THR 2025: Panduan Lengkap Buat Karyawan Tetap, Kontrak, & Freelance!
THR, atau Tunjangan Hari Raya, itu udah jadi kayak kabar gembira yang ditunggu-tunggu banget sama semua pekerja tiap mau Lebaran. Siapa sih yang gak seneng dapet THR? Kayak rejeki nomplok gitu kan, bisa buat beli baju baru, kue-kue lebaran, atau bahkan buat mudik ketemu keluarga di kampung halaman. Nah, buat kita-kita yang kerja, penting banget nih buat paham gimana cara hitung THR biar gak bingung nanti pas nerima. Biar kita juga tau, bener gak nih nominal THR yang dikasih perusahaan, udah sesuai aturan apa belum.
Nominal THR yang bakal kita terima itu bisa beda-beda, tergantung dari berapa lama kita udah kerja di perusahaan itu. Biasanya sih, yang udah kerja setahun atau lebih, THR-nya sama dengan satu bulan gaji. Tapi, ada juga yang beda, tergantung kebijakan perusahaan dan gimana kondisi keuangan mereka. Makanya, yuk kita bahas tuntas gimana cara hitung THR yang bener buat berbagai jenis karyawan, biar kita semua paham dan gak salah paham soal hak kita.
Cara Hitung THR untuk Karyawan¶
Nah, buat kamu-kamu yang masih bingung gimana sih sebenernya cara hitung THR itu, tenang aja! Semua udah diatur kok sama pemerintah. Aturannya ada di Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 6 Tahun 2016. Peraturan ini jelasin kalau semua perusahaan wajib kasih THR ke karyawannya menjelang hari raya keagamaan.
Yang penting diingat, THR itu bukan cuma buat yang Muslim aja ya. Tapi buat semua karyawan yang punya agama yang diakui di Indonesia, kayak Kristen, Katolik, Buddha, Hindu, dan Konghucu. Jadi, semua kebagian!
Waktu pembayarannya juga udah diatur, paling lambat 7 hari sebelum hari raya. Jumlahnya gimana? Nah, ini yang disesuaikan sama masa kerja karyawan. Biar lebih jelas, nih kita lihat lagi ketentuan dari Pasal 2 Permenaker Nomor 6 Tahun 2016 tentang siapa aja sih yang berhak dapat THR:
- Karyawan tetap
- Karyawan kontrak
- Pekerja harian lepas (freelance)
- Pekerja rumah tangga
- Pengemudi ojek online
Ternyata luas ya cakupannya? Bahkan freelance dan pekerja lepas juga punya hak yang sama buat dapat THR. Keren kan? Sekarang, kita langsung masuk ke cara hitungnya yuk, biar makin paham!
1. Cara Hitung THR Karyawan Kontrak¶
Buat kamu yang statusnya karyawan kontrak, cara hitung THR-nya juga udah ada aturannya. Di pasal 3 ayat 1 Permenaker No. 6/2016, dijelasin kalau karyawan kontrak yang udah kerja 12 bulan atau lebih, berhak dapat THR sebesar satu bulan upah. Upah ini maksudnya gaji pokok ditambah tunjangan tetap.
Tapi, gimana kalau masa kerjanya belum sampai 12 bulan? Tenang, tetap dapat THR kok, tapi hitungannya proporsional alias disesuaikan dengan masa kerja. Rumusnya gini nih:
THR = (Masa Kerja dalam Bulan / 12) x 1 Bulan Upah
Biar makin jelas, kita langsung lihat contoh soal aja ya:
Contoh:
Misalnya, kamu kerja di perusahaan X sebagai karyawan kontrak selama 9 bulan. Gaji bulanan kamu Rp 4.000.000. Nah, berapa THR yang bakal kamu terima?
Kita hitung bareng-bareng:
THR = (9 bulan / 12) x Rp 4.000.000
THR = (0.75) x Rp 4.000.000
THR = Rp 3.000.000
Jadi, THR yang bakal kamu terima adalah Rp 3.000.000. Lumayan banget kan?
2. Cara Hitung THR Karyawan Tetap¶
Kalau buat karyawan tetap, cara hitung THR-nya mirip-mirip sama karyawan kontrak, terutama kalau masa kerjanya masih di bawah satu tahun. Tapi, kalau kamu udah jadi karyawan tetap dan masa kerjanya udah lebih dari setahun, biasanya THR yang kamu terima itu setara dengan satu bulan gaji pokok. Bahkan, beberapa perusahaan ada juga yang kasih lebih dari itu, tergantung kebijakan perusahaan masing-masing.
Rumus dasar hitung THR karyawan tetap yang masa kerjanya kurang dari setahun tetap sama kok dengan karyawan kontrak:
THR = (Masa Kerja dalam Bulan / 12) x 1 Bulan Upah
Nah, kalau masa kerjanya udah lebih dari setahun, biasanya langsung dapat satu bulan gaji penuh. Tapi, ada juga yang hitungannya gini:
THR = Gaji Pokok + Tunjangan Tetap
Contoh:
Kamu karyawan tetap di PT. Maju Jaya dan udah kerja selama 1 tahun lebih. Gaji pokok kamu Rp 6.000.000 per bulan, ditambah tunjangan tetap Rp 500.000. Berapa THR kamu?
THR = Gaji Pokok + Tunjangan Tetap
THR = Rp 6.000.000 + Rp 500.000
THR = Rp 6.500.000
Nah, THR kamu jadi Rp 6.500.000. Lebih besar dari gaji pokok aja kan? Enak banget!
3. Cara Hitung THR Freelance¶
Buat para freelancer atau pekerja lepas, jangan khawatir! Kalian juga punya hak buat dapat THR kok. Aturannya ada di pasal 3 ayat 3 Permenaker No. 6/2016.
Cara hitungnya agak beda nih sama karyawan tetap dan kontrak. Kalau freelancer yang udah kerja 12 bulan atau lebih, THR-nya dihitung berdasarkan rata-rata upah yang diterima selama 12 bulan terakhir sebelum hari raya.
Kalau masa kerjanya kurang dari 12 bulan, hitungannya mirip sama karyawan kontrak, yaitu proporsional berdasarkan masa kerja. Rumusnya juga mirip:
THR = (Masa Kerja dalam Bulan / 12) x Rata-rata Upah Bulanan
Contoh:
Kamu kerja sebagai freelancer di sebuah agensi selama 4 bulan. Rata-rata penghasilan kamu per bulan Rp 2.500.000. Berapa THR yang akan kamu dapat?
THR = (4 bulan / 12) x Rp 2.500.000
THR = (0.33) x Rp 2.500.000
THR = Rp 833.333 (dibulatkan)
Jadi, THR yang bakal kamu terima sekitar Rp 833.333. Walaupun gak sebesar karyawan tetap atau kontrak yang gajinya tetap, tapi tetep lumayan kan buat tambahan lebaran?
Tabel Ringkasan Cara Hitung THR
Biar lebih gampang diingat, nih aku buatin tabel ringkasan cara hitung THR buat berbagai jenis karyawan:
| Jenis Karyawan | Masa Kerja | Cara Hitung THR |
|---|---|---|
| Karyawan Kontrak | ≥ 12 bulan | 1 Bulan Upah |
| < 12 bulan | (Masa Kerja / 12) x 1 Bulan Upah | |
| Karyawan Tetap | ≥ 12 bulan | 1 Bulan Gaji (Gaji Pokok + Tunjangan Tetap) atau sesuai kebijakan perusahaan |
| < 12 bulan | (Masa Kerja / 12) x 1 Bulan Upah | |
| Freelancer/Pekerja Lepas | ≥ 12 bulan | Rata-rata Upah Bulanan dalam 12 Bulan Terakhir |
| < 12 bulan | (Masa Kerja / 12) x Rata-rata Upah Bulanan Selama Masa Kerja |
Penting untuk diingat:
- Upah/Gaji yang dimaksud adalah gaji kotor, sebelum dipotong pajak atau iuran lainnya.
- Tunjangan tetap itu contohnya kayak tunjangan transportasi, tunjangan makan, tunjangan perumahan, dll yang dibayar rutin setiap bulan.
- THR wajib dibayar paling lambat 7 hari sebelum hari raya. Kalau perusahaan telat bayar, bisa kena sanksi lho!
Semoga panduan ini bisa bikin kamu lebih paham ya soal THR. Jadi, pas nanti terima THR, kamu udah bisa hitung sendiri dan mastiin nominalnya udah sesuai dengan hak kamu. Jangan ragu buat tanya ke bagian HRD perusahaan kamu kalau ada yang masih kurang jelas.
Gimana? Udah lebih jelas kan soal THR? Kalau ada pertanyaan atau pengalaman menarik soal THR, cerita dong di kolom komentar! Siapa tau bisa jadi info tambahan buat teman-teman yang lain.
Posting Komentar