Kementerian Agama memang punya mekanisme sendiri buat nentuin awal Ramadan, yaitu melalui Sidang Isbat. Sidang Isbat ini biasanya melibatkan berbagai pihak, mulai dari ahli falak, perwakilan ormas Islam, sampai pejabat pemerintah. Sidang Isbat awal Ramadan 1446 H rencananya bakal digelar pada hari Jumat, 28 Februari 2025.

Dalam Sidang Isbat ini, pemerintah akan mempertimbangkan berbagai informasi, mulai dari hasil perhitungan astronomi, hasil rukyatul hilal di berbagai titik, sampai masukan dari berbagai pihak. Keputusan Sidang Isbat ini yang nantinya akan jadi acuan resmi pemerintah dalam menetapkan kapan umat Islam di Indonesia mulai menjalankan ibadah puasa Ramadan. Pengumuman resmi soal awal puasa 2025 ini biasanya disampaikan ke publik setelah Sidang Isbat selesai.

Muhammadiyah Sudah Tetapkan 1 Ramadan: Lebih Awal!

Nah, kalau pemerintah masih nunggu Sidang Isbat, lain lagi ceritanya sama PP Muhammadiyah. Ormas Islam terbesar kedua di Indonesia ini udah menetapkan 1 Ramadan 1446 H jatuh pada tanggal 1 Maret 2025. Wah, lebih awal sehari dari prediksi pemerintah ya? Kok bisa beda gitu?

Penetapan awal Ramadan oleh Muhammadiyah ini tertuang dalam Maklumat PP Muhammadiyah Nomor 1/MLM/I.0/E/2025 tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadan, Syawal, dan Zulhijah 1446 Hijriah. Maklumat ini diumumkan langsung oleh Sekretaris PP Muhammadiyah, Muhammad Sayuti, dalam konferensi pers pada hari Rabu, 12 Februari 2025.

“Pada saat Matahari terbenam Jumat 28 Februari 2025 masehi di seluruh wilayah Indonesia, bulan berada di atas ufuk karena itu hilal sudah wujud, di wilayah Indonesia tanggal 1 Ramadan 1446 Hijriah dengan demikian jatuh pada hari Sabtu Pahing, tanggal 1 Maret 2025,” jelas Sayuti dalam konferensi pers yang disaksikan secara daring.

Muhammadiyah dalam menetapkan awal Ramadan menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal. Metode hisab ini berbeda dengan metode rukyatul hilal yang digunakan pemerintah. Hisab hakiki wujudul hilal ini lebih mengandalkan perhitungan astronomi yang akurat, tanpa harus melakukan pengamatan hilal secara langsung. Jadi, Muhammadiyah udah yakin 1 Ramadan tanggal 1 Maret 2025 berdasarkan perhitungan hisab mereka.

Metode Penentuan Pihak Prediksi 1 Ramadan 1446 H
Hisab Hakiki Wujudul Hilal PP Muhammadiyah 1 Maret 2025
Rukyatul Hilal & Istikmal (Prediksi) Pemerintah (BRIN) 2 Maret 2025

Analisis BMKG: Prakiraan Hilal Penentu Ramadan

Selain BRIN dan Muhammadiyah, BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) juga punya analisis sendiri soal prakiraan hilal penentu Ramadan 1446 H. BMKG udah merilis informasi prakiraan hilal saat matahari terbenam pada tanggal 28 Februari 2025. Informasi dari BMKG ini juga penting banget buat jadi pertimbangan dalam menentukan awal Ramadan.

Berdasarkan analisis BMKG, konjungsi atau ijtimak (yaitu peristiwa ketika Matahari dan Bulan berada pada bujur ekliptika yang sama) akan terjadi pada hari Jumat, 28 Februari 2025 pukul 07.44.38 WIB. Nah, setelah ijtimak ini, Bulan mulai bergerak menjauhi Matahari, dan potensi hilal untuk dilihat mulai muncul.

BMKG juga memprediksi ketinggian hilal di Indonesia saat matahari terbenam pada tanggal 28 Februari 2025 itu bervariasi, antara 3.02 derajat di Merauke, Papua sampai 4.69 derajat di Sabang, Aceh. Sedangkan elongasinya antara 4.78 derajat di Waris, Papua sampai 6.4 derajat di Banda Aceh, Aceh. Sama kayak yang dibilang Profesor Thomas, di Banda Aceh memang posisinya paling tinggi dan elongasinya paling besar.

“Umur Bulan di Indonesia saat Matahari terbenam pada 28 Februari 2025, berkisar antara 8,16 jam di Waris, Papua sampai dengan 11,11 jam di Banda Aceh, Aceh,” lanjut rangkuman BMKG. Umur bulan ini juga jadi salah satu faktor penting dalam penentuan hilal. Semakin tua umur bulan, semakin besar potensi hilal bisa dilihat.

Waspada ‘Hilal Palsu’: Saturnus dan Merkurius Mengintai!

Ada info menarik lagi nih dari BMKG. Ternyata, keberadaan planet Saturnus dan Merkurius sejak matahari terbenam sampai bulan terbenam berpotensi bikin pengamatan hilal jadi kacau! Kok bisa gitu? Soalnya, Saturnus dan Merkurius ini juga kelihatan terang di langit malam, apalagi kalau langitnya cerah.

BMKG bilang, pengamat hilal berpotensi salah mengira Saturnus atau Merkurius sebagai hilal. Wah, bisa repot juga ya kalau sampai salah lihat. Makanya, pengamatan hilal ini emang butuh kehati-hatian dan ketelitian ekstra. Jangan sampai ketipu sama ‘hilal palsu’ gara-gara planet lain.

Jadi, kesimpulannya gimana nih? Awal Ramadan 2025 ini kayaknya emang berpotensi beda antara Muhammadiyah dan pemerintah. Muhammadiyah udah mantap tanggal 1 Maret, sementara pemerintah masih nunggu hasil Sidang Isbat tanggal 28 Februari, dengan potensi 1 Ramadan tanggal 2 Maret. Kita tunggu aja ya keputusan resminya nanti. Yang penting, apapun keputusannya, kita tetap semangat menyambut bulan suci Ramadan!

Gimana menurut kamu soal potensi perbedaan awal puasa 2025 ini? Komen di bawah ya!

Posting Komentar