Khutbah Idul Adha 2025: Makna Ikhlas Berkurban, Yuk Simak!

Table of Contents

Idul Adha 1446 Hijriah sudah ditetapkan akan jatuh pada hari Jumat, 6 Juni 2025. Momen spesial ini identik dengan ibadah Sholat Idul Adha dan tentu saja, ibadah kurban. Saat Sholat Id, salah satu bagian penting yang dinantikan adalah khutbah. Khutbah Idul Adha punya peran penting untuk mengingatkan kita akan makna Hari Raya Kurban ini.

Khutbah Idul Adha 2025 kali ini mengangkat tema yang sangat relevan, yaitu ikhlas dalam berkurban. Tema ini bukan cuma soal menyembelih hewan, tapi juga tentang bagaimana kita memaknai pengorbanan itu sendiri dengan hati yang tulus hanya karena Allah SWT. Pesan keikhlasan ini penting banget jadi pegangan buat kita semua yang merayakan.

Khutbah Idul Adha Makna Ikhlas Berkurban

Khutbah Idul Adha 2025 Tema Ikhlas Berkurban

Berikut ini adalah contoh teks khutbah Idul Adha 2025 dengan tema ikhlas berkurban, yang bisa jadi referensi buat para khotib atau sekadar bahan renungan buat kita semua.

Khutbah I

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، (3 مَرَّاتٍ) وَللهِ الْحَمْدُ. اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِللهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا، وَنَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ، وَرَحْمَتُهُ الْمُهْدَاةُ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْأَمِيْنِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الطَّيِّبِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَأُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ، الْقَائِلِ فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: إِنَّآ أَعۡطَيۡنَٰكَ ٱلۡكَوۡثَرَ ۞ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنۡحَرۡ ۞ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ ٱلۡأَبۡتَرُ

Hadirin Jemaah Idul Adha yang dimuliakan Allah Swt.

Pagi ini kita berkumpul di sini, di tempat yang mulia ini, untuk menunaikan salah satu ibadah agung, yaitu Sholat Idul Adha. Ini bukan sekadar tradisi tahunan, tapi sebuah momen istimewa untuk kembali merajut kedekatan kita dengan Sang Khaliq. Setiap gerakan ruku’ dan sujud kita adalah bukti ketundukan dan pengakuan bahwa kita hanyalah hamba di hadapan Kebesaran-Nya.

Kumandang takbir, tahmid, dan tahlil yang tiada henti kita lantunkan sejak malam tadi, adalah getaran jiwa yang paling dalam. Allahu Akbar! Allah Maha Besar. Kalimat ini mengingatkan kita bahwa tidak ada satu pun di dunia ini yang lebih besar, lebih agung, dan lebih berhak kita prioritaskan melebihi Allah. Semoga takbir ini bukan hanya di lisan, tapi meresap ke dalam hati, mengikis semua kesombongan dan keangkuhan yang seringkali menghalangi kita mendekat kepada-Nya.

Saudaraku seiman,

Hari ini juga kita kenal sebagai Hari Raya Haji. Di waktu yang sama saat kita menikmati momen Idul Adha bersama keluarga dan tetangga, jutaan saudara seiman kita dari seluruh penjuru dunia sedang berkumpul di Padang Arafah. Mereka dalam balutan kain putih sederhana, pakaian ihram, yang melambangkan kesetaraan dan persatuan di hadapan Allah, tanpa memandang status sosial, kekayaan, atau jabatan.

Di Padang Arafah, mereka berseru dengan kalimat talbiyah yang menggetarkan jiwa:
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ لَا شَرِّيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ

Labaik Allahumma labaika La baika La Syarriika Laka Labaik

Artinya: Aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah, aku datang. Aku datang memenuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, aku datang.

Ini adalah ikrar ketundukan total dan cinta yang mendalam kepada Allah. Dari ibadah haji, kita belajar banyak hal: tentang persaudaraan global, tentang kesederhanaan, dan yang terpenting, tentang fokus hanya kepada Allah semata. Semua perbedaan duniawi sirna, yang tersisa hanyalah status kita sebagai hamba Allah.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Selain Hari Raya Haji, hari ini juga disebut Idul Qurban, yang secara harfiah berarti hari penyembelihan. Namun, makna qurban jauh lebih dalam dari sekadar prosesi menyembelih hewan. Kata ‘qurban’ sendiri berasal dari kata bahasa Arab qaruba yang artinya dekat. Jadi, ibadah kurban pada hakikatnya adalah upaya kita untuk mendekatkan diri kepada Allah. Caranya, dengan mengorbankan sebagian rezeki berupa hewan ternak, lalu dagingnya kita bagikan kepada mereka yang membutuhkan, khususnya kaum fakir dan miskin. Ini adalah wujud kemanusiaan dan solidaritas sosial yang tinggi dalam Islam.

Namun, hikmah terbesar dari ibadah kurban ini tak bisa dilepaskan dari kisah luar biasa yang menjadi akar sejarahnya: kisah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, istrinya Siti Hajar, dan putra tercinta mereka, Ismail ‘alaihis salam. Kisah ini adalah epitome atau puncak dari makna pengorbanan, kesabaran, dan keteguhan iman kepada Allah.

Mari kita renungkan kembali sejenak kisah Nabi Ibrahim. Beliau mendapat perintah yang sangat berat: membawa istri dan anaknya yang masih bayi ke sebuah lembah yang tandus, gersang, dan jauh dari peradaban – lembah yang kini kita kenal sebagai Makkah. Jaraknya ribuan kilometer dari tempat tinggal mereka di Palestina. Secara logika manusia, perintah ini tidak masuk akal. Bagaimana mungkin meninggalkan keluarga kecil di tempat yang sama sekali tidak menjanjikan kehidupan?

Namun, Nabi Ibrahim dan Siti Hajar menunjukkan ketaatan yang luar biasa. Tidak ada protes, tidak ada keraguan yang berlarut-larut. Mereka pasrah sepenuhnya kepada kehendak Allah, dengan keyakinan yang kokoh bahwa Allah tidak akan pernah menelantarkan hamba-Nya yang berserah diri. Ini adalah pelajaran pertama: percaya penuh pada janji dan pertolongan Allah, bahkan dalam situasi tersulit sekalipun.

Ketika perbekalan air habis, Siti Hajar, dengan naluri keibuan dan semangat pantang menyerah yang luar biasa, berlari bolak-balik antara dua bukit, Shafa dan Marwah, mencari air untuk putranya yang kehausan. Tujuh kali ia berlari, dalam keputusasaan namun tanpa henti berikhtiar dan berdoa. Dan di titik keputusasaan itulah, pertolongan Allah datang.

Melalui hentakan kaki Malaikat Jibril, atau menurut riwayat lain hentakan kaki Ismail, memancarlah air yang jernih dan melimpah: Air Zamzam. Air ini tidak hanya memuaskan dahaga Hajar dan Ismail, tetapi juga menjadi magnet bagi kehidupan. Orang-orang mulai berdatangan, permukiman terbentuk, dan lambat laun lembah tandus itu berubah menjadi kota yang makmur dan diberkahi. Inilah bukti nyata bahwa kesabaran dalam berikhtiar dan ketulusan dalam berdoa akan mendatangkan keajaiban dari Allah.

Allah sendiri mengabadikan doa Nabi Ibrahim untuk kota ini dalam Al-Qur’an:

وَاِذۡ قَالَ اِبۡرٰهٖمُ رَبِّ اجۡعَلۡ هٰذَا بَلَدًا اٰمِنًا وَّارۡزُقۡ اَهۡلَهٗ مِنَ الثَّمَرٰتِ مَنۡ اٰمَنَ مِنۡهُمۡ بِاللّٰهِ وَالۡيَوۡمِ الۡاٰخِرِ

Wa iż qāla ibrāhīmu rabbij‘al hāżā baladan āminaw warzuq ahlahū minaṡ-ṡamarāti man āmana minhum billāhi wal-yaumil-ākhir(i)

Artinya: “(Ingatlah) ketika Ibrahim berdoa, “Ya Tuhanku, jadikanlah (negeri Makkah) ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan (hasil tanaman, tumbuhan yang bisa dimakan) kepada penduduknya, yaitu orang yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari Akhir.” (QS Al-Baqarah: 126).

Dan lihatlah Makkah hari ini! Ia adalah pusat peradaban Islam, kota yang selalu ramai, aman, dan penuh berkah. Jutaan orang datang setiap tahun. Infrastruktur modern berdiri kokoh. Ini semua adalah buah dari pengorbanan di masa lalu, doa yang tulus, dan janji Allah. Allah bahkan menegaskan bahwa rezeki dan kesenangan di dunia ini tidak hanya diberikan kepada orang beriman, melainkan juga kepada mereka yang kufur, meskipun itu hanya kesenangan sementara sebelum akhirnya kembali kepada azab neraka.

قَالَ وَمَن كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُۥ قَلِيلًا ثُمَّ أَضۡطَرُّهُۥٓ إِلَىٰ عَذَابِ ٱلنَّارِۖ وَبِئۡسَ ٱلۡمَصِيرُ

qāla wa man kafara fa umatti‘uhū qalīlan ṡumma aḍṭarruhū ilā ‘ażābin-nār(i), wa bi’sal-maṣīr(u).

Artinya: Allah berfirman: “Dia (Allah) berfirman, “Siapa yang kufur akan Aku beri kesenangan sementara, kemudian akan Aku paksa dia ke dalam azab neraka. Itulah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. Al-Baqarah: 126).

Saudaraku yang dimuliakan Allah,

Kembali ke inti Idul Adha, kisah yang paling menggetarkan adalah perintah untuk mengorbankan Ismail. Bayangkan, anak yang didamba sekian lama, hadir di masa tua, tiba-tiba diperintahkan untuk disembelih. Ini bukan ujian biasa. Ini adalah ujian cinta yang paling dalam: apakah cinta kepada anak bisa mengalahkan cinta kepada Allah?

Nabi Ibrahim adalah Khalilullah, kekasih Allah. Gelar ini tidak didapat sembarangan. Beliau adalah pribadi yang imannya kokoh, hatinya berpaut hanya kepada Allah. Kekayaan melimpah, keluarga harmonis, semua itu tidak sedikitpun menggeser posisi Allah di hatinya. Beliau sadar, semua adalah titipan, dan siap mengembalikan titipan itu kapan pun Allah berkehendak, seberapapun berharganya.

Ketika perintah datang melalui mimpi, Nabi Ibrahim tidak ragu. Beliau justru mengajak bicara Ismail. Dialog antara ayah dan anak ini tercatat dalam Al-Qur’an, menunjukkan kedewasaan iman Ismail yang luar biasa di usia belia.

قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيۡۤ اَرٰى فِي الۡمَنَامِ اَنِّيۡۤ اَذۡبَحُكَ فَانۡظُرۡ مَاذَا تَرٰىؕ قَالَ يٰۤاَبَتِ افۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُ سَتَجِدُنِيۡۤ اِنۡ شَآءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيۡنَ

qāla yā bunayya innī arā fil-manāmi annī aḍbaḫuka fanṱur mā tarā, qāla yā abatif‘al mā tu’mar(u), satajidunī in syā‘allāhu minaṣ-ṣābirīn(a).

Artinya: Ibrahim berkata: “Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku akan menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.” (QS As-shaffat: 102).

Subhanallah! Jawaban Ismail sungguh mengagumkan. Tidak ada tangis, tidak ada ketakutan, hanya kepasrahan dan kesiapan untuk taat kepada Allah, bahkan dalam menghadapi kematian di tangan ayahnya sendiri. Ini adalah contoh sempurna dari makna ikhlas: melakukan sesuatu hanya karena perintah Allah, seberat apapun itu.

Di tengah perjalanan menuju tempat penyembelihan, bahkan saat sudah tiba di sana, godaan datang menghampiri. Iblis tidak tinggal diam. Ia mencoba menggoyahkan keimanan Ibrahim, Hajar, dan Ismail. Dibisikkannya keraguan, dibangkitkannya rasa sayang manusiawi yang sangat kuat. Tapi kokohnya keimanan keluarga ini membuat iblis tak berdaya. Mereka melempari iblis dengan batu, simbol perlawanan terhadap godaan syaitan. Momen ini diabadikan dalam ibadah haji, lempar jumrah, sebagai pengingat bahwa dalam setiap langkah ketaatan, akan selalu ada godaan yang harus kita tolak dan lawan.

Saat detik-detik krusial tiba, Ibrahim membaringkan putranya. Hati seorang ayah pasti teriris, namun keteguhan iman mengalahkan segalanya. Ismail pun berserah diri sepenuhnya. Ia bahkan meminta ayahnya menajamkan pisau dan membaringkannya agar prosesnya cepat dan tidak menyulitkan ayahnya. Ia ingin memudahkan ayahnya dalam menjalankan perintah Allah. Sungguh akhlak yang mulia!

Ketika pisau itu benar-benar diletakkan di leher Ismail, keajaiban Allah pun terjadi. Pisau yang tajam itu tidak mampu melukai Ismail. Atas izin Allah, pisau itu kehilangan fungsinya. Mengapa? Karena Allah tidak menghendaki Ismail terbunuh. Perintah itu adalah ujian keikhlasan Ibrahim dan Ismail, bukan eksekusi nyawa. Allah telah menyaksikan puncak ketaatan dan keikhlasan hamba-Nya.

Saat itulah, datang seruan dari langit, dan seekor domba besar (atau kibas) diutus sebagai pengganti Ismail. Ini adalah karunia dan kasih sayang Allah yang luar biasa.

وَفَدَيۡنٰهُ بِذِبۡحٍ عَظِيۡمٍۙ‏

Wa fadaināhu biżibḥin ‘aẓīm(in).

Artinya: “Kami menebusnya dengan seekor (hewan) sembelihan yang besar.” (QS. As-Shaffat:107)

Kisah ini bukan tentang kekerasan, tapi tentang cinta yang tulus kepada Allah yang mengalahkan cinta duniawi, betapapun berharga objeknya. Ini tentang ikhlas berkorban demi meraih kedekatan dengan Allah.

وَلَقَدۡ تَّرَكۡنَا عَلَيۡهِ فِي الۡاٰخِرِيۡنَۖ‏

Wa taraknā ‘alaihi fil-ākhirīn(a).

Artinya: “Kami mengabadikan untuknya (pujian) pada orang-orang yang datang kemudian.” (QS. As-Shaffat:108)

سَلٰمٌ عَلٰٓى اِبۡرٰاهِيۡمَ

Salāmun ‘alā ibrāhīm(a).

Artinya: “Salam sejahtera atas Ibrahim.” (QS. As-Shaffat:109)

كَذٰلِكَ نَجۡزِي الۡمُحۡسِنِيۡنَ

Każālika najzil-muḥsinīn(a).

Artinya: “Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. As-Shaffat:110)

Subhanallah. Allah mengabadikan kisah ini dan memberikan salam sejahtera kepada Nabi Ibrahim, sebagai balasan atas kebaikan dan keikhlasan beliau. Ini adalah jaminan dari Allah bahwa setiap pengorbanan yang dilandasi keikhlasan pasti akan mendapat balasan terbaik dari-Nya.

Hadirin Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah,

Dari kisah agung ini, kita bisa memetik banyak pelajaran berharga untuk kehidupan kita hari ini:

  1. Peran Orang Tua: Pentingnya menanamkan iman dan ketaatan kepada anak sejak dini. Ibrahim dan Hajar telah mencontohkan bagaimana mendidik anak hingga memiliki keimanan sekokoh Ismail, yang bahkan siap berkorban demi perintah Allah.
  2. Ketaatan Mutlak: Semua perintah Allah, seberat apapun, harus diterima dengan lapang dada dan dijalankan dengan penuh keyakinan. Yakinlah bahwa di balik setiap perintah-Nya ada hikmah dan kebaikan yang luar biasa bagi kita.
  3. Makna Ikhlas: Ikhlas adalah kunci diterimanya amal ibadah. Qurban bukan dinilai dari besar atau mahal hewan sembelihannya, tapi dari seberapa tulus hati kita saat melaksanakannya, semata-mata karena Allah.
  4. Pengorbanan Tanpa Henti: Semangat berkorban tidak berhenti pada Idul Adha. Dalam kehidupan sehari-hari, kita juga dituntut berkorban: mengorbankan waktu untuk beribadah, mengorbankan harta untuk bersedekah, mengorbankan perasaan untuk memaafkan, mengorbankan kenyamanan untuk menolong sesama. Semua itu adalah wujud pengorbanan demi mendekatkan diri kepada Allah.

Jama’ah Idul Adha yang berbahagia,

Idul Adha adalah pengingat bahwa kita semua sama di hadapan Allah. Yang membedakan hanyalah ketakwaan kita. Semangat berkorban yang diajarkan Idul Adha ini harus kita terapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Mengorbankan ego pribadi demi kepentingan bersama, mengorbankan waktu dan tenaga untuk membangun negeri, mengorbankan sebagian rezeki untuk membantu sesama yang membutuhkan.

Nabi Ibrahim dan keluarganya adalah teladan pengorbanan yang melahirkan peradaban. Dari ketaatan mereka, berdirilah Makkah, pusat peradaban Islam. Dari ikhlas mereka, mengalirlah Air Zamzam yang tak pernah kering, menjadi sumber kehidupan dan keberkahan bagi jutaan orang.

Semoga Idul Adha tahun ini menjadi momen refleksi bagi kita semua. Semoga semangat ikhlas berkurban tidak hanya tercermin dari hewan yang kita sembelih, tetapi juga dari kesediaan kita mengorbankan apa pun yang kita miliki – waktu, tenaga, harta, bahkan ego – demi meraih ridha Allah dan demi kemaslahatan umat, bangsa, dan negara kita tercinta.

Amin, amin, amin ya Rabbal ‘Alamin.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، (2 مَرَّاتٍ)، اَللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ. اَلْحَمْدُ لِلّهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنُ.

أَمَّا بَعْدُ، فَأُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاتَّقُوا اللهَ تَعَالَى فِيْ هٰذَا الْيَوْمِ الْعَظِيْمِ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّـنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الطَّيِّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ الصَّالِحِيْنَ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ عِيْدَنَا هٰذَا سَعَادَةً وَتَلَاحُمًا، وَمَسَرَّةً وَتَرَاحُمًا، وَزِدْنَا فِيْهِ طُمَأْنِيْنَةً وَأُلْفَةً، وَهَنَاءً وَمَحَبَّةً، وَأَعِدْهُ عَلَيْنَا بِالْخَيْرِ وَالرَّحَمَاتِ، وَالْيُمْنِ وَالْبَرَكَاتِ، اَللّٰهُمَّ اجْعَلِ الْمَوَدَّةَ شِيْمَتَنَا، وَبَذْلَ الْخَيْرِ لِلنَّاسِ دَأْبَنَا، اَللّٰهُمَّ أَدِمِ السَّعَادَةَ عَلَى وَطَنِنَا، وَانْشُرِ الْبَهْجَةَ فِيْ بُيُوْتِنَا، وَاحْفَظْنَا فِيْ أَهْلِيْنَا وَأَرْحَامِنَا، وَأَكْرِمْنَا بِكَرَمِكَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ الأَبْرَارِ، يَا عَزِيْزُ يَا غَفَّارُ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، عِيْدٌ سَعِيْدٌ وَكُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ.

Semoga khutbah ini memberikan pencerahan dan pengingat bagi kita semua akan pentingnya keikhlasan dalam setiap ibadah, khususnya ibadah kurban. Mari jadikan Idul Adha ini sebagai momentum untuk meningkatkan ketaatan dan kepedulian sosial kita.

Bagaimana pendapatmu tentang makna keikhlasan dalam berkurban ini? Yuk, berbagi pikiran di kolom komentar!

Posting Komentar