Pinjaman Pendidikan: Beneran Ngebantu Mahasiswa Atau Malah Bisnis Doang, Sih?
Pemerintah lagi rame nih ngomongin soal pinjaman pendidikan atau student loan. Katanya sih buat bantu mahasiswa yang kesulitan bayar kuliah. Tapi, banyak juga yang mikir, jangan-jangan ini malah jadi cara baru buat bikin pendidikan makin mahal dan jadi ladang bisnis aja. Jadi, sebenernya student loan ini beneran nolongin mahasiswa atau malah bikin repot?
Apa Itu Student Loan yang Lagi Diributin?¶
Jadi gini, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek) lagi nyiapin yang namanya lembaga pinjaman pendidikan. Nah, idenya tuh biar mahasiswa yang kesulitan biaya kuliah bisa tetep kuliah dengan cara pinjam uang dulu. Nantinya, pinjaman ini bisa dicicil setelah lulus dan udah kerja.
Mendiktisaintek, Pak Brian Yuliarto, bilang kalau rencana ini masih dirumusin dan pemerintah pengen ngajak masyarakat ikutan. Salah satu caranya lewat crowdfunding. Jadi, kayak patungan gitu, kita-kita sesama orang Indonesia saling bantu buat pendidikan tinggi. Wah, kedengerannya sih bagus ya, gotong royong gitu.
Ketua Komisi X DPR RI, Ibu Hetifah Sjaifudian, juga setuju nih sama ide student loan ini. Katanya, ini bisa jadi solusi buat mahasiswa yang kepepet masalah ekonomi, apalagi yang nggak dapet KIP Kuliah. Dengan student loan, mahasiswa bisa tetep kuliah terus bayarnya nanti-nanti pas udah kerja. Tapi, Ibu Hetifah juga wanti-wanti, pemerintah harus kerja sama sama bank yang beneran terpercaya, jangan kayak pinjol-pinjol yang bunganya mencekik leher. Nah, ini poin penting nih!
Student Loan Bukan Barang Baru di Indonesia¶
Sebenernya, program pinjaman pendidikan ini bukan barang baru di Indonesia. Dulu jaman Orde Baru, pernah ada namanya Kredit Mahasiswa Indonesia (KIM). Program ini buat mahasiswa semester akhir yang lagi nyusun skripsi atau tugas akhir, buat biaya penelitian.
Dulu, pinjaman KIM rata-rata sekitar Rp750 ribu, lumayan juga ya buat jaman segitu. Mahasiswa dikasih waktu buat nyicil setelah dua tahun lulus, bunganya 6 persen. Lumayan ringan lah ya. Sampe April 1989, penerima KIM udah nyampe 82.986 mahasiswa, total duit yang dikeluarin Rp67,2 miliar. Tapi sayang seribu sayang, program KIM ini akhirnya dibekuin gara-gara banyak mahasiswa yang gagal bayar. Katanya sih, pengawasannya kurang ketat, jadi banyak yang pake duit pinjaman bukan buat penelitian, malah buat jajan atau keperluan lain. Nah loh!
Student Loan: Beneran Solusi Atau Malah Nambah Masalah?¶
Banyak nih yang mikir, student loan ini bukannya solusi, malah jadi masalah baru. Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), Mas Ubaid Matraji, bilang kebijakan ini justru bentuk liberalisasi pendidikan. Pendidikan yang seharusnya jadi hak warga negara, malah jadi komoditas yang dijual belikan. Waduh, serem juga ya.
Mas Ubaid bilang, student loan ini bukan solusi, tapi “jebakan baru” buat komersialisasi pendidikan. Seharusnya, biaya kuliah itu tanggung jawab pemerintah sepenuhnya, sesuai amanat UUD 1945 Pasal 31. Kalaupun pemerintah nggak kuat nanggung semua, ya kasih subsidi aja, jangan malah bikin lembaga pinjaman.
“Kebijakan student loan ini sama aja dengan kebijakan orang miskin dilarang kuliah. Mana mungkin orang miskin bisa ngutang atau bayar utang,” kata Mas Ubaid. Bener juga ya, mikirnya. Orang udah susah, malah disuruh ngutang.
Apalagi, di negara lain kayak Amerika Serikat, banyak banget kasus gagal bayar student loan. Mas Ubaid khawatir, di Indonesia juga bakal sama. “Lulusan di Indonesia banyak yang masih nganggur karena nggak dapet kerja. Kalaupun dapet kerja, gaji kecil di bawah UMR. Lalu nyicilnya gimana?” tanyanya. Nah, ini dia masalah utamanya.
Pendapat yang sama juga dateng dari Koordinator Pusat Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI), Mas Herianto. Meski tujuannya baik, bantu mahasiswa yang kesulitan biaya, tapi student loan ini bisa bikin masalah baru. Salah satunya, beban utang numpuk setelah lulus.
“Di beberapa negara menunjukkan bahwa pinjaman pendidikan dapat menjadi beban finansial jangka panjang bagi lulusan,” kata Mas Herianto. Panjang banget ya bebannya, kayak cicilan rumah aja.
Alternatif Biar Kuliah Nggak Mahal¶
Terus, solusinya gimana dong biar kuliah nggak mahal dan semua orang bisa kuliah? Mas Herianto nawarin beberapa alternatif nih. Pertama, perbanyak beasiswa dan bantuan pendidikan buat mahasiswa berprestasi dan kurang mampu. Ini jelas lebih ngebantu, karena mahasiswa nggak perlu ngutang.
Kedua, subsidi pendidikan. Pemerintah bisa kasih subsidi langsung ke perguruan tinggi, biar biaya operasional kampus turun, otomatis biaya kuliah juga bisa ditekan. Nah, ini juga ide bagus nih. Jadi, kampus nggak terlalu bergantung sama uang kuliah mahasiswa.
Negara Berpihak Kemana? Pendidikan Hak Atau Bisnis?¶
Peneliti sekaligus dosen Administrasi Negara Universitas Lampung (Unila), Pak Dodi Faedlulloh, juga punya pandangan yang kritis soal student loan ini. Di tengah kondisi ekonomi yang lagi nggak pasti kayak sekarang, kebijakan student loan malah bisa bikin mahasiswa makin kejebak utang. Padahal, pendidikan itu seharusnya hak, bukan komoditas yang harus dibayar pake utang.
Pak Dodi bilang, dengan student loan, negara kayak lepas tangan gitu dari tanggung jawab mendanai pendidikan tinggi. Urusan pendidikan malah diserahin ke mekanisme pasar. “Ini adalah bentuk komersialisasi pendidikan yang bertentangan dengan prinsip pendidikan sebagai hak publik,” jelas Pak Dodi.
Akibatnya, mahasiswa dari keluarga miskin bakal makin susah kuliah, karena takut kejebak utang. Pendidikan jadi makin eksklusif, cuma buat orang-orang kaya aja yang punya duit lebih. Wah, nggak adil dong ya.
Menurut Pak Dodi, daripada sibuk mikirin student loan, pemerintah seharusnya fokus bikin kebijakan yang beneran menjamin akses pendidikan tinggi buat semua orang. Caranya gimana? Ya, tingkatkan subsidi pendidikan, biar perguruan tinggi negeri lebih terjangkau.
“Yang tidak kalah penting adalah mereformasi tata kelola pendidikan tinggi agar biaya operasional perguruan tinggi tidak bergantung pada kenaikan UKT,” imbuhnya. Jadi, kampus jangan cuma ngandelin duit UKT mahasiswa buat biaya operasional. Cari sumber dana lain dong!
Prioritas Kebijakan Negara: Pendidikan Atau Efisiensi Anggaran?¶
Tantangan utama pendidikan tinggi di Indonesia itu bukan cuma soal duit aja, tapi juga soal keberpihakan negara. Pemerintah lagi gencar banget efisiensi anggaran, tapi ironisnya malah sektor pendidikan yang kena imbasnya.
Pak Dodi bilang, pertanyaan pentingnya bukan cuma gimana mahasiswa bisa bayar kuliah, tapi negara ini sebenernya berpihak kemana sih? “Apakah pada kepentingan publik dengan menjamin hak atas pendidikan? Atau pada logika pasar yang menuntut efisiensi dengan cara membebankan biaya pendidikan kepada individu melalui skema utang,” katanya.
Jadi, intinya gini, student loan ini kayak pisau bermata dua. Bisa jadi solusi buat sebagian mahasiswa, tapi juga bisa jadi jebakan utang yang malah bikin pendidikan makin mahal dan nggak adil. Pemerintah harus bener-bener mikir mateng nih, jangan sampe niat baik malah jadi bumerang.
Nah, kalo menurut kalian gimana nih soal student loan ini? Setuju nggak kalo pemerintah bikin program ini? Atau ada ide lain yang lebih bagus buat bantu mahasiswa yang kesulitan biaya kuliah? Yuk, share pendapat kalian di kolom komentar di bawah ini!
Posting Komentar