Yuk, Kenali Bedanya Pratima dan Pralingga di Bali! Biar Gak Bingung!

Table of Contents

Bingung saat lihat patung-patung di pura atau museum Bali? Pasti sering dengar istilah pratima dan pralingga, tapi apa sih bedanya? Nah, biar nggak salah lagi, yuk kita bedah perbedaannya!

Penjelasan lengkap soal pratima dan pralingga ini pernah dibahas tuntas lho dalam sebuah seminar di Museum Bali. Para ahli, mulai dari filsafat Hindu, arkeolog, sampai guru besar Sanskerta, kumpul buat ngasih pencerahan. Intinya, ada perbedaan mendasar dari bentuk dan fungsi kedua benda sakral ini.

Apa Itu Pratima? Memahami Wujud Sagrada

Pratima itu gampangnya adalah arca atau patung perwujudan dari dewa-dewi dalam kepercayaan Hindu. Bentuknya biasanya menyerupai manusia, karena dewa-dewi ini digambarkan punya wujud antropomorfik, meski tentu dengan atribut dan simbol khusus yang melambangkan kekuatan atau aspek mereka. Jadi, kalau kamu lihat patung menyerupai Dewa Siwa, Dewi Saraswati, atau dewa-dewi lainnya yang sudah melalui proses penyucian, itulah yang disebut pratima.

Proses penyucian ini penting banget. Sebuah patung biasa (arca) akan berubah status menjadi pratima setelah melewati upacara pasupati atau upacara penyucian lainnya. Melalui ritual ini, diyakini energi spiritual atau prana dimasukkan ke dalam patung tersebut, menjadikannya tempat berstana atau representasi fisik dari dewa-dewi yang dipuja. Oleh karena itu, pratima sangat dihormati dan diperlakukan dengan penuh kesucian. Mereka bukan sekadar karya seni, tapi sarana utama dalam persembahyangan.

Bentuk pratima bisa bermacam-macam, ada yang terbuat dari kayu, logam (emas, perak, perunggu), batu, atau bahan lainnya. Ukirannya pun detail, menggambarkan ciri khas dewa-dewi yang diwakilinya, seperti jumlah tangan, atribut yang dibawa (teratai, terompet kulit kerang, senjata trisula, dll.), hingga posisi duduk atau berdiri mereka. Namun, memang ada kalanya, seperti yang disampaikan dalam seminar, identifikasi dewa-dewi dari pratima ini tidak selalu mudah karena ciri khasnya mungkin tidak begitu jelas. Ini yang bikin penelitian terhadap koleksi pratima butuh ketelitian ekstra.

Perbedaan Pratima dan Pralingga di Bali

Apa Itu Pralingga? Mengenal Wahana Para Dewa

Nah, kalau pralingga beda lagi. Pralingga ini adalah arca atau patung yang berbentuk hewan suci. Hewan-hewan ini dipercaya sebagai wahana atau kendaraan dari para dewa-dewi. Jadi, pralingga itu representasi dari kendaraan ilahi yang ditunggangi oleh dewa-dewi.

Ciri khas pralingga yang paling gampang dikenali adalah bentuknya yang berupa hewan, seperti Garuda (kendaraan Dewa Wisnu), Nandi (lembu, kendaraan Dewa Siwa), Hamsa (angsa, kendaraan Dewa Brahma atau Dewi Saraswati), atau hewan mitologi lainnya. Bentuk pralingga seringkali dilengkapi dengan alas duduk di punggungnya. Alas duduk inilah tempat di mana pratima (arca dewa/dewi) diletakkan saat upacara atau pawai keagamaan.

Sama seperti pratima, pralingga juga dianggap sakral dan diperlakukan dengan hormat. Mereka melambangkan kekuatan atau aspek tertentu dari dewa-dewi yang diwakilinya. Misalnya, Garuda melambangkan kebebasan dan kekuatan, sementara Nandi melambangkan kesetiaan dan kekuatan. Fungsi pralingga adalah sebagai ‘penghubung’ antara dunia manusia dan alam ilahi melalui representasi wahana dewa. Mereka membantu umat untuk memvisualisasikan dan mendekatkan diri pada konsep ketuhanan yang abstrak.

Bentuk Unik Pratima dan Pralingga: Sentuhan Budaya Lain

Menariknya, koleksi pratima dan pralingga yang ditemukan atau disimpan di museum seperti Museum Bali ternyata punya beragam rupa. Tidak semua ukirannya murni bercorak Bali lho! Ada juga yang memperlihatkan sentuhan budaya lain.

Dalam seminar itu, para narasumber menyebutkan adanya pratima yang model kainnya mirip patra cina. Ini menunjukkan adanya pengaruh atau interaksi budaya dengan Tiongkok di masa lalu, kemungkinan melalui jalur perdagangan. Pengaruh ini tercermin dalam detail ornamen atau hiasan pada pakaian atau jubah pratima tersebut.

Selain itu, ada juga pratima dewi yang disebut-sebut punya kemiripan dengan gaya wayang golek khas Sunda, Jawa Barat. Ini menunjukkan adanya jejak pengaruh budaya Jawa. Mengingat sejarah Bali yang punya hubungan erat dengan Kerajaan Majapahit di Jawa pada masa lampau, tidak mengherankan jika ada akulturasi budaya yang terlihat pada benda-benda sakral seperti pratima. Sentuhan gaya Jawa pada pratima dewi ini bisa jadi terlihat dari bentuk wajah, tata rambut, atau detail pakaian yang mirip dengan karakter-karakter dalam pertunjukan wayang golek.

Keberagaman bentuk dan gaya ini justru menambah kekayaan sejarah dan budaya dari koleksi pratima dan pralingga. Mereka menjadi bukti bisu bagaimana Bali telah berinteraksi dan menyerap pengaruh dari luar, namun tetap mempertahankan esensi spiritual dari benda-benda sakral tersebut. Proses identifikasi terhadap berbagai corak ini pun menjadi tantangan sekaligus penemuan menarik bagi para peneliti.

Fungsi Sebenarnya: Menghadirkan yang Tak Terwujud

Lantas, apa sih fungsi utama dari pratima dan pralingga dalam praktik keagamaan di Bali? Para ahli menjelaskan bahwa fungsi keduanya sangat fundamental dalam membantu umat Hindu untuk menyembah Tuhan atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Kepercayaan terhadap patung atau arca sebagai sarana penghubung dengan dewa atau Tuhan bukanlah hal baru. Tradisi ini bahkan sudah ada sejak peradaban kuno di lembah Sungai Sindu, jauh sebelum ajaran Weda sepenuhnya berkembang. Ini menunjukkan bahwa manusia secara universal punya kebutuhan untuk memberikan bentuk konkret pada sesuatu yang bersifat abstrak dan tak terjangkau oleh panca indra atau pikiran.

Dalam ajaran Hindu, Tuhan digambarkan memiliki aspek Acintya, yang berarti tidak terjangkau oleh pikiran dan perasaan manusia. Nah, pratima dan pralingga inilah yang berfungsi sebagai sarana atau perantara. Mereka memberikan wujud yang dapat dilihat, disentuh, dan dipuja oleh umat. Pratima sebagai perwujudan dewa-dewi dan pralingga sebagai wahana mereka, membantu umat untuk memusatkan pikiran dan bhakti (devosi) mereka saat bersembahyang.

Dengan adanya pratima dan pralingga, konsep ketuhanan yang begitu luhur dan tak terbatas menjadi lebih bisa dipahami dan didekati dalam ritual persembahyangan sehari-hari. Mereka menjadi simbol kehadiran ilahi di dunia material. Saat umat bersujud di hadapan pratima atau pralingga, sesungguhnya mereka sedang mengarahkan devosi mereka kepada dewa-dewi atau Tuhan yang direpresentasikan oleh benda-benda sakral tersebut.

Selain itu, pratima dan pralingga juga digunakan dalam berbagai upacara keagamaan penting. Mereka diarak, dihias, dan diperlakukan dengan sangat hati-hati. Keberadaan mereka di pura, merajan (tempat suci keluarga), atau museum, mengingatkan umat akan kehadiran dan kekuatan dewa-dewi dalam kehidupan mereka. Mereka adalah warisan spiritual yang tak ternilai harganya.

Jadi, intinya beda pratima dan pralingga terletak pada bentuk dan representasinya. Pratima berbentuk manusia (atau antropomorfik) dan merepresentasikan dewa-dewi itu sendiri. Sedangkan pralingga berbentuk hewan (atau zoomorfik) dan merepresentasikan kendaraan atau wahana dari dewa-dewi. Keduanya sama-sama sakral dan berfungsi sebagai sarana untuk memusatkan pikiran dan bhakti kepada Tuhan dalam berbagai manifestasinya. Memahami perbedaan ini bikin kita lebih bisa menghargai makna di balik benda-benda suci yang ada di Bali!

Gimana? Sekarang sudah lebih jelas kan bedanya pratima dan pralingga? Punya pengalaman menarik terkait kedua benda sakral ini? Atau ada pertanyaan lain? Yuk, berbagi di kolom komentar!

Posting Komentar