Nggak Nyangka! Jepang Larang Nama Bayi Aneh Kayak Pikachu & Nike

Table of Contents

Mungkin kalau mampir ke Jepang, kamu bakal ketemu orang yang punya nama nggak biasa, sebut saja “Nike”, “Pikachu”, atau bahkan “Pudding”. Ya, ini bukan bercanda, lho! Nama-nama kayak gini memang sempat jadi tren, meskipun jumlahnya masih sedikit. Tren ini muncul karena banyak orang tua di sana pengen nama anaknya beda dari yang lain, biar nggak kelihatan pasaran atau terlalu tradisional.


Jepang larang nama bayi aneh


Tapi, rupanya tren ini mulai menuai kritik. Bukan apa-apa, nama-nama unik ini katanya bikin pusing pihak-pihak seperti rumah sakit, sekolah, sampai kantor pemerintahan. Bayangin aja, mereka harus ngurusin dokumen dengan nama yang pelafalannya susah ditebak atau nggak standar. Ribet, kan?

Aturan Baru Soal Nama Kirakira

Nah, nggak mau ambil pusing terus-terusan, akhirnya pemerintah Jepang turun tangan. Sejak Senin (3/6) lalu, ada aturan baru yang mulai berlaku. Aturan ini intinya membatasi pemberian nama yang mereka sebut “kirakira”. “Kirakira” sendiri artinya “berkilau”, dan istilah ini dipakai buat nyebut nama-nama yang pelafalannya anti-mainstream, beda jauh dari cara baca kanji yang standar.

Keputusan pemerintah ini langsung bikin heboh di media sosial. Ada yang setuju, tapi banyak juga yang nggak terima. Perdebatan pun nggak terhindarkan.

“Lah, bukannya anak itu hak orang tua ya, kok malah negara yang ngatur?” protes seorang warganet di platform X (dulu Twitter).

Ada juga yang berkomentar sinis, “Nama unik kayak gitu cuma bikin anak di-bully aja nanti.”

“Jangan larang nama kirakira! Itu cara paling gampang buat tahu seberapa cerdas orang tuanya,” timpal warganet lain dengan nada menyindir.

Kontroversi ini memang menarik buat dibahas. Di satu sisi, orang tua pasti pengen ngasih nama terbaik dan seunik mungkin buat buah hati mereka. Tapi di sisi lain, pemerintah punya alasan logis terkait administrasi dan pelafalan standar.

Kanji dan Problem Pelafalan

Buat yang belum tahu, sistem penulisan di Jepang itu cukup kompleks. Mereka pakai beberapa jenis aksara, salah satunya kanji yang diadaptasi dari aksara China. Nah, satu huruf kanji ini bisa punya banyak cara baca atau pelafalan, tergantung konteksnya. Ada yang disebut on-yomi (cara baca ala China) dan kun-yomi (cara baca ala Jepang).

Dalam kasus nama kirakira yang ngetren sejak era 1980-an, para orang tua ini seringnya milih kanji berdasarkan bunyi yang mereka suka, bukan berdasarkan pelafalan kanji yang lazim atau standar. Misalnya, mereka mungkin pakai kanji tertentu yang kalau dibaca standar artinya A, tapi mereka pengen nama anaknya dibaca B, cuma karena bunyi B itu lucu atau unik. Contoh paling gampang ya “Pikachu” tadi. Huruf kanji buat “Pikachu” mungkin ada, tapi itu disusun cuma buat dapet bunyi “Pikachu”, yang mana pelafalan itu nggak lumrah buat kanji tersebut.

Ini tuh mirip-mirip tren di luar negeri juga, sih. Kayak di Amerika Serikat, ada orang tua yang ngasih nama anaknya “Ashleigh” padahal cara bacanya sama kayak “Ashley”, atau nulis “Catelynn” buat nama yang dibaca “Caitlin”. Intinya, ejaan atau penulisan nggak sesuai sama pelafalan standar.

Nah, aturan baru di Jepang ini maksa biar pelafalan nama itu harus nyambung atau sesuai sama cara baca kanji yang standar. Kalau petugas catatan sipil ngerasa pelafalannya nggak sesuai atau terlalu maksa, mereka punya hak buat nolak pendaftaran nama tersebut. Tujuannya jelas, biar nggak ada lagi kebingungan atau kesulitan pas ngurus dokumen atau manggil nama orang.

Bukan Cuma Soal Nama Depan: Debat Nama Keluarga

Sebenarnya, urusan nama ini bukan kali pertama jadi perdebatan panas di Jepang. Negeri Matahari Terbit ini punya aturan unik soal nama keluarga. Sampai sekarang, secara hukum, pasangan yang menikah wajib pakai satu nama keluarga yang sama. Ini beda banget sama kebanyakan negara maju lainnya yang udah ngebebasin urusan nama keluarga setelah nikah.

Biasanya, yang terjadi adalah si istri ngikutin nama keluarga suaminya. Aturan ini udah lama banget ditentang sama para aktivis kesetaraan gender. Soalnya, pernikahan sesama jenis juga belum sah di Jepang, jadi aturan ini makin terasa diskriminatif buat beberapa kalangan.

Muncul gerakan kuat buat ngerubah aturan nama keluarga ini. Yang paling vokal ya para pejuang hak-hak perempuan dan mereka yang pengen keragaman nama keluarga di Jepang tetap lestari. Maklum, kalau istri selalu ganti nama ngikut suami, lama-lama nama keluarga yang ada di Jepang jadi makin sedikit dan itu-itu aja.

Nama depan memang sempat jadi pelarian atau ruang eksperimen buat orang tua yang pengen anaknya punya identitas unik, terutama di tengah aturan nama keluarga yang dianggap kaku. Tapi ya itu tadi, “pelarian” ini pun sekarang dibatasi sama aturan baru.

Nama Unik: Cerminan Individualisme?

Sebuah penelitian di tahun 2022 yang menganalisis nama-nama bayi dari buletin lokal selama beberapa dekade nunjukkin satu tren menarik. Makin banyak orang yang dikasih nama nggak biasa dalam 40 tahun terakhir. Studi ini bilang, tren ini nunjukkin adanya pergeseran nilai di Jepang ke arah pencarian keunikan dan kemandirian.

Pergeseran ini nggak cuma kelihatan dari pemilihan nama, tapi juga di area lain kehidupan sosial di Jepang, kayak struktur keluarga dan nilai-nilai masyarakat secara umum. Jepang yang dulunya sangat komunal dan mengutamakan keharmonisan kelompok, pelan-pelan mulai ada bibit-bibit individualisme, meskipun nggak sekuat di budaya Barat.

Yang menarik lagi, penelitian itu nemuin kalau anak perempuan itu lebih sering dikasih nama kirakira dibanding anak laki-laki. Peneliti menduga ini bisa jadi karena orang tua punya harapan yang lebih kuat buat anak perempuan mereka agar jadi sosok yang unik dan mandiri. Mungkin ada ekspektasi tersembunyi agar anak perempuan kelak bisa punya pilihan hidup yang lebih luas, nggak cuma terbatas pada peran-peran tradisional.

Jepang Bukan Satu-satunya yang Repot Soal Nama

Kalau dipikir-pikir, tren nama bayi nggak biasa ini nggak cuma kejadian di Jepang, lho. Di banyak negara lain juga ada.

Studi tahun 2016 di Amerika Serikat misalnya, nemuin kalau orang tua di sana makin sering milih nama yang nggak umum antara tahun 2004 sampai 2015. Peneliti menafsirkan ini juga sebagai bukti peningkatan individualisme dalam budaya Amerika. Masyarakat makin menghargai perbedaan dan keunikan diri.

Di China juga begitu. Pertumbuhan ekonomi yang pesat dan mobilitas sosial ke atas bikin orang-orang sekarang lebih menghargai individualisme dan otonomi dibanding generasi sebelumnya. Ini tercermin dari makin banyak orang tua yang milih karakter kanji yang unik buat nama bayi mereka. Sama kayak di Jepang, studi tahun 2018 di China nemuin kalau anak perempuan di sana lebih mungkin punya nama yang nggak biasa dibanding anak laki-laki. Ini bisa jadi karena “pengalaman orang tua” yang beda, atau mungkin karena tekanan sosial buat anak laki-laki agar punya nama yang lebih “kuat” atau “tradisional” masih lebih besar.

Tapi, meskipun tren nama unik ini global, banyak negara juga punya aturan ketat soal nama yang boleh dipakai.

Di Amerika Serikat, aturannya beda-beda di tiap negara bagian. Misalnya, di California, nama cuma boleh pakai 26 karakter alfabet Inggris. Ini sempat jadi masalah pas Elon Musk dan Grimes mau namain anak mereka “X Æ A-12”. Akhirnya mereka terpaksa ganti sedikit jadi “X Æ A-Xii” supaya memenuhi aturan ejaan. Ya, meskipun cuma ganti angka jadi Romawi, setidaknya masih dalam batas toleransi aturan.

Di Jerman, pihak berwenang bisa nolak nama bayi kalau dianggap “menyinggung” atau berpotensi “membahayakan kepentingan terbaik anak”. Pernah kejadian, mereka nolak nama “Borussia” (nama tim sepak bola) atau “Gastritis” (nama penyakit). Alasannya jelas, nama-nama itu dinilai bakal nyusahin atau ngebahayain si anak di masa depan. Bayangin dipanggil “Gastritis” seumur hidup? Kasihan kan anaknya?

Selandia Baru juga punya aturan ketat. Salah satunya, mereka melarang penggunaan nama yang merujuk pada gelar kebangsawanan. Jadi, nama-nama kayak “King” (Raja) atau “Prince” (Pangeran) itu rutin banget ditolak sama petugas di sana. Mereka nggak mau nama seseorang terdengar seperti gelar atau pangkat.

Budaya dan Sejarah Penamaan di Jepang

Penamaan di Jepang punya sejarah panjang dan penuh makna. Nama-nama tradisional seringkali mencerminkan alam, musim, sifat-sifat baik yang diharapkan, atau bahkan keberuntungan. Misalnya, nama yang mengandung unsur “sakura” (bunga sakura) atau “haru” (musim semi) itu populer. Nama-nama laki-laki seringkali menggunakan kanji yang berarti kekuatan, kebajikan, atau pangkat.

Pemilihan kanji untuk nama sangat penting, bukan hanya karena maknanya, tapi juga jumlah guratan (goresan) dalam kanji tersebut kadang dihubungkan dengan keberuntungan seseorang menurut kepercayaan tradisional atau feng shui nama. Jadi, memberi nama itu bukan perkara sepele, ada banyak pertimbangan filosofis dan kultural di baliknya.

Seiring waktu, tren nama di Jepang memang berubah. Ada masa-masa di mana nama dengan akhiran tertentu jadi populer, atau nama yang terinspirasi dari tokoh sejarah/fiksi. Tapi, tren nama kirakira ini dianggap sebagai lompatan yang cukup drastis karena melanggar kaidah pelafalan kanji yang sudah mapan. Ini yang bikin banyak pihak, terutama generasi tua atau yang menjunjung tinggi tradisi, merasa keberatan. Mereka khawatir nama-nama ini bakal memutuskan hubungan antara generasi muda dengan kekayaan bahasa dan budaya Jepang yang terangkum dalam kanji.

Di sisi lain, para pendukung nama kirakira berpendapat bahwa bahasa itu dinamis. Penamaan adalah bentuk ekspresi pribadi dan hak asasi. Membatasi pilihan nama dianggap mengekang kreativitas dan individualitas. Mereka juga berargumen bahwa kesulitan administratif seharusnya diatasi dengan sistem yang lebih baik, bukan dengan membatasi hak orang tua.

Debat ini mencerminkan ketegangan yang lebih besar di Jepang antara tradisi dan modernisasi, antara nilai-nilai komunal dan individualisme, serta antara keinginan untuk melestarikan budaya dan kebutuhan untuk beradaptasi dengan perubahan zaman.

Penutup

Larangan nama bayi aneh atau “kirakira” di Jepang ini memang topik yang menarik, karena menyentuh banyak aspek, mulai dari budaya, bahasa, administrasi, sampai kebebasan pribadi. Keputusan pemerintah ini menunjukkan upaya untuk menyeimbangkan antara tren modern yang mengutamakan keunikan dengan kebutuhan praktis dan pelestarian kaidah bahasa.

Bagaimana menurutmu? Setujukah kamu dengan aturan pemerintah Jepang ini, atau kamu merasa orang tua punya hak penuh untuk menamai anaknya apa saja? Yuk, bagikan pendapatmu di kolom komentar!

Posting Komentar