Jokowi Condong ke PSI? NasDem Kasih Saran 'Ala SBY' Buat Presiden!

Table of Contents

Jokowi Pilih PSI? Partai NasDem Kasih Saran Adem 'Ala SBY' Buat Bapak Presiden!

Presiden Joko Widodo alias Jokowi bikin heboh jagat politik Tanah Air. Beliau sempat keceplosan atau memang sengaja bilang pengennya masuk Partai Solidaritas Indonesia (PSI) nih, guys. Kejadian ini muncul pas Jokowi ditanya soal kemungkinan namanya masuk bursa calon ketua umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Reaksi dari berbagai pihak pun langsung bermunculan, salah satunya dari Partai NasDem lewat Bendahara Umumnya, Ahmad Sahroni.

Sahroni NasDem: Bebas Aja, Tapi…

Ahmad Sahroni, Bendahara Umum Partai NasDem, menanggapi santai komentar Jokowi soal PSI ini. Menurut Sahroni, sah-sah aja kok kalau seorang Jokowi mau berlabuh ke partai mana pun setelah nggak jadi presiden nanti. Beliau kan warga negara biasa yang punya hak politik. Jadi, secara prinsip, nggak ada yang salah dari sikap itu.

“Beliau (Jokowi) mau ke mana aja boleh kok,” kata Sahroni, menegaskan bahwa dari sudut pandang NasDem, pilihan Jokowi soal partai ini bukan masalah besar. Kebebasan berserikat dan berkumpul kan dijamin undang-undang, termasuk buat mantan presiden sekalipun. Jadi, mau gabung partai A, B, atau C, itu sepenuhnya hak pribadi beliau.

Namun, di balik pernyataan santai itu, Sahroni memberikan saran yang cukup menarik. Saran ini datang dari lubuk hati, katanya, sebagai seorang ‘adik’. Saran ini bikin kening berkerut sekaligus penasaran, karena Sahroni menyebut nama mantan presiden lainnya sebagai contoh yang pas buat Jokowi.

Saran ‘Ala SBY’: Nikmati Hidup Aja, Pak!

Nah, ini dia bagian yang bikin banyak orang angkat alis. Sahroni menyarankan agar Jokowi mencontoh Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), setelah nggak lagi menjabat nanti. Mencontoh dalam hal apa? Rupanya, mencontoh cara SBY menikmati hidup setelah purnatugas dari Istana.

Menurut Sahroni, melihat SBY yang kini terlihat lebih tenang, fokus pada kegiatan pribadi seperti menulis buku, melukis, atau mengurus partai tanpa hiruk pikuk kekuasaan eksekutif harian, adalah sesuatu yang patut dibanggakan. Suasana hidup yang lebih rileks dan jauh dari ketegangan politik sehari-hari mungkin dianggap Sahroni sebagai ‘resep’ ideal buat mantan orang nomor satu di negeri ini.

“Tapi saran saya sebagai adik, kiranya Pak Jokowi lihat contoh kaya Pak SBY, hidup tenang dan menikmati hidup setelah tidak lagi jadi presiden. Saya bangga lihatnya,” ujar Sahroni. Ini seperti sebuah masukan agar Jokowi bisa mengambil jeda yang cukup dari kancah politik praktis yang selama 10 tahun terakhir sangat intens dihadapinya.

Hidup tenang ala SBY pasca-presiden memang terlihat kontras dengan bayangan beberapa pihak mengenai masa depan Jokowi. Ada yang memprediksi Jokowi akan tetap punya peran sentral dalam politik, menjadi ‘kingmaker’, atau bahkan aktif di salah satu partai politik. Saran dari Sahroni ini seolah mencoba ‘mendinginkan’ suasana dan mengarahkan pandangan pada opsi kehidupan pasca-presidensi yang lebih personal dan santai.

Membandingkan dengan SBY, memang benar bahwa setelah tak menjabat, SBY lebih banyak menghabiskan waktu untuk hobinya, menulis, dan sesekali muncul ke publik atau kegiatan Partai Demokrat, namun intensitasnya tentu jauh berbeda dibanding saat masih di Istana. Apakah ini yang diharapkan Sahroni juga bisa dilakukan Jokowi? Hanya waktu yang bisa menjawab, tapi saran ini jelas menambah warna dalam diskusi soal masa depan politik Jokowi.

Urusan Politik Biar Diurus Anak Mantu Aja

Selain saran untuk menikmati hidup ala SBY, Sahroni juga memberikan masukan lain yang nggak kalah menarik. Menurutnya, urusan politik yang ‘keras’ dan penuh dinamika sebaiknya diserahkan saja kepada generasi penerus Jokowi, yaitu anak dan menantunya. Sahroni yakin, anak dan menantu Jokowi saat ini sedang meniti karier politik dan kelak bisa menjadi penerus ‘dinasti’ politik Jokowi.

“Iya sebagai saran dan masukan berilah urusan politik bagi anak dan mantu yang saat ini sedang bertugas,” kata Sahroni. Siapa lagi kalau bukan Gibran Rakabuming Raka, putra sulung Jokowi yang kini menjabat Wakil Presiden terpilih, dan Bobby Nasution, menantu Jokowi yang saat ini menjabat Wali Kota Medan. Keduanya memang sedang berada di jalur politik.

Gibran, misalnya, baru saja menyelesaikan tugas sebagai Wali Kota Solo dan akan segera dilantik sebagai Wakil Presiden mendampingi Prabowo Subianto. Langkah ini jelas menempatkannya di posisi politik yang sangat strategis. Sementara Bobby Nasution, setelah sukses di Medan, dikabarkan juga punya potensi melangkah lebih jauh di kancah politik, mungkin ke tingkat provinsi atau bahkan nasional di masa depan.

Sahroni melanjutkan, peran Jokowi sebagai ayah sebaiknya fokus pada pengawasan dan dukungan terhadap anak dan menantunya ini. “Pak Jokowi sebagai ayah harus selalu ngawasin anak dan mantunya yang lagi bekerja untuk rakyat. Insya Allah mereka akan jadi penerus Pak Jokowi ke depan,” imbuhnya. Ini bukan sekadar omongan kosong, mengingat Gibran sudah berada di puncak kekuasaan eksekutif nasional.

Saran ini bisa ditafsirkan dalam beberapa sudut pandang. Pertama, ini bisa menjadi penegasan bahwa Jokowi punya ‘pewaris’ politik yang jelas. Kedua, ini bisa jadi semacam sinyal agar Jokowi nggak terlalu cawe-cawe atau ikut campur terlalu dalam di kancah politik sehari-hari pasca-presiden, karena sudah ada anak dan menantu yang ‘mengemban tugas’. Fokusnya beralih dari dirinya sebagai aktor utama menjadi ayah yang membimbing generasi berikutnya.

Dengan menyerahkan ‘tongkat estafet’ politik kepada Gibran dan Bobby, Jokowi diharapkan bisa lebih lepas dari pressure politik dan menikmati fase hidup yang baru, sementara anak dan menantunya yang ‘bertempur’ di arena politik. Ini juga bisa jadi cara untuk meredam isu dinasti politik, dengan menunjukkan bahwa yang aktif berpolitik adalah anak dan menantu secara mandiri (meski tetap dalam pengawasan dan bimbingan sang ayah/mertua).

Awal Mula Komentar Jokowi Soal PSI

Lantas, kenapa tiba-tiba Jokowi ngomong pengennya masuk PSI? Kejadian ini bermula saat Jokowi ditanya wartawan mengenai kabar namanya diusulkan masuk bursa calon ketua umum PPP. Ya, PPP memang sedang dalam proses mencari pemimpin baru setelah perolehan suaranya di Pemilu 2024 lalu tidak mencukupi ambang batas parlemen. Berbagai nama pun muncul ke permukaan sebagai kandidat Caketum, termasuk nama Jokowi.

Menanggapi usulan yang mungkin mengejutkan banyak orang itu, Jokowi memberikan jawaban yang nggak kalah mengejutkan dan memancing spekulasi baru. Alih-alih memberi sinyal positif atau menolak halus, beliau malah menyebut nama partai lain.

“Yang di PPP, saya kira banyak caketum yang jauh lebih baik, yang punya kapasitas, kapabilitas, punya kompetensi. Banyak itu calon yang sudah beredar kan banyak. Saya di PSI saja lah,” kata Jokowi santai saat ditemui awak media di kediamannya di Kelurahan Sumber, Kecamatan Banjarsari, Kota Solo, seperti dikutip dari detikJateng.


Ini adalah momen krusial yang memicu perbincangan soal kemana Jokowi akan berlabuh secara politik setelah tidak lagi di Istana. Pernyataan “Saya di PSI saja lah” ini bisa diartikan macam-macam. Apakah ini cuma guyonan khas Jokowi yang suka bikin kejutan dengan statement ringan tapi punya implikasi politik? Atau ini memang kode keras bahwa hatinya condong ke partai yang kini dipimpin oleh putranya, Kaesang Pangarep, sebagai Ketua Umum?

Konteksnya adalah pertanyaan soal PPP, tapi jawabannya malah lari ke PSI. Ini menunjukkan bahwa PSI memang ada dalam benak Jokowi saat ini, setidaknya sebagai opsi yang terlintas di pikirannya. Mengingat Kaesang adalah Ketum PSI, pernyataan ini jelas menguatkan anggapan kedekatan Jokowi dengan partai berlambang bunga mawar itu.

Kenapa PSI? Kenapa Bukan PPP?

Pilihan Jokowi menyebut PSI tentu bukan tanpa alasan. PSI adalah partai yang secara terbuka sangat loyal dan mendukung penuh kepemimpinan Jokowi selama ini. Mereka bahkan sering disebut sebagai ‘Partai Solidaritas Jokowi’. Puncaknya, putra bungsu Jokowi, Kaesang Pangarep, resmi menjadi Ketua Umum PSI menjelang Pemilu 2024 lalu. Langkah ini semakin mengaitkan PSI dengan keluarga Jokowi.

Meskipun perolehan suara PSI di Pileg 2024 juga belum berhasil menembus ambang batas parlemen, partai ini tetap menjadi sorotan karena posisi Kaesang dan kedekatannya dengan Jokowi. Jika Jokowi memang benar-benar memutuskan bergabung dengan partai politik setelah masa jabatannya habis, PSI adalah salah satu opsi yang paling masuk akal dari sudut pandang hubungan personal dan ideologis (maksudnya, ideologi yang pro-Jokowi).

Di sisi lain, menyebutkan bahwa calon ketua umum PPP yang beredar “jauh lebih baik” daripada dirinya adalah cara halus Jokowi untuk menolak usulan tersebut. Ini juga bisa diartikan sebagai bentuk penghargaan terhadap kader-kader internal PPP yang memang punya kapasitas. Jokowi seolah ingin mengatakan, biarlah PPP mengurus rumah tangganya sendiri dengan kader terbaiknya, dan dirinya punya ‘opsi’ lain di luar sana.

Perbedaan PSI dan PPP juga cukup signifikan. PSI adalah partai baru dengan basis pemilih yang cenderung muda dan perkotaan, serta identik dengan semangat anti-korupsi dan toleransi. PPP adalah partai Islam yang sudah berdiri lama dan punya basis tradisional di kalangan umat Muslim, meskipun belakangan sedang berjuang mengembalikan kejayaannya. Memilih PSI daripada PPP (jika memang ada pilihan nyata) bisa jadi cerminan preferensi politik Jokowi yang mungkin lebih condong ke partai yang dianggap lebih ‘modern’ atau sejalan dengan visi kerjanya selama ini.

Spekulasi dan Kemungkinan Pasca-Presiden

Pernyataan Jokowi dan saran dari NasDem ini membuka banyak spekulasi tentang apa yang akan dilakukan Jokowi setelah lengser pada Oktober 2024 nanti. Apakah beliau akan benar-benar “menikmati hidup tenang” ala SBY, menjauh dari hingar bingar politik praktis dan hanya memberikan wejangan dari jauh? Atau apakah beliau akan tetap aktif, mungkin dengan menjadi ketua umum PSI, atau setidaknya menjadi sosok yang sangat berpengaruh di balik layar PSI?

Menjadi ketua umum PSI bukanlah hal yang mustahil, mengingat kedekatannya dengan Kaesang dan posisi PSI yang memang membutuhkan figur kuat untuk mendongkrak citra dan elektabilitas mereka di masa depan. Jokowi bisa memberikan ‘magnet’ politik yang luar biasa bagi PSI jika beliau memutuskan bergabung atau bahkan memimpin partai itu.

Namun, saran dari Sahroni untuk mencontoh SBY juga patut direnungkan. Kehidupan pasca-presiden yang tenang dan fokus pada keluarga atau kegiatan non-politik mungkin akan lebih baik bagi kesehatan dan reputasi Jokowi dalam jangka panjang. Terlalu aktif di politik praktis setelah 10 tahun menjabat bisa berisiko menggerus citra sebagai mantan presiden yang harusnya menjadi milik semua golongan.

Di sisi lain, gagasan menyerahkan urusan politik pada anak dan menantu juga menarik. Ini bisa jadi sinyal bahwa Jokowi akan tetap terlibat, tapi peran utamanya adalah sebagai mentor atau pembina bagi Gibran dan Bobby. Beliau mungkin tidak lagi berada di garis depan, tapi tetap menjadi ‘jenderal’ yang memberikan arahan strategis dari balik layar. Ini adalah model keterlibatan politik yang berbeda dengan menjadi ketua umum partai, misalnya.

Situasi politik pasca-2024 akan sangat dinamis. Koalisi politik akan berubah, kekuatan partai-partai akan bergeser. Di tengah dinamika itu, posisi dan peran seorang mantan presiden seperti Jokowi akan sangat diperhatikan. Apakah beliau akan memilih jalur ‘pensiun’ politik yang tenang, atau tetap menjadi pemain kunci dengan cara yang berbeda? Saran dari NasDem ini menawarkan salah satu opsi yang bisa dipertimbangkan, yaitu opsi ‘tenang’ ala SBY sambil memberikan panggung lebih luas bagi generasi penerusnya.

Yang jelas, pernyataan santai Jokowi soal PSI ini berhasil mengalihkan perhatian dari isu Caketum PPP dan justru memunculkan pertanyaan besar soal masa depan politiknya sendiri. Dan saran ‘adem’ dari Sahroni NasDem menambah dimensi lain dalam diskusi tersebut, mengingatkan bahwa ada pilihan hidup pasca-presidensi yang mungkin lebih damai dan berfokus pada hal-hal personal dan keluarga.

Video Terkait:

Meskipun tidak ada video spesifik dari artikel asli yang bisa disematkan, mari kita lihat cuplikan perbincangan tentang bagaimana seharusnya masa pensiun seorang presiden idealnya:



*Video hanyalah ilustrasi diskusi publik mengenai masa pensiun seorang presiden.*


Jadi, ke mana kira-kira Pak Jokowi akan berlabuh setelah Oktober 2024? Apakah akan benar-benar ke PSI? Atau mengikuti saran Sahroni untuk menikmati hidup ala SBY? Atau malah ada skenario lain yang belum terpikirkan? Yang pasti, langkah Jokowi selanjutnya akan terus menarik perhatian publik dan pengamat politik.

Gimana nih menurut kalian? Setuju nggak sama saran dari NasDem? Atau kalian punya prediksi lain soal masa depan politik Pak Jokowi? Yuk, sharing pendapat di kolom komentar!

Posting Komentar