Idul Adha Sebentar Lagi! Ini Tips Pilih Hewan Kurban Sehat dari Dosen UGM

Table of Contents

Tips Pilih Hewan Kurban Sehat dari Dosen UGM

Menjelang momen sakral Idul Adha, persiapan kurban jadi perhatian utama bagi umat Muslim. Salah satu aspek paling krusial adalah memilih hewan kurban yang memenuhi syarat syariat, baik dari segi kesehatan maupun kelayakan usia. Memastikan hewan yang kita kurbankan benar-benar sehat dan tidak cacat merupakan bentuk ibadah terbaik yang kita persembahkan kepada Allah SWT. Persyaratan ini tidak bisa dianggap remeh.

Demi meningkatkan pemahaman dan kapasitas para panitia kurban, terutama di wilayah DIY dan Jawa Tengah, Fakultas Peternakan UGM mengadakan pelatihan khusus. Pelatihan ini membahas berbagai aspek penting terkait penyembelihan hewan kurban. Mulai dari cara memilih hewan yang tepat, hingga teknik penyembelihan yang sesuai syariat dan higienis, semuanya dibahas tuntas demi kelancaran ibadah kurban nanti.

Kriteria Penting: Usia Hewan Kurban dan Cek Gigi “Poel”

Salah satu syarat utama sahnya hewan kurban adalah usianya yang sudah mencukupi. Nah, bagaimana cara mudah mengetahui hewan kurban sudah cukup umur atau belum? Dosen Fakultas Peternakan UGM, Ir. Nanung Danar Dono, S.Pt., MP., Ph.D., IPM., ASEAN Eng., punya tips jitu: perhatikan kondisi giginya. Beliau menjelaskan bahwa tanda hewan kurban sudah dewasa dan cukup umur adalah ketika giginya sudah “poel” atau mengalami pergantian gigi.

Gigi “poel” ini menandakan bahwa hewan tersebut telah mencapai usia ideal untuk dikurbankan. Proses pergantian gigi ini punya patokan usia berbeda tergantung jenis hewannya. Untuk kambing dan domba, gigi biasanya mulai poel saat usianya menginjak sekitar 1 tahun. Sementara itu, sapi umumnya mulai poel pada usia 2 tahun. Unta punya patokan usia yang lebih tua, yaitu sekitar 5 tahun baru giginya poel.

Memahami Proses Pergantian Gigi (Poel)

Penting untuk tahu bagaimana proses pergantian gigi ini terjadi. Hewan ruminansia seperti kambing, domba, dan sapi punya struktur gigi yang unik. Mereka tidak memiliki gigi seri di rahang bagian atas, melainkan hanya di rahang bawah. Di rahang bawah inilah terdapat empat pasang gigi seri, totalnya ada delapan gigi.

Proses poel dimulai dari sepasang gigi seri yang letaknya paling tengah di rahang bawah. Jika sepasang gigi yang paling tengah ini sudah tanggal dan digantikan oleh gigi permanen yang ukurannya biasanya lebih besar, maka hewan tersebut dikatakan sudah “Poel 1”. Jika kemudian sepasang gigi di sebelahnya juga berganti, maka disebut “Poel 2”, dan seterusnya. Kondisi gigi poel ini menjadi indikator kuat bahwa usia hewan sudah memenuhi syarat minimal untuk kurban.

mermaid graph LR A[Hewan Muda] --> B{Usia Cukup?}; B -- Belum --> A; B -- Sudah --> C[Mulai Poel]; C --> D[Poel 1: Sepasang gigi tengah berganti]; D --> E[Poel 2: Dua pasang gigi berganti]; E --> F[Poel 3: Tiga pasang gigi berganti]; F --> G[Poel 4: Empat pasang gigi berganti]; G --> H[Hewan Cukup Umur untuk Kurban];

Diagram sederhana alur identifikasi usia hewan kurban melalui proses “Poel”.

Sayangnya, ada praktik tidak jujur dari sebagian pedagang nakal. Mereka kadang mencabut gigi hewan yang masih muda agar terlihat seolah-olah sudah poel dan layak kurban. Ini jelas tindakan yang merugikan dan menipu. Oleh karena itu, Dr. Nanung menekankan pentingnya melakukan pemeriksaan gigi secara langsung dan teliti. Jika ragu, jangan sungkan untuk berkonsultasi dengan ahli peternakan atau dokter hewan yang terpercaya. Pemeriksaan ini memastikan hewan yang Anda pilih benar-benar sah dan sesuai syariat.

Tabel Perkiraan Usia Berdasarkan Gigi Poel

Untuk memudahkan, berikut perkiraan kasar usia hewan berdasarkan jumlah gigi seri permanen yang sudah tumbuh (gigi poel) di rahang bawah:

Jumlah Pasang Gigi Permanen (Poel) Kambing/Domba (Perkiraan Usia) Sapi (Perkiraan Usia)
Belum Poel < 1 tahun < 2 tahun
1 Pasang (Poel 1) 1 - 1.5 tahun 2 - 2.5 tahun
2 Pasang (Poel 2) 1.5 - 2 tahun 2.5 - 3 tahun
3 Pasang (Poel 3) 2 - 3 tahun 3 - 4 tahun
4 Pasang (Poel 4) > 3 tahun > 4 tahun

Catatan: Tabel ini adalah perkiraan dan bisa bervariasi antar individu hewan. Pemeriksaan oleh ahli tetap disarankan.

Cek Fisik Lain yang Tak Kalah Penting

Selain usia, Dr. Nanung mengingatkan bahwa kondisi fisik hewan kurban juga harus diperiksa dengan cermat. Syariat Islam mensyaratkan hewan kurban harus dalam kondisi sehat dan tidak memiliki cacat yang mengurangi kualitas daging atau menyulitkan penyembelihan. Beberapa hal yang wajib diperiksa antara lain:

  1. Mata: Pastikan hewan tidak buta, baik pada satu maupun kedua matanya. Mata yang sehat terlihat cerah, tidak keruh, dan tidak ada cairan berlebih atau kotoran.
  2. Kondisi Umum: Hewan harus dalam kondisi sehat, tidak lesu, nafsu makan baik, dan bulunya tidak kusam. Perhatikan apakah ada tanda-tanda sakit seperti demam, diare, atau pilek.
  3. Kaki: Pastikan hewan tidak pincang. Hewan yang pincang menunjukkan ada masalah pada kaki atau persendiannya. Ia harus bisa berjalan dengan normal di keempat kakinya.
  4. Badan: Hindari memilih hewan yang terlalu kurus atau seperti ‘tulang berbalut kulit’ (kurus kering tanpa daging). Hewan kurban sebaiknya memiliki kondisi badan yang proporsional dan cukup daging.

Memilih hewan yang terlihat murah hanya karena cacat atau sakit bukan anjuran. Ibadah kurban adalah bentuk pengorbanan dan penghormatan kita kepada Sang Pencipta. Sebagaimana kita ingin memberikan yang terbaik dalam setiap aspek ibadah, hewan kurban pun selayaknya dipilih yang terbaik kondisinya. Ini mencerminkan kesungguhan dan ketulusan kita dalam beribadah. Jadi, jangan tergiur harga murah jika hewannya tidak memenuhi syarat kesehatan dan fisik.

Waspada Penyakit Menular pada Hewan Kurban

Dalam beberapa waktu terakhir, muncul beberapa penyakit hewan yang perlu diwaspadai. Panitia kurban dan masyarakat yang ingin berkurban wajib tahu cara mengidentifikasi hewan yang terindikasi penyakit ini saat membeli. Dr. Nanung menyebutkan beberapa penyakit yang patut diwaspadai:

  1. Penyakit Mulut dan Kuku (PMK): Penyakit ini sangat menular antar hewan berkuku belah seperti sapi, kambing, dan domba. Gejalanya antara lain demam, lepuh/luka di mulut, gusi, lidah, hidung, serta di kuku atau sela-sela kuku. Hewan yang terkena PMK biasanya pincang dan sulit makan sehingga menjadi kurus. Hewan yang terindikasi PMK tidak boleh dijadikan hewan kurban karena cacat (luka) dan sakit parah.
  2. Lumpy Skin Disease (LSD): Penyakit ini disebabkan virus dan menyerang sapi. Cirinya muncul benjolan-benjolan keras di kulit seluruh tubuh sapi. LSD menular antarhewan melalui serangga vektor (nyamuk, lalat). Kabar baiknya, LSD tidak menular ke manusia. Namun, hewan yang terkena LSD juga dianggap cacat karena adanya benjolan dan kondisi fisiknya terganggu. Sebaiknya hindari hewan dengan gejala LSD untuk kurban.
  3. Antraks: Ini penyakit yang sangat berbahaya dan perlu diwaspadai ekstra. Antraks disebabkan bakteri dan sangat menular ke manusia (zoonosis). Gejala pada hewan seringkali mendadak, bisa berupa demam tinggi, tremor, sulit bernapas, dan keluarnya darah hitam kental dari lubang alami (mulut, hidung, telinga, anus) yang tidak membeku. Jika menemukan hewan dengan ciri-ciri ini, JANGAN menyembelihnya, JANGAN menyentuh darahnya, dan segera laporkan ke dinas peternakan setempat. Hewan yang mati mendadak dengan ciri antraks harus dikubur dalam dan tidak boleh dibuka.

Penting bagi panitia kurban untuk memiliki pengetahuan dasar tentang penyakit-penyakit ini. Jika ragu terhadap kondisi kesehatan hewan, segera panggil dokter hewan untuk pemeriksaan lebih lanjut. Keselamatan dan kesehatan hewan kurban adalah prioritas, demi kelancaran ibadah dan keamanan konsumsi daging.

Pelatihan Komprehensif dari UGM

Pelatihan yang diadakan Fakultas Peternakan UGM ini ternyata tidak hanya membahas soal pemilihan hewan dan usia poel. Menurut Muhammad Rifqi Ardi, salah satu peserta dari pengurus masjid di Yogyakarta, materi yang disampaikan sangat lengkap. Selain kriteria hewan kurban dan cara cek gigi, mereka juga diajari tata cara penyembelihan yang sesuai tuntunan Islam. Baginya, materi ini sangat informatif dan membantu panitia yang akan bertugas sebagai jagal.

“Materinya sangat menarik dan jelas. Kami yang akan bertugas sebagai penyembelih merasa sangat terbantu,” ujar Rifqi. Ia berharap kegiatan semacam ini bisa rutin setiap tahun agar para jagal musiman mendapatkan penyegaran ilmu dan praktik terbaik. Ini menunjukkan betapa pentingnya edukasi berkelanjutan dalam pelaksanaan ibadah kurban.

Peserta lain, Muhammad Nasir dari Klaten, Jawa Tengah, juga merasakan manfaat besar dari pelatihan ini. Ia menuturkan bahwa pelatihan ini memberi pencerahan tentang ilmu penyembelihan yang modern dan sesuai syariat. “Sekarang proses penyembelihan sudah jauh berkembang dibanding dulu. Tidak lagi asal-asalan, tapi mulai memperhatikan teknik menjatuhkan sapi, pemilihan pisau, hingga aspek kebersihan,” jelas Nasir. Perubahan positif ini tentu berkat adanya pelatihan dan penyebaran informasi yang tepat.

Selain Dr. Nanung, pelatihan UGM ini juga menghadirkan dosen lain yang ahli di bidangnya. Ir. Cuk Tri Noviandi, S.Pt., M.Anim.St., Ph.D., IPM., ASEAN Eng. menjelaskan tentang Penanganan Hewan Qurban yang baik, dari sebelum disembelih hingga saat penyembelihan. Sementara itu, Dr. Ir. Endy Triyannanto, S.Pt., M.Eng., IPM., ASEAN Eng. dan Ir. Rusman, M.P., Ph.D. memberikan materi penting tentang Pengelolaan Daging Qurban yang Higienis. Semua materi ini saling melengkapi demi memastikan seluruh proses ibadah kurban berjalan lancar, aman, sehat, dan sesuai tuntunan agama. Bahkan, Fakultas Peternakan UGM juga memberikan fasilitas asah pisau gratis bagi para peserta, detail kecil namun sangat penting dalam praktik penyembelihan.

Video Edukasi Terkait Pemilihan Hewan Kurban

Untuk menambah wawasan, Anda bisa mencari video edukasi di platform seperti YouTube yang menjelaskan secara visual cara memilih hewan kurban yang sehat dan mengecek giginya. Banyak peternak atau ahli yang membagikan tips praktis.

Misalnya, Anda bisa mencari video dengan judul seperti:
“Cara Mudah Memilih Sapi Kurban yang Sehat dan Cukup Umur”
“Tutorial Cek Gigi Poel pada Kambing Kurban”

Menonton video semacam ini bisa memberikan gambaran visual yang lebih jelas tentang apa yang dijelaskan di atas, terutama proses pemeriksaan gigi dan ciri fisik hewan yang sehat.

Persiapan Menjelang Idul Adha

Dengan Idul Adha yang semakin dekat, tips-tips dari para ahli seperti dosen UGM ini menjadi sangat berharga. Memilih hewan kurban bukan sekadar membeli, tapi menjalankan amanah agama dengan penuh tanggung jawab. Pastikan hewan yang Anda pilih memenuhi semua syarat, baik dari sisi usia (cek gigi poel!) maupun kesehatan fisik secara menyeluruh.

Jangan ragu bertanya kepada penjual, peternak, atau bahkan dokter hewan jika ada keraguan. Lebih baik teliti di awal daripada menyesal kemudian. Hewan kurban yang sehat akan menghasilkan daging yang berkualitas baik, aman dikonsumsi, dan tentunya membuat ibadah kurban Anda semakin sempurna di mata Allah SWT.

Semoga tips ini bermanfaat bagi Anda yang sedang mencari atau akan membantu panitia kurban. Selamat mempersiapkan ibadah kurban, semoga berjalan lancar dan berkah!

Bagaimana pengalaman Anda dalam memilih hewan kurban? Adakah tips tambahan yang ingin Anda bagikan? Yuk, ceritakan di kolom komentar!

Posting Komentar