Syaban Makin Dekat! Ini 10 Khutbah Jumat Buat Persiapan Ramadhanmu
Syaban sudah di depan mata! Bulan kedelapan dalam kalender Hijriah ini menandakan bahwa Ramadhan, bulan suci yang kita tunggu-tunggu, semakin dekat. Bulan Syaban ini ibarat pintu gerbang menuju Ramadhan, waktu yang tepat untuk mempersiapkan diri menyambut bulan penuh berkah.
Khutbah Jumat di bulan Syaban bisa jadi pengingat yang ampuh untuk kita. Para khatib bisa menyampaikan pesan-pesan agama yang membangkitkan semangat dan memperkuat iman jamaah, sebagai bekal menghadapi Ramadhan. Persiapan ini bukan cuma soal rohani saja, tapi juga mental dan fisik. Dengan persiapan yang matang, ibadah di bulan Ramadhan nanti bisa kita jalankan dengan maksimal.
Berikut ini ada beberapa contoh khutbah Jumat bulan Syaban yang bisa jadi referensi buat para khatib, atau buat kita semua sebagai bahan renungan. Disimak yuk!
Khutbah Jumat Bulan Syaban: Memantapkan Persiapan Ramadhan di Bulan Syaban¶
Khutbah I¶
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah atas nikmat di bulan Syaban ini. Bulan yang menjadikan kita sebagai umat Muslim yang taat, dan memerintahkan kita untuk mengikuti jalan orang-orang mukmin. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, sebaik-baiknya teladan dan seindah-indahnya perkataan.
Allahumma sholli wa sallim ‘ala sayyidina Muhammad…
Waktu terus berjalan, tak terasa kita sudah hampir separuh bulan Syaban. Ramadhan semakin dekat, suasana batin pun mulai terasa berbeda. Ada yang gembira menyambutnya, ada juga yang biasa saja, menganggap Syaban dan Ramadhan sama saja dengan bulan lainnya.
Sikap biasa saja ini kurang tepat, karena menunjukkan hati kita kurang peka terhadap kemuliaan waktu-waktu khusus dalam Islam. Suasana “biasa saja” ini biasanya bukan karena ingkar, tapi karena kesibukan duniawi yang membuat kita lupa akan keutamaan bulan Rajab, Syaban, dan Ramadhan.
Islam tidak mengajarkan demikian. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumid-Din menyebutkan adanya hari-hari utama (al-ayyam al-fadhilah) di setiap tahun, bulan, dan minggu. Bulan Syaban termasuk dalam kategori bulan-bulan utama (al-asyhur al-fadhilah) bersama Rajab, Dzulhijjah, dan Muharram.
Bulan Syaban itu istimewa. Ia adalah jembatan menuju bulan yang paling agung, Ramadhan. Kata “Syaban” berasal dari syi’ab, yang artinya jalan setapak menuju puncak. Syaban adalah bulan persiapan dari Allah untuk hamba-Nya, untuk memantapkan diri menyambut Ramadhan.
Jamaah shalat Jum’at hafidhakumullah,
Lantas, apa saja yang perlu dipersiapkan? Ramadhan itu fenomena tahunan yang membawa dampak ekonomi dan budaya yang besar. Pasar jadi ramai, pusat perbelanjaan makin menggeliat, televisi pun menyesuaikan tayangan dengan nuansa religius. Kita butuh persiapan untuk menghadapi semua ini, tapi ini baru persiapan fisik dan material.
Persiapan yang lebih penting adalah persiapan spiritual. Syaban sebagai “jalan menuju puncak” harus jadi momen untuk memperkuat mental, menata batin, dan membenahi diri menyambut Ramadhan. Puasa bukan hanya menahan makan dan minum, tapi juga menahan diri dari ego pribadi.
Rasulullah SAW bersabda:
ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبَ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
“Bulan itu (Syaban) adalah bulan yang dilupakan manusia, berada di antara Rajab dan Ramadhan. Dan ia adalah bulan diangkatnya amal ibadah kepada Tuhan Pemilik Semesta Alam, maka aku (Nabi Muhammad) suka amal ibadahku diangkat ketika aku berpuasa”. (HR. an-Nasa’i)
Sayyidah Aisyah RA juga meriwayatkan, “Hanya di bulan Ramadhan Nabi Muhammad berpuasa satu bulan penuh dan saya tidak melihat beliau sering puasa kecuali di bulan Syaban,” (HR Al-Bukhari). Riwayat Ahmad menyebutkan, “Puasa yang disukai Nabi Muhammad SAW ialah puasa di bulan Syaban.”
Ini menunjukkan bahwa puasa adalah salah satu persiapan menyambut Ramadhan yang dicontohkan Rasulullah. Syaban adalah waktu yang tepat untuk melatih diri berpuasa, agar terbiasa saat Ramadhan tiba. Puasa Syaban adalah bentuk memuliakan dan menghormati Ramadhan. Rasulullah bersabda, “Puasa Syaban itu untuk mengagungkan Ramadhan,” (HR At-Tirmidzi).
Jamaah shalat Jum’at hafidhakumullah,
Puasa memang terasa berat bagi sebagian besar umat Islam. Kita harus menahan lapar dan haus seharian. Tapi justru di dalam puasa, kita mendapat pendidikan ruhani yang luar biasa. Puasa bukan hanya soal menahan makan dan minum, tapi juga menahan diri dari hawa nafsu, seperti bohong, menggunjing, boros, pamer, dan merasa lebih saleh dari orang lain. Puasa yang hakiki adalah puasa jasmani dan ruhani.
Sebelum memasuki Ramadhan, bulan seribu berkah, mari kita gembleng diri dengan puasa dan meningkatkan takwa kepada Allah. Bukan hanya banyak beribadah ritual, tapi juga meningkatkan kesadaran ketuhanan dalam setiap gerak-gerik kita.
Khutbah II¶
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa bihi nasta’inu ‘ala umuriddunya waddin. Asyhadu alla ilaha illallah wahdahula syarikalah. Wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh. Allahumma sholli wasallim ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi washohbihi ajma’in. Amma ba’du:
Faya ibadallah, ittaqullah fi ma amaraa wantahu ‘ammaa nahhaa wa’lamuu annallaha amarakum bi amrin bada’a fihi binafsihi wasanna bi malaaikatihi bi qudsihi wa qala ta’ala innallaha wa malaaikatahuu yushalluuna ‘alannabiy yaa ayyuhalladzina amanuu shaluu ‘alaihi wasallimuu tasliima.
Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam wa ‘ala ali sayyidina Muhammad wa ‘ala ambiyaaika wa rusulika wa malaikatil muqorrobin war dhollahu ‘anil khulafaur rosyidin abi bakrin wa ‘umar wa ‘utsman wa ‘ali wa ‘an baqiyyatish shohabati wattabi’in wa tabi’it tabi’in lahum bi ihsanin ila yaumiddin war dhollahu ‘anna ma’ahum bi rohmatika yaa arhamarrahimin. Allahummaghfir lil mukminiina wal mukminaat wal muslimiina wal muslimaat al ahyaa’i minhum wal amwaat Allahumma a’izzal islam wal muslimiin wa adzillasy syirka wal musyrikin wanshur ‘ibaadaka al muwahhidiya wa ansur man nasoro diina wakdzul man khadzala muslimin wa dammir a’da’addiin wa a’li kalimaatika ila yaumiddiin. Allahumma adfi’ ‘annal balaa’ wal wabaa’ wal zalaazila wal mihana wa suu’al fitnati wal mihan maa zhoharo minhaa wa maa bathon ‘an baladinaa indonesia khossotan wa saa’iril buldaanil muslimiina aammatan yaa rabbal ‘alamiin. Robbana atina fiddunya hasanah wa fil akhiroti hasanah waqinaa ‘adzaabannaar. Robbana dzolamna anfusana wa inlam taghfir lana watarhamna lanakuunanna minal khoosirin. ‘Ibadallah! Innallaha ya’muru bil ‘adli wal ihsaani wa iitaa’i dzil qurbaa wa yanha ‘anil fahsyaa’i wal munkari wal baghyi ya’idzukum la’allakum tadzakkaruun wa dzkurullahhal ‘azhiim yadzkurkum wasykuruuhu ‘ala ni’amihi yazidkum waladzikrullahi akbar.
Khutbah Jumat Bulan Syaban: Bulan Syaban, Waktunya Menyiram¶
Khutbah I¶
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, alhamdulillahi rabbil ‘alamin alladzi fadholana bi liqo’i syahri sya’ban, hadza syahrun yumkinu fihi an nastakmilahu li nailil barokati war ridlwan. Allahumma sholli wasallim ‘ala sayyidina Muhammad alladzi anzalahullahu ilaihi bi jamii’i anwaa’i dalaaili wal burhan, wa ‘ala alihi washohbihi alladziina naaluu al barokati wal ‘irfan. Amma ba’du fayaa ‘ibaadallah, ushiikum nafsi wa iyyaakum bitaqwallah, faqod faazal muttaquun faqod qoolallahu ta’ala fi kitaabihil kariim: wal ‘ashr, innal insaana lafii khusr, illalladziina amanuu wa ‘amilush sholihaati watawaasau bil haqqi watawaasau bis shobr.
Hadirin jamaah shalat Jumat hafidhakumullah,
Saya berwasiat kepada diri sendiri dan hadirin sekalian untuk meningkatkan takwa kepada Allah SWT, dengan selalu menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Hari ini, atas izin Allah, kita berada di bulan Syaban, bulan yang terletak antara Rajab dan Ramadhan. Bulan Syaban ini disebut khusus dalam doa Rasulullah SAW, diriwayatkan dari Anas bin Malik:
اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ، وَشَعْبَانَ، وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ
Artinya: “Ya Allah, semoga Engkau berkahi kami di bulan Rajab dan Syaban, dan sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan”.
Bulan Rajab sudah kita lewati, bulan bercocok tanam. Sekarang di bulan Syaban ini waktunya merawat dan menyiram tanaman. Bulan Ramadhan nanti adalah bulan memanen. Bagaimana bisa panen ibadah kalau kita tidak mulai menanam dan merawatnya dari sekarang? Imam Dzun Nun al-Mishri berkata,
رَجَبٌ شَهْرُ الزَّرْعِ، وَشَعْبَانُ شَهْرُ السَّقْيِ، وَرَمَضَانُ شَهْرُ الْحَصَادِ، وَكُلٌّ يَحْصُدُ مَا زَرَعَ، فَمَنْ ضَيَّعَ الزَّرْعَ نَدِمَ يَوْمَ الْحَصَادِ
Artinya: “Rajab adalah bulan menanam, Syaban bulan menyiram, dan Ramadhan bulan memanen. Setiap orang akan memanen atas apa yang ia tanam. Barangsiapa yang menyia-nyiakan tanaman akan merugi di waktu panen.”
Biasanya, orang lebih memperhatikan bulan Rajab karena termasuk bulan mulia, dan Ramadhan karena bulan yang paling utama. Akibatnya, banyak yang bermalas-malasan di bulan Syaban. Padahal ini kurang tepat.
Bermalas-malasan di bulan Syaban berarti tidak menyirami tanaman yang sudah ditanam di bulan Rajab. Ini bisa membuat ibadah di bulan Ramadhan kurang semangat karena tidak dirawat dengan baik. Salah satu hal penting yang sering dilupakan di bulan Syaban adalah berpuasa. Sayyidah Aisyah RA pernah bercerita:
لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُوْمُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ فَإِنَّهُ كَانَ يَصُوْمُ شَعْبَانَ كُلَّهُ
Artinya: “Nabi Muhammad tidak pernah melakukan puasa bulanan (selain Ramadhan) lebih banyak dari pada bulan Syaban. Sesungguhnya beliau puasa sebulan penuh. (Muttafaq alaih).”
Dalam riwayat lain dari Sunan an-Nasa’i, Rasulullah SAW ditanya Usamah bin Zaid:
يَا رَسُوْلَ اللهِ لَمْ أَرَكَ تَصُوْمُ شَهْرًا مِنَ الشُّهُوْرِ مَا تَصُوْمُ مِنْ شَعْبَانَ؟ قَالَ: ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيْهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِيْنَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِيْ وَأَنَا صَائِمٌ
Artinya: “Wahai Rasul, saya tidak pernah melihat anda berpuasa di antara bulan-bulan sebagaimana anda melakukan puasa pada bulan Syaban. Kemudian Rasulullah menjawab, ‘Syaban itu merupakan bulan yang dilupakan banyak manusia antara bulan Rajab dan Ramadhan. Di bulan itu, amal-amal dilaporkan kepada Allah Tuhan semesta alam. Aku suka jika amalku dilaporkan sedang aku dalam keadaan berpuasa’.”
Hadirin hafidhakumullah,
Jangan takut sebelum berperang. Setan sering membisiki hal-hal menakutkan, seperti “Jangan puasa Syaban, kamu tidak akan kuat,” dan lain-lain. Itu semua godaan untuk melemahkan niat kita. Bulatkan niat karena Allah, sertai dengan tawakal, Insya Allah kita bisa menjalaninya dengan baik.
Ketakutan ini mirip dengan kekhawatiran Nabi Musa dan Nabi Harun saat diperintah mendatangi Fir’aun. Mereka berkata:
إِنَّنَا نَخَافُ أَنْ يَفْرُطَ عَلَيْنَا أَوْ أَنْ يَطْغَى
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami khawatir bahwa ia segera menyiksa kami atau akan bertambah melampaui batas.”
Allah kemudian menjawab:
قَالَ لَا تَخَافَا إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَى
“Allah berfirman, ‘Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat’.” (QS Thaha: 45-46)
Hadirin, Rasulullah menjelaskan bahwa Syaban adalah bulan yang dilupakan manusia.
ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ
“Syaban itu merupakan bulan yang dilupakan banyak manusia”.
Maka, jangan sampai kita ikut-ikutan lupa. Di bulan Syaban ini, mari kita hidupkan malam-malamnya dengan bangun di sepertiga malam terakhir, saat orang-orang terlelap tidur. Dekatkan diri kepada Allah, ketuk pintu rahmat-Nya, merendahkan hati, dan memohon petunjuk di tengah kesesatan.
Selain itu, di waktu mustajab antara Maghrib dan Isya’, jangan sampai kita ikut lupa. Isi waktu tersebut dengan ibadah, membaca Al-Qur’an, dan mengajari keluarga.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ الْبَرُّ الرَّءُوْفُ الرَّحِيْمُ وَاَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اِنَّا اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ، وَمَا اَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ، لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍ، تَنَزَّلُ الْمَلٰئِكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِإِذْنِ رَّبِّهِمْ مِّنْ كُلِّ اَمْرٍ، سَلَامٌ هِيَ حَتّٰى مَطْلَعِ الْفَجْرِ. وَقُلْ رَّبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرّٰحِمِيْنَ
Khutbah II¶
Alhamdulillahi hamdan ‘ala ihsaanihi was syukru lahu ‘ala taufiqihi wam tinanihi. Wa asyhadu alla ilaha illallahu wahdahu laa syariikalah wa ashhadu anna sayyidana Muhammadan ‘abduhu wa rasuluhu adda’i ila ridwanihi. Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi washohbihi wasallim tasliiman katsiroo amma ba’du: fa yaa ayyuhannaas ittaqullooha fiimaa amar wa antahu ‘ammaa nahaa, wa’lamuu annallooha amarakum bi amrin bada’a fiihi binafsihi wa tana bi malaaikatihi biqudsihi wa qola ta’ala innallooha wa malaaikatahuu yusholluuna ‘alannabiy yaa ayyuhalladziina amanuu sholluu ‘alaihi wasallimuu tasliima.
Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallim wa ‘ala alihi washohbihi ajma’in. Amma ba’du: fayaa ayyuhannaas ittaqullooha fiimaa amar wa antahu ‘ammaa nahaa, wa’lamuu annallooha amarakum bi amrin bada’a fiihi binafsihi wa tana bi malaaikatihi biqudsihi wa qola ta’ala innallooha wa malaaikatahuu yusholluuna ‘alannabiy yaa ayyuhalladzina amanuu sholluu ‘alaihi wasallimuu tasliima. Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallim wa ‘ala ali sayyidina Muhammad wa ‘ala ambiyaaika wa rusulika wa malaikatil muqorrobin war dhollahu ‘anil khulafaur rosyidin abi bakrin wa ‘umar wa ‘utsman wa ‘ali wa ‘an baqiyyatish shohabati wattabi’in wa tabi’it tabi’in lahum bi ihsanin ila yaumiddin war dhollahu ‘anna ma’ahum bi rohmatika yaa arhamarrahimin. Allahummaghfir lil mukminiina wal mukminaat wal muslimiina wal muslimaat al ahyaa’i minhum wal amwaat Allahumma a’izzal islam wal muslimiin wa adzillasy syirka wal musyrikin wanshur ‘ibaadaka al muwahhidiya wa ansur man nasoro diina wakdzul man khadzala muslimin wa dammir a’da’addiin wa a’li kalimaatika ila yaumiddiin. Allahumma adfi’ ‘annal balaa’ wal wabaa’ wal zalaazila wal mihana wa suu’al fitnati wal mihan maa zhoharo minhaa wa maa bathon ‘an baladinaa indonesia khossotan wa saa’iril buldaanil muslimiina aammatan yaa rabbal ‘alamiin. Robbana atina fiddunya hasanah wa fil akhiroti hasanah waqinaa ‘adzaabannaar. Robbana dzolamna anfusana wa inlam taghfir lana watarhamna lanakuunanna minal khoosirin. ‘Ibadallah! Innallaha ya’muru bil ‘adli wal ihsaani wa iitaa’i dzil qurbaa wa yanha ‘anil fahsyaa’i wal munkari wal baghyi ya’idzukum la’allakum tadzakkaruun wa dzkurullahhal ‘azhiim yadzkurkum wasykuruuhu ‘ala ni’amihi yazidkum waladzikrullahi akbar.
Khutbah Jumat Bulan Syaban: Nisfu Syaban, Momentum Titik Tolak Perbaikan Diri¶
Khutbah I¶
Alhamdulillahi robbil ‘alamin, alladzi an’amanaa bini’matil iiman wal islam. Was sholatu was salamu ‘ala sayyidina Muhammad khoiril anaam. Wa ‘ala alihi wa ashhabihil kiroom. Asyhadu alla ilaaha illallah al malikul qudduusussalam, wa asyhadu anna sayyidana wa habibana Muhammadan ‘abduhu wa rosuluh sohibus syafa’ati wal ihtiram amma ba’du: fayaa ayyuhal mu’minuun, ittaqulloha haqqa tuqootihi walaa tamuutunna illa wa antum muslimuun. Qoalallahu ta’ala: waman yattaqillaaha yaj’al lahuu makhrojaa, wayarzuqhu min haitsu laa yahtasib.
Hadirin shalat Jumat hafidzakumullah,
Alhamdulillah kita sudah memasuki bulan Syaban. Bulan ini punya banyak kejadian bersejarah yang tak terlupakan, seperti peralihan kiblat ke Ka’bah dan turunnya ayat perintah bershalawat. Bulan Syaban juga punya malam spesial, Nisfu Syaban.
Malam Nisfu Syaban tahun ini jatuh pada hari Kamis, 13 Februari 2025, sedangkan hari Nisfu Syabannya pada Jumat, 14 Februari 2025.
Hadirin shalat Jumat hafidzakumullah,
Keutamaan Nisfu Syaban terletak pada malamnya, bukan harinya. Kita mungkin sudah sering mendengar janji dan ganjaran bagi yang menghidupkan malam Nisfu Syaban dengan dzikir, shalawat, doa, dan membaca Al-Quran.
Kali ini, khatib akan menyampaikan hadits, pendapat ulama, dan kebiasaan ulama salaf dalam mengoptimalkan malam Nisfu Syaban. Pertama, hadits riwayat Ibnu Hibban tentang keutamaan menghidupkan malam Nisfu Syaban:
يَطَّلِعُ اللهُ إِلَى خَلْقِهِ فِيْ لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيْعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ
Artinya: “Allah akan muncul ke mahluk-Nya pada malam pertengahan bulan Syaban (Nisfu Syaban), kemudian akan mengampuni seluruh (dosa) mahluk-Nya kecuali orang musyrik dan mengadu domba.”
Perhatikan hadits ini, Allah hanya tidak mengampuni dua jenis manusia: musyrik dan pengadu domba. Ini sesuai dengan firman Allah dalam Al-Quran:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. an-Nisa’: 48)
Selain dosa syirik, Allah akan mengampuni dosa-dosa lainnya jika kita memohon ampunan dengan memperbanyak istighfar, dzikir, dan ibadah sunnah lainnya. Jangan khawatir tidak diampuni dosa, sebanyak apapun dosa kita, Allah pasti akan mengampuni jika kita sungguh-sungguh bertobat. Dalam riwayat Tirmidzi disebutkan:
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَنْزِلُ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيَغْفِرُ لِأَكْثَرَ مِنْ عَدَدِ شَعَرِ غَنَمِ كَلْبٍ
Artinya: “Sesungguhnya Allah azza wa jalla turun ke langit dunia pada malam pertengahan bulan Syaban (Nisfu Syaban), kemudian Dia mengampuni dosa-dosa yang lebih banyak dibandingkan jumlah bulu kambing suku Kalb.”
Bulu kambing di sini hanya majas, artinya dosa yang tak terhitung pun bisa diampuni Allah. Jangan pesimis dan putus asa untuk memohon ampunan-Nya. Malam Nisfu Syaban adalah momen yang tepat untuk memohon ampunan dosa.
Hadirin shalat Jumat hafidhakumullah,
Keistimewaan Nisfu Syaban ini sangat besar. Ulama salaf, Atha’ bin Yasar, mengatakan bahwa malam Nisfu Syaban adalah malam yang paling utama setelah Lailatul Qadar. Malam Nisfu Syaban derajatnya tepat di bawah Lailatul Qadar.
Imam Syafi’i juga mengomentari kemuliaan Nisfu Syaban. Beliau berkata, doa di lima malam akan dikabulkan, salah satunya malam Nisfu Syaban.
Ulama salaf sebelum Imam Syafi’i sudah punya kebiasaan menghidupkan malam Nisfu Syaban dengan ibadah. Imam Ibnu Rajab al-Hanbali menceritakan bahwa para Tabi’in di Syam memuliakan malam Nisfu Syaban dengan bermujahadah dan memperbanyak ibadah, lalu banyak orang meniru kebiasaan tersebut.
Hadirin shalat Jumat hafidhakumullah,
Mari kita ajak keluarga dan sanak famili untuk menghidupkan malam Nisfu Syaban dengan berbagai amalan ibadah. Ini juga mengamalkan ayat:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
Artinya: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS. al-Maidah: 2)
Jangan sampai kita melewatkan malam penuh berkah ini tanpa menambah pahala. Jadikan Nisfu Syaban sebagai titik tolak untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Di malam Nisfu Syaban, mohon ampunan dosa agar pagi harinya kita seperti bayi baru lahir, tanpa dosa sama sekali.
Di malam Nisfu Syaban, kita bertekad memperbaiki diri dan mengurangi dosa. Kita pasti tak bisa sepenuhnya terhindar dari dosa, tapi setidaknya setelah diampuni, kita punya tekad kuat untuk menjadi pribadi yang lebih bertakwa, lebih serius menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. اَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا فَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah II¶
Alhamdulillahi hamdan katsiron kamaa amar, Asyhadu alla ilaha illallohu wahdahu laa syarika lahu iqrooron liman jahada bihi wa kafar, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rosuluh sayyidul kholaiqi wal basyar. Alloohumma sholli wa sallim ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wasallim tasliiman katsiroo amma ba’du : fayaa ibaadalloh ittaqullooha haqqo tuqootih walaa tamuutunna illa wa antum muslimuun. Wattaqullooha walau bisyiqqi tamroh. Innallooha amarakum bi amrin badaa fihi binafsihi wa thanaa bi malaaikatihi al musabbihah bi qudsihi, wa ayyuhal mu’minuuna min jinnih wa insih, faqoolaa qoolan kariima: Innalloha wa malaaikatahuu yusholluuna ‘alannabiy yaa ayyuhalladzina amanuu sholluu ‘alaihi wasallimuu tasliima. Allohumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala aali sayyidina Muhammad wa ‘ala anbiyaiika wa rusulika wa malaikatika al muqorrobiin war dhollahu ‘anil khulafaa’ir rosyidiin, abi bakrin wa ‘umar wa ‘utsman wa ‘ali wa ‘an baqiyyatish shohabati wattabi’in watabi’it tabi’iin lahum bi ihsanin ila yaumiddiin war dhollahu ‘anna ma’ahum bi rohmatika yaa arhamarroohimiin. Alloohummaghfir lil mu’miniina wal mu’minaat wal muslimiina wal muslimaat, al ahyaa’i minhum wal amwaat. Alloohumma a’izzal islaam wal muslimiin, wa adzillasy syirka wal musyrikiin, wanshur ‘ibaadaka al muwahhidiin, wanshur man nasoro diin, wakdzul man khadzala diin, wa dammir a’daa’addiin, wa a’li kalimaatika ila yaumiddiin. Alloohumma adfi’ ‘annal balaa’ wal wabaa’ wal gholaa’ war ribaa waz zalaazil wal mihana wa suu’al fitnati maa zhoharo minhaa wa maa bathon ‘an baladinaa indonesia khossotan wa saa’iril buldaanil muslimiina aammatan yaa robbal ‘aalamiin. Robbana aatina fiddunya hasanah wa fil aakhiroti hasanah waqinaa ‘adzaabannaar. Robbana dzolamnaa anfusanaa wa illam taghfir lanaa watarhamnaa lanakuunanna minal khoosiriin. ‘Ibaadalloh! Innalloha ya’muru bil ‘adli wal ihsaan wa iitaa’i dzil qurbaa wa yanha ‘anil fahsyaa’i wal munkari wal baghyi ya’izukum la’allakum tadzakkaruun, fadzkuruulloohal ‘azhiim yadzkurkum wasykuruuhu ‘ala ni’amihi yazidkum waladzikrullohi akbar.
Khutbah Jumat Bulan Syaban: Bulan Syaban Momen Bersimpuh Mohon Ampunan Allah¶
Khutbah I¶
Alhamdulillahi dzil ‘izzati wal jabaruut. Alhamdulillahi dzil mulki wal malakut. Alhamdulillahi dzil ‘adzomati wal haibah wal khoir wal barokaat. Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu laa syarikalah wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuluhu laa nabiyya ba’dah. Allahumma sholli wasallim ‘ala khootamil anbiya’I wal mursalin Muhammadin wa ‘ala alihi wa ashhabihi ajma’in. Amma ba’du, fayaa ‘ibadallah ittaqullah haqqo tuqootihi walaa tamuutunna illa wa antum muslimuun. Qola ta’ala: innalloha yuhibbut tawwabiina wa yuhibbul mutathohhiriin.
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah.
Pada kesempatan ini, khatib mengajak kita semua untuk bersyukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat dan karunia-Nya. Shalawat dan salam juga mari kita haturkan kepada Nabi Muhammad SAW atas kasih sayang dan perjuangan dakwahnya.
Di bulan Syaban ini, khatib mengajak kita untuk kembali dan bertobat kepada Allah. Bulan Syaban yang baik ini, mari kita jadikan momentum untuk merendahkan diri dan memohon ampunan atas dosa-dosa kita.
Dalam Surat Al-Baqarah ayat 222, Allah berfirman bahwa Dia menyukai orang-orang yang bertobat dan membersihkan diri:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
Artinya, “Sungguh, Allah menyukai orang yang bertobat dan menyukai orang yang menyucikan diri,” (Surat Al-Baqarah ayat 222).
Banyak riwayat yang menganjurkan kita untuk bertobat kepada Allah. Pintu tobat selalu terbuka 24 jam. Allah sangat murah hati dan penyayang, selalu membuka pintu tobat-Nya:
عَنْ أَبِي مُوْسَى عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوْبَ مُسِيْءُ النَّهَارِ وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوْبَ مُسِيْءُ اللَّيْلِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا
Artinya, “Dari sahabat Abu Musa as dari Nabi Muhammad saw, ia bersabda, ‘Sungguh, Allah SWT membuka tangan-Nya pada malam hari agar pendosa di siang hari dapat bertobat dan menggelar tangan-Nya pada siang hari agar pendosa di malam hari dapat bertobat sampai matahari terbit dari tempat tenggelamnya,’” (HR Muslim).
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,
Allah sangat murah hati dalam urusan tobat. Dia selalu menunggu kita untuk menghadap dan bersimpuh di hadapan-Nya, mengakui dosa-dosa kita, baik sengaja maupun tidak. Allah tidak peduli seberapa banyak dan besar dosa kita.
Nabi Muhammad SAW menggambarkan betapa murah hatinya Allah menerima tobat hamba-Nya. Dalam sebuah hadits, Nabi menyebutkan bahwa Allah akan menerima tobat manusia sebesar apapun dosanya:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَوْ أَخْطَأْتُمْ حَتَّى تَبْلُغَ السَّمَاءَ ثُمَّ تُبْتُمْ لَتَابَ عَلَيْكُمْ
Artinya, “Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi Muhammad saw, ia bersabda, ‘Andai kalian keliru hingga mencapai langit, lalu kalian bertobat, niscaya Ia akan menerima tobat kalian,’” (HR Ibnu Majah).
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,
Seperti yang dijelaskan dalam Surat Al-Baqarah ayat 222, Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan memohon ampunan. Allah senang kepada hamba-Nya yang beristighfar dan bersimpuh memohon ampunan.
Dalam hadits riwayat Muslim, Rasulullah SAW menjelaskan betapa senangnya Allah dengan istighfar dan permohonan ampun hamba-Nya. Bahkan Allah akan membinasakan satu generasi manusia yang tidak pernah memohon ampun karena merasa tidak berdosa, lalu menggantinya dengan generasi baru yang berdosa dan memohon ampunan-Nya.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللَّهُ بِكُمْ وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ فَيَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ
Artinya, “Dari Abu Hurairah ra, ia berkata, Rasulullah saw bersabda, ‘Demi Allah yang diriku berada di tangan-Nya, andai kalian tidak berdosa, niscaya Allah akan membinasakan kalian dan mengganti kalian dengan kaum baru yang berdosa, lalu meminta ampun, dan akhirnya Allah mengampuni mereka,’” (HR Muslim).
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,
Sebagai penutup khutbah ini, khatib ingin mengutip hadits riwayat Imam At-Thabarani tentang pentingnya memperbaiki diri dan bertekad tidak mengulangi dosa masa lalu:
عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَحْسَنَ فِيْمَا بَقِيَ غُفِرَ لَهُ مَا مَضَى وَمَنْ أَسَاءَ فِيْمَا بَقِيَ أُخِذَ بِمَا مَضَى وَمَا بَقِيَ الطَّبَرَانِي
Artinya, “Dari sahabat Abu Dzar ra, ia berkata, Rasulullah saw bersabda, ‘Siapa saja yang berbuat baik pada sisa usianya, niscaya diampuni dosanya yang telah lalu. Tetapi siapa yang berdosa pada sisa umurnya, niscaya disiksa perbuatan dosanya yang telah lalu dan dosa pada sisa usianya,’” (HR At-Thabarani).
Semoga Allah memberikan kita kesempatan dan kemudahan untuk bersimpuh di hadapan-Nya, mengakui dosa-dosa, dan memohon ampunan-Nya. Yakinlah, pintu tobat Allah selalu terbuka lebar.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ بِاْلقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلاٰيَاتِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. اَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II¶
Alhamdulillahi ‘ala ihsanihi was syukru lahu ‘ala taufiqihi wa imtinanihi. Wa asyhadu alla ilaha illallahu wahdahu laa syarikalah, wa ashhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rosuluh adda’i ila ridwanihi. Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi washohbihi wasallim taslima katsiraa amma ba’du : fayaa ayyuhannaas ittaqullooha fiimaa amar wa antahu ‘ammaa nahaa, wa’lamuu annallooha amarakum bi amrin bada’a fiihi binafsihi wa tana bi malaaikatihi biqudsihi wa qola ta’ala innallooha wa malaaikatahuu yusholluuna ‘alannabiy yaa ayyuhalladzina amanuu sholluu ‘alaihi wasallimuu tasliima. Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallim wa ‘ala ali sayyidina Muhammad wa ‘ala ambiyaaika wa rusulika wa malaikatil muqorrobin war dhollahu ‘anil khulafaur rosyidin abi bakrin wa ‘umar wa ‘utsman wa ‘ali wa ‘an baqiyyatish shohabati wattabi’in wa tabi’it tabi’in lahum bi ihsanin ila yaumiddin war dhollahu ‘anna ma’ahum bi rohmatika yaa arhamarrahimin. Allahummaghfir lil mukminiina wal mukminaat wal muslimiina wal muslimaat al ahyaa’i minhum wal amwaat Allahumma a’izzal islam wal muslimiin wa adzillasy syirka wal musyrikin wanshur ‘ibaadaka al muwahhidiya wa ansur man nasoro diina wakdzul man khadzala muslimin wa dammir a’da’addiin wa a’li kalimaatika ila yaumiddiin. Allahumma adfi’ ‘annal balaa’ wal wabaa’ wal zalaazila wal mihana wa suu’al fitnati wal mihan maa zhoharo minhaa wa maa bathon ‘an baladinaa indonesia khossotan wa saa’iril buldaanil muslimiina aammatan yaa rabbal ‘alamiin. Robbana atina fiddunya hasanah wa fil akhiroti hasanah waqinaa ‘adzaabannaar. Robbana dzolamna anfusana wa inlam taghfir lana watarhamna lanakuunanna minal khoosirin. ‘Ibadallah! Innallaha ya’muru bil ‘adli wal ihsaani wa iitaa’i dzil qurbaa wa yanha ‘anil fahsyaa’i wal munkari wal baghyi ya’idzukum la’allakum tadzakkaruun wa dzkurullahhal ‘azhiim yadzkurkum wasykuruuhu ‘ala ni’amihi yazidkum waladzikrullahi akbar.
Khutbah Jumat Bulan Syaban: Nisfu Syaban, Momen Peningkatan Kualitas dan Kuantitas Ibadah¶
Khutbah I¶
Alhamdulillahi robbil ‘alamin, alladzi an’amanaa bini’matil iiman wal islam. Was sholatu was salamu ‘ala sayyidina Muhammad khoiril anaam. Wa ‘ala alihi wa ashhabihil kiroom. Asyhadu alla ilaaha illallah al malikul qudduusussalam, wa asyhadu anna sayyidana wa habibana Muhammadan ‘abduhu wa rosuluh sohibus syafa’ati wal ihtiram amma ba’du: fayaa ayyuhal mu’minuun, ittaqulloha haqqa tuqootihi walaa tamuutunna illa wa antum muslimuun. Qoolallahu ta’ala: qul inna sholati wa nusuki wamahyaa ya wamamati lillahi robbil ‘alamiin. Laa syariika lahuu wa bidzalika umirtu wa ana awwalul muslimiin. shodaqollahul ‘azhiim.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Alhamdulillah, kita sudah di bulan Syaban. Bulan ini punya banyak peristiwa bersejarah bagi umat Islam. Salah satunya, peralihan arah kiblat ke Ka’bah. Di bulan ini juga turun ayat perintah bershalawat kepada Nabi, QS al-Ahzab: 56. Syaban juga punya malam spesial, Nisfu Syaban.
Malam Nisfu Syaban tahun ini jatuh pada hari Kamis, 13 Februari 2025, dan hari Nisfu Syabannya pada Jumat, 14 Februari 2025.
Hadirin shalat Jumat hafidhakumullah,
Keutamaan malam Nisfu Syaban terletak pada malamnya, bukan harinya. Banyak janji dan ganjaran bagi yang menghidupkan malam Nisfu Syaban dengan ibadah.
Kesempatan kali ini, khatib akan membahas hadits, pendapat ulama, dan kebiasaan ulama salaf dalam memaksimalkan malam Nisfu Syaban. Pertama, hadits riwayat Ibnu Majah tentang keutamaan menghidupkan malam Nisfu Syaban:
إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقُوْمُوْا لَيْلَهَا وَصُوْمُوْا يَوْمَهَا، فَإِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَنْزِلُ فِيْهَا لِغُرُوْبِ الشَّمْسِ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا، فَيَقُوْلُ: أَلاَ مِنْ مُسْتَغْفِرٌ فَأَغْفِرَ لَهُ، أَلاَ مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ، أَلاَ مُبْتَلًى فَأُعَافِيَهُ، أَلاَ كَذَا أَلاَ كَذَا حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ
Artinya: “Jika malam Nisfu Syaban tiba, maka hidupkanlah malamnya dengan ibadah dan puasalah di siang harinya. Karena sesungguhnya Allah turun pada malam itu sejak matahari terbenam ke langit dunia, lalu Dia berfirman: ‘Adakah orang yang memohon ampun, maka Aku akan ampuni? Adakah orang yang meminta rezeki, maka Aku akan berikan rezeki? Adakah orang yang tertimpa musibah, maka Aku akan selamatkan?’ (Allah terus berfirman demikian) sampai terbitnya fajar.” (HR. Ibnu Majah)
Hadits ini mengajarkan kita untuk memaksimalkan malam Nisfu Syaban dengan ibadah. Ini juga menjadi teladan dari Rasulullah SAW.
Hadirin hafidhakumullah,
Untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah, khususnya di bulan Syaban, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan. Pertama, tingkatkan kesadaran dan kecintaan kepada Allah SWT. Kalau cinta sudah tertanam di hati, ibadah bukan lagi kewajiban, tapi kebutuhan. Ibadah akan terasa tulus dan ikhlas karena Allah.
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (162) لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ (163)
Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Itulah yang diperintahkan kepadaku. Aku adalah orang yang pertama dalam kelompok orang muslim.’“
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Nisfu Syaban juga bisa jadi momen untuk memperdalam ilmu agama, agar ibadah kita lebih berkualitas. Ilmu akan mengangkat derajat kita. Ulama berilmu lebih utama daripada ahli ibadah yang tidak berilmu. Rasulullah SAW bersabda:
وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ
Artinya: Rasulullah saw bersabda: “Keutamaan orang yang berilmu (yang mengamalkan ilmunya) atas orang yang ahli ibadah adalah seperti utamanya bulan di malam purnama atas semua bintang-bintang lainnya.”
Selain rohani, persiapkan juga fisik kita menyambut Ramadhan. Jaga kesehatan agar ibadah di bulan suci bisa maksimal. Bulan Syaban, dari kata syi’ab (jalan di atas gunung), menggambarkan persiapan fisik untuk mendaki jalan terjal menuju Ramadhan. Latihan fisik bisa dengan mulai berpuasa di bulan Syaban.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Yang terpenting dari semua persiapan ini adalah menata niat. Niat yang baik adalah fondasi ibadah berkualitas. Ibadah sebanyak apapun, tanpa niat yang benar, akan sia-sia. Niatkan semua ibadah hanya karena Allah SWT, lillahi ta’ala.
Ibadah itu seperti angka 0. Sebanyak apapun nol berderet, tidak ada nilainya tanpa angka 1 di depannya. Angka 1 itu adalah niat. Ibadah kita bernilai dan bermakna jika diawali dengan niat yang ikhlas.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Semoga di bulan Syaban ini kita bisa meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah, dan semoga ibadah kita diterima Allah SWT.
اَللّٰهُمَّ سَلِّمْنِيْ لِرَمَضَانَ، وَسَلِّمْ رَمَضَانَ لِيْ، وَتَسَلَّمْهُ مِنِّيْ مُتَقَبَّلًا
Artinya, “Ya Allah, sampaikan aku ke bulan Ramadhan, dan sampaikanlah Ramadhan kepadaku, dan terimalah amal-amalku di bulan Ramadhan. Amin.”
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. اَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.
Khutbah II¶
Alhamdulillahi hamdan katsiroon kamaa amar, Asyhadu alla ilaha illallohu wahdahu laa syariikalah, iqrooron liman jahada bihi wa kafar, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rosuluh, sayyidul kholaiqi wal basyar. Alloohumma sholli wa sallim ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wasallim tasliiman katsiroo amma ba’du: fayaa ibaadalloh ittaqullooha haqqo tuqootih walaa tamuutunna illa wa antum muslimuun. Wattaqullooha walau bisyiqqi tamroh. Innallooha amarakum bi amrin bada’a fiihi binafsihi wa thanaa bi malaaikatihi al musabbihah bi qudsihi, wa ayyuhal mu’minuuna min jinnih wa insih, faqoolaa qoolan kariima: Innalloha wa malaaikatahuu yusholluuna ‘alannabiy yaa ayyuhalladzina amanuu sholluu ‘alaihi wasallimuu tasliima. Allohumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallim wa ‘ala ali sayyidina Muhammad wa ‘ala anbiyaiika wa rusulika wa malaikatika al muqorrobiin war dhollahu ‘anil khulafaa’ir rosyidiin, abi bakrin wa ‘umar wa ‘utsman wa ‘ali wa ‘an baqiyyatish shohabati wattabi’in wa tabi’it tabi’iin lahum bi ihsanin ila yaumiddin war dhollahu ‘anna ma’ahum bi rohmatika yaa arhamarroohimiin. Alloohummaghfir lil mukminiina wal mukminaat wal muslimiina wal muslimaat, al ahyaa’i minhum wal amwaat. Alloohumma a’izzal islaam wal muslimiin, wa adzillasy syirka wal musyrikiin, wanshur ‘ibaadaka al muwahhidiin, wanshur man nasoro diin, wakdzul man khadzala diin, wa dammir a’daa’addiin, wa a’li kalimaatika ila yaumiddiin. Alloohumma adfi’ ‘annal balaa’ wal wabaa’ wal gholaa’ war ribaa waz zalaazil wal mihana wa suu’al fitnati maa zhoharo minhaa wa maa bathon ‘an baladinaa indonesia khossotan wa saa’iril buldaanil muslimiina aammatan yaa robbal ‘aalamiin. Robbana atina fiddunya hasanah wa fil aakhiroti hasanah waqinaa ‘adzaabannaar.
Khutbah Jumat Bulan Syaban: Bulan Syaban, Momen Bersimpuh Mohon Ampunan Allah¶
Khutbah I¶
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى خَاتَمِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهٖ وَأَصْحَابِهٖ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى : إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah.
Pada kesempatan ini, khatib mengajak kita semua untuk bersyukur kepada Allah SWT atas segala nikmat dan karunia-Nya. Tak lupa, mari kita haturkan shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad SAW atas perjuangan dakwahnya.
Di bulan Syaban yang mulia ini, mari kita kembali dan bertobat kepada Allah. Bulan yang baik ini adalah waktu yang tepat untuk merendahkan diri dan memohon ampunan atas segala dosa dan kesalahan kita.
Allah SWT dalam Surat Al-Baqarah ayat 222 menyampaikan bahwa Dia menyukai orang-orang yang bertobat dan membersihkan diri:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
Artinya, “Sungguh, Allah menyukai orang yang bertobat dan menyukai orang yang menyucikan diri,” (Surat Al-Baqarah ayat 222).
Banyak riwayat yang menganjurkan kita untuk bertobat kepada Allah. Pintu tobat Allah selalu terbuka 24 jam. Allah sangat pemurah dan penyayang, selalu membuka pintu ampunan-Nya:
عَنْ أَبِي مُوْسَى عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوْبَ مُسِيْءُ النَّهَارِ وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوْبَ مُسِيْءُ اللَّيْلِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا
Artinya, “Dari sahabat Abu Musa as dari Nabi Muhammad saw, ia bersabda, ‘Sungguh, Allah swt membuka tangan-Nya pada malam hari agar pendosa di siang hari dapat bertobat dan menggelar tangan-Nya pada siang hari agar pendosa di malam hari dapat bertobat sampai matahari terbit dari tempat tenggelamnya,’” (HR Muslim).
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,
Allah sangat pemurah dalam hal tobat. Dia selalu menunggu kita untuk bersimpuh di hadapan-Nya, mengakui dosa-dosa kita, baik disengaja maupun tidak. Allah tidak peduli seberapa banyak dan besar dosa kita.
Nabi Muhammad SAW menggambarkan kemurahan Allah SWT dalam menerima tobat manusia. Dalam haditsnya, Nabi menyebutkan bahwa Allah akan menerima tobat manusia sebesar apapun dosanya:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَوْ أَخْطَأْتُمْ حَتَّى تَبْلُغَ السَّمَاءَ ثُمَّ تُبْتُمْ لَتَابَ عَلَيْكُمْ وَصَحِيْحُ سُنَنِ ابْنِ مَاجَه
Artinya, “Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi Muhammad saw, ia bersabda, ‘Andai kalian keliru hingga mencapai langit, lalu kalian bertobat, niscaya Ia akan menerima tobat kalian,’” (HR Ibnu Majah).
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,
Seperti yang dijelaskan dalam Surat Al-Baqarah ayat 222, Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan memohon ampunan kepada-Nya. Allah senang kepada hamba-Nya yang beristighfar dan bersimpuh memohon ampunan-Nya.
Dalam hadits riwayat Muslim, Rasulullah SAW menjelaskan kesenangan Allah pada istighfar dan permohonan ampun hamba-Nya. Bahkan Allah akan membinasakan manusia satu generasi yang tidak memohon ampun karena tidak memiliki dosa, dan menggantinya dengan generasi baru yang akan memohon ampunan-Nya.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللَّهُ بِكُمْ وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ فَيَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ
Artinya, “Dari Abu Hurairah ra, ia berkata, Rasulullah saw bersabda, ‘Demi Allah yang diriku berada di tangan-Nya, andai kalian tidak berdosa, niscaya Allah akan membinasakan kalian dan mengganti kalian dengan kaum baru yang berdosa, lalu meminta ampun, dan akhirnya Allah mengampuni mereka,’” (HR Muslim).
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,
Sebagai penutup khutbah singkat ini, khatib mengutip hadits riwayat Imam At-Thabarani tentang pentingnya memperbaiki diri dengan niat dan tekad untuk tidak mengulang dosa masa lalu:
عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَحْسَنَ فِيْمَا بَقِيَ غُفِرَ لَهُ مَا مَضَى وَمَنْ أَسَاءَ فِيْمَا بَقِيَ أُخِذَ بِمَا مَضَى وَمَا بَقِيَ الطَّبَرَانِي
Artinya, “Dari sahabat Abu Dzar ra, ia berkata, Rasulullah saw, ‘Siapa saja yang berbuat baik pada sisa usianya, niscaya diampuni dosanya yang telah lalu. Tetapi siapa yang berdosa pada sisa umurnya, niscaya disiksa perbuatan dosanya yang telah lalu dan dosa pada sisa usianya,’” (HR At-Thabarani).
Demikian khutbah Jumat ini, semoga Allah memberikan kita kesempatan untuk bersimpuh merendahkan diri di hadapan-Nya, mengakui dosa, dan memohon ampunan-Nya. Yakinlah, pintu tobat Allah selalu terbuka lebar.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ بِاْلقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلاٰيَاتِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. اَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II¶
Alhamdulillahi hamdan katsiron kamaa amar, asyhadu alla ilaha illallahu wahdahu la syarikalah, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rosuluh. Allahumma sholli wa sallim ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in. Amma ba’du: fayaa ayyuhannaas ittaqullooha fiimaa amar wa antahu ‘ammaa nahaa, wa’lamuu annallooha amarakum bi amrin bada’a fiihi binafsihi wa thanaa bi malaaikatihi biqudsihi wa qola ta’ala innallooha wa malaaikatahuu yusholluuna ‘alannabiy yaa ayyuhalladzina amanuu sholluu ‘alaihi wasallimuu tasliima. Allohumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallim wa ‘ala ali sayyidina Muhammad wa ‘ala ambiyaaika wa rusulika wa malaikatika al muqorrobin war dhollahu ‘anil khulafaa’ir rosyidiin, abi bakrin wa ‘umar wa ‘utsman wa ‘ali wa ‘an baqiyyatish shohabati wattabi’in wa tabi’it tabi’iin lahum bi ihsanin ila yaumiddin war dhollahu ‘anna ma’ahum bi rohmatika yaa arhamarroohimiin. Alloohummaghfir lil mukminiina wal mukminaat wal muslimiina wal muslimaat, al ahyaa’i minhum wal amwaat. Alloohumma a’izzal islam wal muslimiin, wa adzillasy syirka wal musyrikiin, wanshur ‘ibaadaka al muwahhidiin, wanshur man nasoro diin, wakdzul man khadzala diin, wa dammir a’daa’addiin, wa a’li kalimaatika ila yaumiddiin. Alloohumma adfi’ ‘annal balaa’ wal wabaa’ wal gholaa’ war ribaa waz zalaazil wal mihana wa suu’al fitnati maa zhoharo minhaa wa maa bathon ‘an baladinaa indonesia khossotan wa saa’iril buldaanil muslimiina aammatan yaa robbal ‘aalamiin. Robbana atina fiddunya hasanah wa fil aakhiroti hasanah waqinaa ‘adzaabannaar.
Khutbah Jumat Bulan Syaban: Bulan Syaban, Waktunya Menyiram¶
Khutbah I¶
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, alhamdulillahi rabbil ‘alamin alladzi fadholana bi liqo’i syahri sya’ban, hadza syahrun yumkinu fihi an nastakmilahu li nailil barokati war ridlwan. Allahumma sholli wasallim ‘ala sayyidina Muhammad alladzi anzalahullahu ilaihi bi jamii’i anwaa’i dalaaili wal burhan, wa ‘ala alihi washohbihi alladziina naaluu al barokati wal ‘irfan. Amma ba’du fayaa ‘ibaadallah, ushiikum nafsi wa iyyaakum bitaqwallah, faqod faazal muttaquun faqod qoolallahu ta’ala fi kitaabihil kariim: wal ‘ashr, innal insaana lafii khusr, illalladziina amanuu wa ‘amilush sholihaati watawaasau bil haqqi watawaasau bis shobr.
Hadirin jamaah shalat Jumat hafidhakumullah,
Saya berwasiat kepada diri sendiri dan hadirin sekalian untuk meningkatkan takwa kepada Allah SWT, dengan selalu menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Hari ini, atas izin Allah, kita berada di bulan Syaban, bulan yang terletak antara Rajab dan Ramadhan. Bulan Syaban ini disebut khusus dalam doa Rasulullah SAW, diriwayatkan dari Anas bin Malik:
اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ، وَشَعْبَانَ، وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ
Artinya: “Ya Allah, semoga Engkau berkahi kami di bulan Rajab dan Syaban, dan sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan”.
Bulan Rajab sudah kita lewati, bulan bercocok tanam. Sekarang di bulan Syaban ini waktunya merawat dan menyiram tanaman. Bulan Ramadhan nanti adalah bulan memanen. Bagaimana bisa panen ibadah kalau kita tidak mulai menanam dan merawatnya dari sekarang? Imam Dzun Nun al-Mishri berkata,
رَجَبٌ شَهْرُ الزَّرْعِ، وَشَعْبَانُ شَهْرُ السَّقْيِ، وَرَمَضَانُ شَهْرُ الْحَصَادِ، وَكُلٌّ يَحْصُدُ مَا زَرَعَ، فَمَنْ ضَيَّعَ الزَّرْعَ نَدِمَ يَوْمَ الْحَصَادِ
Artinya: “Rajab adalah bulan menanam, Syaban bulan menyiram, dan Ramadhan bulan memanen. Setiap orang akan memanen atas apa yang ia tanam. Barangsiapa yang menyia-nyiakan tanaman akan merugi di waktu panen.”
Biasanya, orang lebih memperhatikan bulan Rajab karena termasuk bulan mulia, dan Ramadhan karena bulan yang paling utama. Akibatnya, banyak yang bermalas-malasan di bulan Syaban. Padahal ini kurang tepat.
Bermalas-malasan di bulan Syaban berarti tidak menyirami tanaman yang sudah ditanam di bulan Rajab. Ini bisa membuat ibadah di bulan Ramadhan kurang semangat karena tidak dirawat dengan baik. Salah satu hal penting yang sering dilupakan di bulan Syaban adalah berpuasa. Sayyidah Aisyah RA pernah bercerita:
لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُوْمُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ فَإِنَّهُ كَانَ يَصُوْمُ شَعْبَانَ كُلَّهُ
Artinya: “Nabi Muhammad tidak pernah melakukan puasa bulanan (selain Ramadhan) lebih banyak dari pada bulan Syaban. Sesungguhnya beliau puasa sebulan penuh. (Muttafaq alaih).”
Dalam riwayat lain dari Sunan an-Nasa’i, Rasulullah SAW ditanya Usamah bin Zaid:
يَا رَسُوْلَ اللهِ لَمْ أَرَكَ تَصُوْمُ شَهْرًا مِنَ الشُّهُوْرِ مَا تَصُوْمُ مِنْ شَعْبَانَ؟ قَالَ: ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيْهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِيْنَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِيْ وَأَنَا صَائِمٌ
Artinya: “Wahai Rasul, saya tidak pernah melihat anda berpuasa di antara bulan-bulan sebagaimana anda melakukan puasa pada bulan Syaban. Kemudian Rasulullah menjawab, ‘Syaban itu merupakan bulan yang dilupakan banyak manusia antara bulan Rajab dan Ramadhan. Di bulan itu, amal-amal dilaporkan kepada Allah Tuhan semesta alam. Aku suka jika amalku dilaporkan sedang aku dalam keadaan berpuasa’.”
Hadirin hafidhakumullah,
Jangan takut sebelum berperang. Setan sering membisiki hal-hal menakutkan, seperti “Jangan puasa Syaban, kamu tidak akan kuat,” dan lain-lain. Itu semua godaan untuk melemahkan niat kita. Bulatkan niat karena Allah, sertai dengan tawakal, Insya Allah kita bisa menjalaninya dengan baik.
Ketakutan ini mirip dengan kekhawatiran Nabi Musa dan Nabi Harun saat diperintah mendatangi Fir’aun. Mereka berkata:
إِنَّنَا نَخَافُ أَنْ يَفْرُطَ عَلَيْنَا أَوْ أَنْ يَطْغَى
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami khawatir bahwa ia segera menyiksa kami atau akan bertambah melampaui batas.”
Allah kemudian menjawab:
قَالَ لَا تَخَافَا إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَى
“Allah berfirman, ‘Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat’.” (QS Thaha: 45-46)
Hadirin, Rasulullah menjelaskan bahwa Syaban adalah bulan yang dilupakan banyak manusia.
ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ
“Syaban itu merupakan bulan yang dilupakan banyak manusia”.
Maka, jangan sampai kita ikut-ikutan lupa. Di bulan Syaban ini, mari kita hidupkan malam-malamnya dengan bangun di sepertiga malam terakhir, saat orang-orang terlelap tidur. Dekatkan diri kepada Allah, ketuk pintu rahmat-Nya, merendahkan hati, dan memohon petunjuk di tengah kesesatan.
Selain itu, di waktu mustajab antara Maghrib dan Isya’, jangan sampai kita ikut lupa. Isi waktu tersebut dengan ibadah, membaca Al-Qur’an, dan mengajari keluarga.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ الْبَرُّ الرَّءُوْفُ الرَّحِيْمُ وَاَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اِنَّا اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ، وَمَا اَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ، لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍ، تَنَزَّلُ الْمَلٰئِكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِإِذْنِ رَّبِّهِمْ مِّنْ كُلِّ اَمْرٍ، سَلَامٌ هِيَ حَتّٰى مَطْلَعِ الْفَجْرِ. وَقُلْ رَّبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرّٰحِمِيْنَ
Khutbah II¶
Alhamdulillahi ‘ala ihsaanihi was syukru lahu ‘ala taufiqihi wam tinanihi. Wa asyhadu alla ilaha illallahu wahdahu laa syariikalah wa ashhadu anna sayyidana Muhammadan ‘abduhu wa rasuluhu adda’i ila ridwanihi. Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi washohbihi wasallim tasliiman katsiroo amma ba’du : fayaa ayyuhannaas ittaqullooha fiimaa amar wa antahu ‘ammaa nahaa, wa’lamuu annallooha amarakum bi amrin bada’a fiihi binafsihi wa tana bi malaaikatihi biqudsihi wa qola ta’ala innallooha wa malaaikatahuu yusholluuna ‘alannabiy yaa ayyuhalladzina amanuu sholluu ‘alaihi wasallimuu tasliima. Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallim wa ‘ala ali sayyidina Muhammad wa ‘ala ambiyaaika wa rusulika wa malaikatil muqorrobin war dhollahu ‘anil khulafaur rosyidin abi bakrin wa ‘umar wa ‘utsman wa ‘ali wa ‘an baqiyyatish shohabati wattabi’in wa tabi’it tabi’in lahum bi ihsanin ila yaumiddin war dhollahu ‘anna ma’ahum bi rohmatika yaa arhamarrahimin. Allahummaghfir lil mukminiina wal mukminaat wal muslimiina wal muslimaat al ahyaa’i minhum wal amwaat Allahumma a’izzal islam wal muslimiin wa adzillasy syirka wal musyrikin wanshur ‘ibaadaka al muwahhidiya wa ansur man nasoro diina wakdzul man khadzala muslimin wa dammir a’da’addiin wa a’li kalimaatika ila yaumiddiin. Allahumma adfi’ ‘annal balaa’ wal wabaa’ wal gholaa’ war ribaa waz zalaazila wal mihana wa suu’al fitnati wal mihan maa zhoharo minhaa wa maa bathon ‘an baladinaa indonesia khossotan wa saa’iril buldaanil muslimiina aammatan yaa rabbal ‘alamiin. Robbana atina fiddunya hasanah wa fil akhiroti hasanah waqinaa ‘adzaabannaar. Robbana dzolamna anfusana wa inlam taghfir lana watarhamna lanakuunanna minal khoosirin. ‘Ibadallah! Innallaha ya’muru bil ‘adli wal ihsaani wa iitaa’i dzil qurbaa wa yanha ‘anil fahsyaa’i wal munkari wal baghyi ya’idzukum la’allakum tadzakkaruun wa dzkurullahhal ‘azhiim yadzkurkum wasykuruuhu ‘ala ni’amihi yazidkum waladzikrullahi akbar.
Khutbah Jumat Bulan Syaban: Mendaki Ridha Allah di Bulan Syaban¶
Khutbah I¶
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى نِعَمِهِ فِيْ شَهْرِ شَعْبَانَ، اَلَّذِيْ جَعَلَنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ الْكَامِلِيْنَ، وَأَمَرَنَا بِاتِّبَاعِ سَبِيْلِ الْمُؤْمِنِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً مِنْ هُوَ خَيْرُ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الصَّادِقُ الْوَعْدِ الْأَمِيْنُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهٖ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا جَمَاعَةَ الْحَاضِرِيْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، وَكُوْنُوْا مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ الصَّادِقِيْنَ، وَاعْلَمُوْا رَحِمَكُمُ اللهُ أَنَّ لِلْإِيْمَانِ شُعَبٌ، فَدُوْنَكُمْ مِنْهَا مَا نَطَقَ بِهِ الْقُرْآنُ، وَمَا بَيَّنَهُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “اَلْمُؤْمِنُ حَقًّا إِذَا ذُكِرَ اللهُ وَجِلَتْ قَلْبُهُ وَخَشَعَتْ نَفْسُهُ، وَفَاضَتْ عَيْنُهُ، مَنْ إِذَا سَمِعَ الْقُرْآنَ ثَلَجَ صَدْرُهُ وَزَادَ إِيْمَانُهُ، وَعَلَى يَقِيْنِهِ، مَنْ يَعْتَمِدُ عَلَى رَبِّهِ فِيْ نَوَالِ غَايَتِهِ، بَعْدَ أَنْ بَذَلَ جَهْدَهُ فِيْ سَبِيْلِ حَاجَتِهِ، اَلْمُؤْمِنُ حَقًّا مَنْ آمَنَ بِكُلِّ مَا جَاءَ بِهِ الْقُرْآنُ، إِيْمَانًا لَايَخْلُطُهُ شَكٌّ وَارْتِيَابٌ، وَجَاهَدَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فِيْ نُصْرَةِ الدِّيْنِ وَإِقَامَةِ الْحَقِّ الْمُبِيْنِ، اَلْمُؤْمِنُ حَقًّا لَايَسْتَطِيْعُ لِلشَّيْطَانِ عَلَى نَفْسِهِ، وَأَنَّهُ إِيْمَانُ الْمَرْءِ يَزِيْدُ بِالطَّاعَاتِ وَيَنْقُصُ بِالْمَعْصِيَةِ.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Di awal bulan Syaban ini, mari kita perkokoh iman dan takwa. Mumpung masih ada waktu, ada bulan Syaban yang penuh keutamaan.
Kata “Syaban” dari syi’ab berarti jalan setapak menuju puncak. Bulan Syaban adalah bulan persiapan dari Allah untuk kita, untuk menapaki dan menjelajahi keimanan kita sebagai persiapan menuju puncak Ramadhan.
Mendaki gunung tidaklah mudah, butuh persiapan yang melelahkan dan menguras energi. Mendaki puncak Syaban juga butuh kesungguhan hati dan niat yang suci. Mendaki itu sulit dan payah, tapi kepayahan itu akan terasa saat kita berpuasa Syaban, sebagai persiapan menyambut Ramadhan.
Ma’asyiral mu’minin rahimakumullah,
Mendaki puncak di bulan Syaban juga bisa dengan banyak beristighfar dan memohon ampunan atas dosa-dosa kita, baik dosa yang terlihat maupun dosa hati yang tersembunyi. Dosa hati seperti ujub, riya, sum’ah, dan takabur, terkadang lebih menumpuk dari dosa perbuatan.
Coba renungkan an-Nahl ayat 78:
وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.”
Ayat ini mengingatkan kita bahwa semua anugerah di dunia ini—jabatan, kekuatan, kekayaan, kepandaian—adalah pemberian Allah. Awalnya, kita tidak tahu apa-apa.
Jika terbersit rasa memiliki dan ke-aku-an dalam hati, sadarlah itu kesombongan dan ketakaburan. Jika sampai menafikan Allah, segera bertobat. Allah mengancam orang-orang sombong dalam Surat Thaha ayat 124:
وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى
“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.”
Jadi, ma’asyiral Muslimin, wajib bagi kita untuk selalu bersujud dan berbakti kepada Allah setiap saat. Semakin tinggi pangkat, semakin banyak harta, semakin dalam sujud kita.
Sebagai penutup khutbah ini, mari kita manfaatkan bulan Syaban ini untuk mendaki ridha Allah dengan beramal saleh dan memohon ampunan-Nya. Semoga kita sampai di puncak Ramadhan sebagai insan yang siap beribadah kepada Sang Khaliq.
اَللّٰهُمَّ رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا، إِنَّهَا سَاءَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا، رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا، بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II¶
Alhamdulillahi ‘ala ihsanihi was syukru lahu ‘ala taufiqihi wa imtinanihi. Wa asyhadu alla ilaha illallahu wahdahu laa syariikalah wa ashhadu anna sayyidana Muhammadan ‘abduhu wa rosuluh adda’i ila ridwanihi. Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi washohbihi wasallim tasliiman katsiroo amma ba’du : fayaa ayyuhannaas ittaqullooha fiimaa amar wa antahu ‘ammaa nahaa, wa’lamuu annallooha amarakum bi amrin bada’a fiihi binafsihi wa tana bi malaaikatihi biqudsihi wa qola ta’ala innallooha wa malaaikatahuu yusholluuna ‘alannabiy yaa ayyuhalladzina amanuu sholluu ‘alaihi wasallimuu tasliima. Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallim wa ‘ala ali sayyidina Muhammad wa ‘ala ambiyaaika wa rusulika wa malaikatika al muqorrobin war dhollahu ‘anil khulafaur rosyidin abi bakrin wa ‘umar wa ‘utsman wa ‘ali wa ‘an baqiyyatish shohabati wattabi’in wa tabi’it tabi’iin lahum bi ihsanin ila yaumiddin war dhollahu ‘anna ma’ahum bi rohmatika yaa arhamarrahimin. Allahummaghfir lil mukminiina wal mukminaat wal muslimiina wal muslimaat al ahyaa’i minhum wal amwaat Allahumma a’izzal islam wal muslimiin wa adzillasy syirka wal musyrikin wanshur ‘ibaadaka al muwahhidiya wa ansur man nasoro diina wakdzul man khadzala muslimin wa dammir a’da’addiin wa a’li kalimaatika ila yaumiddiin. Allahumma adfi’ ‘annal balaa’ wal wabaa’ wal zalaazila wal mihana wa suu’al fitnati wal mihan maa zhoharo minhaa wa maa bathon ‘an baladinaa indonesia khossotan wa saa’iril buldaanil muslimiina aammatan yaa rabbal ‘alamiin. Robbana atina fiddunya hasanah wa fil akhiroti hasanah waqinaa ‘adzaabannaar. Robbana dzolamna anfusana wa inlam taghfir lana watarhamna lanakuunanna minal khoosirin. ‘Ibadallah! Innallaha ya’muru bil ‘adli wal ihsaani wa iitaa’i dzil qurbaa wa yanha ‘anil fahsyaa’i wal munkari wal baghyi ya’idzukum la’allakum tadzakkaruun wa dzkurullahhal ‘azhiim yadzkurkum wasykuruuhu ‘ala ni’amihi yazidkum waladzikrullahi akbar.
Khutbah Jumat Bulan Syaban: Makna, Filosofi dan Amalan Penting Bulan Syaban¶
Khutbah I¶
الحمد لله، الحمد لله الذي جعل شهر رمضان شهرا مباركا، كتب فيه الصيام وأنزل فيه القرآن هدى للناس وبينات من الهدى والفرقان. أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن سيدنا محمدا عبده ورسوله. اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين. أما بعد. فيا أيها الحاضرون اتقوا الله أوصيكم وإياي بتقوى الله وطاعته لعلكم تفلحون. قال الله تعالى في كتابه الكريم: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Hadirin Sidang Jum’at yang dimuliakan Allah,
Hari ini Jumat, 7 Februari 2025 atau 8 Syaban 1446 H. Orang Jawa menyebut Syaban dengan “Bulan Ruah” dari bahasa Arab Arwah, bentuk jamak dari Ruh. Di bulan Syaban, umat Islam membersihkan ruh untuk menyambut Ramadhan dengan istighfar, shalawat, puasa sunnah, dan amalan lainnya. Asal makna Syaban adalah kumpul, karena dulu di bulan ini orang Arab mengumpulkan senjata dan perbekalan perang.
Hadirin sidang Jum’at yang dimuliakan Allah,
Banyak amalan penting di bulan Syaban yang sering dilupakan. Rasulullah SAW bersabda,
عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنَ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ قَالَ ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبَ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
Artinya: Usamah bin Zaid berkata, aku bertanya kepada Rasulullah, “Saya tidak pernah melihat baginda Rasulullah melakukan puasa di bulan-bulan lain sebanyak puasa di bulan Syaban”. Nabi saw menjawab, “Bulan Syaban adalah bulan yang (kemuliaannya) dilupakan orang, karena letaknya antara bulan Rajab dan bulan Ramadhan”. Bulan Syaban adalah bulan di mana amal manusia dilaporkan ke hadirat Allah. Saya pingin, ketika amalku dilaporkan, saya dalam keadaan puasa.”
Ulama menyebut, Syaban adalah waktu yang pas untuk puasa sunnah sebagai pemanasan sebelum Ramadhan, berdasarkan hadits dari Aisyah RA:
Diriwayatkan Aisyah RA berkata, “Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW melakukan puasa satu bulan penuh kecuali puasa bulan Ramadhan dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa sunah melebihi (puasa sunah) di bulan Syaban.” (HR. al-Bukhari no. 1833).
Nabi Muhammad SAW puasa Syaban hampir sebulan penuh, bahkan sampai tanggal 27 atau 28 Syaban. Dalam riwayat lain dari Abu Hurairah RA, Rasul bersabda,
سُنَنُ أَبِي دَاوُد - (ج 6 / ص 265) عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُقَدِّمُوا الشَّهْرَ بِصِيَامِ يَوْمٍ وَلَا يَوْمَيْنِ إِلَّا أَنْ يَكُونَ شَيْءٌ يَصُومُهُ أَحَدُكُمْ
Artinya: “Janganlah kalian mendahului puasa Ramadhan satu hari atau dua hari, kecuali puasa yang biasa dilakukan seseorang (misalnya: qadha puasa Ramadlan), silahkan ia melakukan puasa tersebut”.
Hadirin sidang Jum’at yang dimuliakan Allah
Secara khusus, ulama mengingatkan agar kita melakukan amalan-amalan berikut di bulan Syaban:
-
Bersih-bersih diri, dengan:
- Memperbanyak Istighfar. Rasulullah saja, manusia sempurna, sehari semalam istighfar lebih dari 70 kali.
- Memperbanyak shalawat. Ayat perintah shalawat turun di bulan Syaban.
- Membayar hutang kepada Allah (Nadzar, Kafarat, Qadha Puasa), dll.
- Meminta maaf kepada sesama dan melunasi hutang.
- Ziarah kubur dengan menjaga adabnya.
-
Bersih-bersih lingkungan, terutama Masjid/Mushalla, agar nyaman untuk ibadah Ramadhan.
-
Memahami ilmu tentang puasa (syarat, rukun, sunnah, dan hal-hal yang membatalkan puasa). Pentingnya ilmu agar ibadah diterima Allah.
-
Membayar Fidyah bagi yang tidak mampu puasa (orang tua, pekerja berat, sakit menahun).
-
Menunggu awal Ramadhan dan 1 Syawal dengan taat pada ketetapan Pemerintah.
Hadirin sidang Jum’at yang dimuliakan Allah
Penetapan awal Ramadhan dan hari Raya di Indonesia menggunakan tiga metode: rukyat, hisab astronomi, dan gabungan keduanya. NU menggunakan rukyat, Muhammadiyah menggunakan hisab, dan pemerintah (Kemenag) menggunakan gabungan rukyat dan hisab.
Sebagai warga negara yang baik, kita wajib patuh pada keputusan pemerintah terkait pelaksanaan ibadah Ramadhan dan Idul Fitri. Ini demi kekhusyukan ibadah, kebersamaan umat, dan menghindari perpecahan.
Semoga Allah SWT memberikan kita kesehatan, umur panjang, dan kekuatan untuk menjalankan ibadah Ramadhan, sehingga kita menjadi orang yang beruntung dan kembali dipertemukan dengan Ramadhan di tahun-tahun mendatang. Aamiin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
Khutbah II¶
نَحْمَدُ اللهَ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهٖ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهٖ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ الْأُمُوْرِ لِلْمُسْلِمِيْنَ بِمَا فِيْهِ صَلَاحُ الْإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ. عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ. أَقِيْمُوا الصَّلَاةَ.
Khutbah Jumat Bulan Syaban: Yang Dilakukan Nabi di Bulan Syaban¶
Khutbah I¶
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ، اَلْعَزِيْزِ الْغَفَّارِ، مُكَوِّرِ اللَّيْلِ عَلَى النَّهَارِ، تَذْكِرَةً لِأُوْلِي الْقُلُوْبِ وَالْأَبْصَارِ، وَتَبْصِرَةً لِذَوِي الْأَلْبَابِ وَالْإِعْتِبَارِ. أَشْهَدُ أَنْ لَّاۤ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ نُوْرِ الْأَنْوَارِ، وَعَلَى آلِهٖ وَصَحْبِهِ الْأَطْهَارِ. أَمَّا بَعْدُ
فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَى. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ فِيْ سُوْرَةِ الْبَقَرَةِ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
صَدَقَ اللهُ الْعَظِيْمُ
Ma’asyiral Muslimîn jamaah shalat Jumat hafidhakumullâh,
Pada kesempatan yang mulia ini marilah kita tingkatkan kualitas takwa kita, di antaranya dengan berusaha sungguh-sungguh untuk meningkatkan amal kebaikan di bulan Syaban. Di antara cara yang kita lakukan adalah meraih keberkahan di bulan Syaban dengan cara menekankan substansi puasa. Mengapa kita harus sungguh-sungguh meningkatkan amal kebaikan di bulan Syaban dengan cara menekankan substansi puasa?
Ini karena Syaban, bulan ke-8 dalam kalender Hijriyah adalah bulan yang mulia dan utama, yang mendapatkan perhatian Nabi Muhammad SAW. Rasulullah telah mengingatkan kepada kita tentang pentingnya bulan Syaban ini, yang banyak orang melupakannya atau tidak memperhatikannya. Dalam sebuah hadits disebutkan:
عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ! لَمْ أَرَكَ تَصُوْمُ شَهْرًا مِنَ الشُّهُوْرِ مَا تَصُوْمُ مِنْ شَعْبَانَ؟ قَالَ: ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ، بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيْهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِيْنَ؛ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِيْ وَأَنَا صَائِمٌ
Artinya: “Dari Usâmah bin Zaid ra. ia berkata: aku bertanya: Wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihat engkau (memperbanyak) berpuasa pada suatu bulan pun sebagaimana engkau berpuasa pada bulan Syaban? Beliau menjawab: (Syaban) itu adalah bulan di mana manusia melupakannya (tidak memperhatikannya), antara Rajab dan Ramadhan, padahal ia adalah bulan di mana diangkat dan dilaporkanlah semua amal perbuatan manusia kepada Tuhan semesta alam. Oleh karena itulah aku senang amalku akan dilaporkan ketika aku sedang berpuasa.” (HR. al-Nasâ‘î)*
Jama’ah shalat Jumat yang dimuliakan Allah,
Hadits di atas menunjukkan kepada kita mengenai kemuliaan bulan Syaban. Kemuliaan bulan Syaban ini tampak dari begitu perhatian Rasulullah memuliakannya dengan memperbanyak berpuasa Syaban. Syaban yang letaknya di antara bulan Rajab dan Ramadhan, justru banyak orang melupakannya atau tidak memberikan perhatian kepadanya. Padahal ia adalah bulan di mana semua amal perbuatan manusia diangkat dan dilaporkan kepada Tuhan semesta alam.
Begitu menyenangkan bila saat amal kita diangkat dan dilaporkan ke hadirat Allah SWT, sedang kita dalam keadaan berpuasa, melakukan amal kebaikan.
Jama’ah shalat Jumat yang dimuliakan Allah,
Hadits di atas pun menunjukkan kesunahan untuk menghidupkan waktu-waktu di mana banyak manusia terlena, dengan melakukan berbagai ketaatan dan kebaikan.
Oleh karena itu, di bulan Syaban ini kita disunnahkan untuk memperbanyak berpuasa Syaban, tentu saja bukan semata-mata berpuasa hanya menahan diri dari makan dan minum dan segala yang membatalkan puasa sejak fajar shadiq, waktu shalat subuh, sampai terbenamnya matahari, waktu shalat maghrib, tetapi betul-betul berusaha untuk mencapai esensi puasa itu sendiri, yaitu meninggalkan perkataan yang keji (qaul al-zûr) dan perbuatan kotor (maksiat).
Di era media sosial saat ini, terlebih lagi dalam menghadapi dinamika politik, yang dalam beberapa hari ke depan kita akan melaksanakan Pemilu Pilpres dan Pileg serentak tanggal 17 April 2019, kita harus berpuasa dari membuat status ataupun mengunggah dan membagikan postingan yang berisi caci maki, hoaks, fitnah ataupun ujaran kebencian (hate speach), karena merupakan perbuatan keji dan maksiat yang wajib dihindarkan.
Di era medsos ini kita harus bertobat, dengan menghentikan dan menjauhkan diri kita dari segala bentuk kemaksiatan dalam menggunakan smartphone dan medsos, dari segala keburukan dan kezaliman, terutama yang berkaitan dengan orang lain. Sebab kezaliman kita terhadap orang lain, bisa menjadikan amal kebaikan dan amal shalih kita hangus, habis dan justru menjadikan kita orang yang muflis (bangkrut).
Saudara-saudara kaum Muslimin yang dimuliakan Allah,
Sebagai penghujung khutbah ini, marilah di waktu yang istimewa ini di bulan Syaban yang penuh fadhilah ini, kita mendaki bersama dengan menjalankan berbagai amal shaleh dan meminta pengampunan atau maghfirah-Nya, sehingga kita akan sampai di puncak nanti sebagai insan yang siap menjalankan keinsaniahannya di depan Sang Khaliq
اَللّٰهُمَّ رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا، إِنَّهَا سَاءَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا، رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا، بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah II¶
نَحْمَدُ اللهَ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهٖ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهٖ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ الْأُمُوْرِ لِلْمُسْلِمِيْنَ بِمَا فِيْهِ صَلَاحُ الْإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ. عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
Khutbah Jumat Bulan Syaban: 10 Keutamaan Bulan Syaban dan Amalan yang Dianjurkan¶
Khutbah I¶
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَلْمَبْعُوْثُ بِالْهُدَى وَبَيَانِ، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوْا اللهَ إِنَّ اللهَ خَبِيْرٌ بِمَا تَعْمَلُوْنَ
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Marilah kita tingkatkan takwa kepada Allah SWT, dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Takwa adalah bekal terbaik untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.
Bulan Syaban adalah bulan mulia yang penuh keutamaan. Bulan ini menjadi persiapan menuju bulan suci Ramadhan. Banyak amalan sunnah yang dianjurkan di bulan Syaban, sebagai latihan dan pemanasan sebelum Ramadhan tiba.
10 Keutamaan Bulan Syaban:
-
Bulan yang Mulia dan Utama: Bulan Syaban adalah salah satu bulan yang dimuliakan dalam Islam.
-
Bulan yang Dilupakan: Banyak orang lalai dan melupakan keutamaan bulan Syaban, karena letaknya di antara Rajab dan Ramadhan.
-
Bulan Diangkatnya Amal: Di bulan Syaban, seluruh amal perbuatan manusia diangkat kepada Allah SWT. Rasulullah SAW ingin amalnya diangkat saat beliau sedang berpuasa.
-
Bulan Penuh Keberkahan: Bulan Syaban adalah bulan yang penuh keberkahan. Rasulullah SAW memohon keberkahan di bulan Rajab dan Syaban.
-
Bulan Pengampunan Dosa: Allah SWT mengampuni dosa-dosa hamba-Nya di malam Nisfu Syaban, kecuali dosa musyrik dan orang yang bermusuhan.
-
Bulan Syafaat: Bulan Syaban adalah bulan syafaat. Rasulullah SAW memberikan syafaat kepada umatnya di bulan ini.
-
Bulan Kebebasan dari Neraka: Allah SWT membebaskan banyak hamba-Nya dari neraka di bulan Syaban.
-
Bulan Shalawat: Ayat tentang perintah shalawat diturunkan di bulan Syaban (QS. Al-Ahzab: 56).
-
Bulan Ziarah Kubur: Bulan Syaban adalah waktu yang tepat untuk ziarah kubur dan mendoakan arwah keluarga dan kerabat.
-
Pintu Gerbang Ramadhan: Bulan Syaban adalah pintu gerbang menuju bulan suci Ramadhan.
Amalan Penting di Bulan Syaban:
-
Puasa Syaban: Rasulullah SAW memperbanyak puasa di bulan Syaban. Ini adalah sunnah yang sangat dianjurkan.
-
Membaca Al-Quran: Perbanyak membaca Al-Quran di bulan Syaban sebagai persiapan menyambut Ramadhan, bulan diturunkannya Al-Quran.
-
Memperbanyak Dzikir dan Doa: Manfaatkan bulan Syaban untuk memperbanyak dzikir dan doa kepada Allah SWT.
-
Shalat Malam: Hidupkan malam-malam Syaban dengan shalat malam, terutama malam Nisfu Syaban.
-
Bersedekah: Perbanyak sedekah di bulan Syaban, sebagai bentuk kepedulian sosial dan persiapan menyambut Ramadhan.
-
Memperbaiki Diri: Jadikan bulan Syaban sebagai momentum untuk introspeksi diri dan memperbaiki diri menjadi lebih baik.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Bulan Syaban adalah kesempatan emas untuk meningkatkan kualitas ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Jangan sia-siakan bulan yang mulia ini. Mari kita isi dengan berbagai amalan kebaikan agar kita meraih keberkahan dan ridha Allah SWT.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. اَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II¶
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهٖ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا أَمَّا بَعْدُ : فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Semoga kumpulan khutbah Jumat bulan Syaban ini bermanfaat untuk kita semua dalam mempersiapkan diri menyambut Ramadhan. Jangan lupa share artikel ini ke teman-teman dan keluarga ya!
Posting Komentar