Shalat Idul Adha Gampang: Niat, Bacaan, Sampai Salam, Ada di Sini!

Table of Contents

Shalat Idul Adha Gampang

Hari Raya Idul Adha, yang identik dengan ibadah kurban dan haji, adalah salah satu momen paling istimewa bagi umat Islam. Setiap tahun, tepat pada tanggal 10 Dzulhijjah, kita merayakan hari besar ini. Salah satu amalan sunnah yang sangat dianjurkan di pagi harinya adalah menunaikan Shalat Idul Adha secara berjamaah. Shalat ini menjadi penanda dimulainya rangkaian perayaan Hari Raya Kurban.

Pelaksanaan Shalat Idul Adha biasanya dilakukan di masjid, mushala, atau bahkan di lapangan terbuka yang luas untuk menampung ribuan jamaah. Shalat ini bersifat sunnah muakkadah, artinya sangat dianjurkan. Meski begitu, penting untuk diketahui bahwa shalat Idul Adha tetap sah dilaksanakan sendirian di rumah apabila ada udzur atau terlambat datang ke lokasi shalat berjamaah. Yang terpenting adalah tidak melewatkan kesempatan untuk beribadah di hari istimewa ini.

Shalat Idul Adha punya beberapa kekhasan yang membedakannya dengan shalat fardhu atau shalat sunnah lainnya. Salah satu perbedaan yang paling mencolok adalah tidak adanya azan dan iqamah sebelum shalat dimulai. Penanda dimulainya waktu shalat Idul Adha hanyalah terbitnya matahari.

Waktu terbaik untuk melaksanakan Shalat Idul Adha adalah di awal waktu setelah matahari terbit, kira-kira setinggi tombak atau sekitar pukul 06.00-07.00 pagi waktu setempat. Kenapa dianjurkan lebih pagi dibandingkan Shalat Idul Fitri? Tujuannya agar umat Islam punya waktu yang lebih panjang untuk melaksanakan penyembelihan hewan kurban setelah shalat dan mendistribusikan dagingnya. Batas akhir pelaksanaan Shalat Idul Adha adalah sebelum masuk waktu shalat Zuhur pada hari yang sama, 10 Dzulhijjah. Jadi, ada rentang waktu yang cukup longgar untuk melaksanakannya.

Buat kamu yang mungkin belum familiar atau ingin menyegarkan ingatan tentang tata cara Shalat Idul Adha, jangan khawatir! Ternyata, prosesnya cukup mudah dan tidak terlalu rumit. Kita akan bahas langkah demi langkahnya supaya kamu makin mantap menyambut Hari Raya Kurban nanti. Panduan ini merujuk pada penjelasan dari Ustadz H Mahbib Khoiron yang mengutip keterangan dari kitab Fashalatan karya Syekh KHR Asnawi, seorang tokoh ulama pendiri Nahdlatul Ulama. Mari kita simak baik-baik supaya ibadah Idul Adha kita makin sempurna.

Tata Cara Shalat Idul Adha Lengkap

Shalat Idul Adha terdiri dari dua rakaat. Sekilas mirip shalat biasa, tapi ada beberapa tambahan khusus, terutama pada jumlah takbir di setiap rakaatnya. Berikut rincian langkah demi langkahnya:

1. Niat Shalat Idul Adha

Setiap ibadah dimulai dengan niat di dalam hati. Niat ini menjadi penentu sah atau tidaknya ibadah yang kita kerjakan, serta membedakan satu ibadah dengan ibadah lainnya. Melafalkan niat sebelum takbiratul ihram hukumnya sunnah, tujuannya untuk menguatkan niat yang sudah ada di dalam hati.

Untuk Shalat Idul Adha, lafal niatnya disesuaikan dengan posisi kita saat shalat, apakah sebagai imam, makmum, atau shalat sendirian (munfarid).

Jika kamu shalat sendirian (munfarid), lafal niatnya (jika dilafalkan) adalah:
“Ushallî sunnatan li ‘îdil adlhâ rak’taini lillâhi ta’âlâ”

Ø£ُصَÙ„ِّÙŠ سُÙ†َّØ©ً Ù„ِعِÙŠْدِ الْØ£َضْØ­َÙ‰ رَÙƒْعَتَÙŠْÙ†ِ Ù„ِÙ„ّٰÙ‡ِ تَعََالٰÙ‰

Artinya: “Aku berniat shalat sunnah Idul Adha dua rakaat karena Allah ta’ala.”

Jika kamu shalat berjamaah sebagai makmum, lafal niatnya (jika dilafalkan) adalah:
“Ushallî sunnatan li ‘îdil adlhâ rak’taini makmûman lillâhi ta’âlâ”

Ø£ُصَÙ„ِّÙŠ سُÙ†َّØ©ً Ù„ِعِÙŠْدِ الْØ£َضْØ­َÙ‰ رَÙƒْعَتَÙŠْÙ†ِ Ù…َØ£ْÙ…ُÙˆْÙ…ًا Ù„ِÙ„ّٰÙ‡ِ تَعََالٰÙ‰

Artinya: “Aku berniat shalat sunnah Idul Adha dua rakaat menjadi makmum karena Allah ta’ala.”

Jika kamu shalat berjamaah sebagai imam, lafal niatnya (jika dilafalkan) adalah:
“Ushallî sunnatan li ‘îdil adlhâ rak’taini imâman lillâhi ta’âlâ”

Ø£ُصَÙ„ِّÙŠ سُÙ†َّØ©ً Ù„ِعِÙŠْدِ الْØ£َضْØ­َÙ‰ رَÙƒْعَتَÙŠْÙ†ِ Ø¥ِÙ…َامًا Ù„ِÙ„ّٰÙ‡ِ تَعََالٰÙ‰

Artinya: “Aku berniat shalat sunnah Idul Adha dua rakaat menjadi imam karena Allah ta’ala.”

Pastikan niat ini sudah mantap di dalam hati sebelum memulai takbiratul ihram. Niat yang tulus karena Allah SWT adalah kunci utama dalam setiap ibadah.

2. Rakaat Pertama: Dimulai dengan Takbiratul Ihram

Setelah mantap dengan niat, shalat dimulai dengan Takbiratul Ihram. Angkat kedua tangan setinggi telinga (untuk laki-laki) atau setinggi bahu (untuk perempuan) sambil mengucapkan “Allahu Akbar”. Saat mengucapkan takbiratul ihram, hati menghadirkan niat shalat Idul Adha. Setelah takbiratul ihram, turunkan tangan dan sedekap.

Setelah Takbiratul Ihram, disunnahkan membaca doa iftitah. Doa iftitah ini sama dengan doa iftitah pada shalat fardhu atau shalat sunnah lainnya. Doa ini berisi pujian dan pengagungan kepada Allah SWT. Meskipun sunnah, membaca doa iftitah sangat dianjurkan untuk menyempurnakan shalat kita di awal.

3. Takbir Tujuh Kali di Rakaat Pertama

Nah, ini dia salah satu ciri khas Shalat Idul Adha yang membedakannya. Setelah membaca doa iftitah, sebelum membaca Surat Al-Fatihah, kita melakukan takbir tambahan sebanyak tujuh kali. Setiap kali mengucapkan takbir, disunnahkan mengangkat tangan seperti saat takbiratul ihram, kemudian menurunkannya kembali dan bersedekap.

Di antara setiap takbir tambahan tersebut (setelah takbir kedua sampai ketujuh), disunnahkan membaca bacaan tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir. Ada beberapa versi bacaan yang bisa dipilih, di antaranya adalah:

Versi Pertama:

اللهُ Ø£َÙƒْبَرُ ÙƒَبِÙŠْرًا، ÙˆَالْØ­َÙ…ْدُ Ù„ِÙ„ّٰÙ‡ِ ÙƒَØ«ِÙŠْرًا، ÙˆَسُبْØ­َانَ اللهِ بُÙƒْرَØ©ً ÙˆَØ£َصِÙŠْÙ„ًا

Artinya: “Allah Mahabesar dengan segala kebesaran, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, Mahasuci Allah, baik waktu pagi dan petang.”

Versi Kedua:

سُبْØ­َانَ اللهِ ÙˆَالْØ­َÙ…ْدُ Ù„ِÙ„ّٰÙ‡ِ ÙˆَÙ„َا Ø¥ِÙ„ٰÙ‡َ Ø¥ِÙ„َّا اللهُ Ùˆَاللهُ Ø£َÙƒْبَرُ

Artinya: “Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, tiada tuhan selain Allah, Allah Mahabesar.”

Pilihlah salah satu bacaan yang kamu hafal atau lebih nyaman dibaca. Bacaan ini dibaca sebanyak enam kali, yaitu di sela-sela takbir kedua hingga ketujuh. Takbiratul ihram tidak dihitung dalam tujuh takbir tambahan ini. Jadi, urutannya: Takbiratul Ihram, Doa Iftitah, Takbir ke-1 (dari 7 tambahan) -angkat tangan-, Takbir ke-2 -angkat tangan- Bacaan Subhanallah…, Takbir ke-3 -angkat tangan- Bacaan Subhanallah…, dan seterusnya hingga Takbir ke-7 -angkat tangan- Bacaan Subhanallah…

Hikmah dari takbir yang diperbanyak ini adalah untuk mengagungkan nama Allah di hari yang mulia, hari raya kurban. Mengingat dan memuji Allah sebanyak-banyaknya adalah amalan yang sangat dianjurkan di hari-hari tasyrik, termasuk hari Idul Adha.

4. Membaca Surat Al-Fatihah dan Surat Pendek

Setelah selesai melaksanakan tujuh kali takbir tambahan dan bacaannya, imam (atau kita jika shalat sendiri) membaca Surat Al-Fatihah seperti biasa. Pembacaan Al-Fatihah ini hukumnya wajib dalam setiap rakaat shalat.

Setelah Al-Fatihah, disunnahkan membaca surat pendek dari Al-Quran. Untuk rakaat pertama Shalat Idul Adha, surat yang dianjurkan adalah Surat Al-A’la. Surat ini berisi tentang kebesaran Allah dan peringatan bagi orang yang lalai. Membaca surat-surat yang dianjurkan ini hukumnya sunnah, jadi jika tidak hafal, boleh membaca surat lain yang kamu hafal. Namun, mengikuti sunnah Rasulullah SAW tentu lebih utama.

Setelah selesai membaca surat pendek, gerakan selanjutnya sama seperti shalat biasa, yaitu ruku’, i’tidal, sujud dua kali dengan duduk di antara dua sujud, lalu berdiri lagi untuk melanjutkan ke rakaat kedua.

5. Melanjutkan Rakaat Kedua: Takbir Lima Kali

Saat berdiri untuk memulai rakaat kedua, tidak perlu membaca doa iftitah lagi. Langsung dilanjutkan dengan takbir tambahan. Pada rakaat kedua ini, takbir tambahan yang dilakukan adalah sebanyak lima kali. Sama seperti di rakaat pertama, setiap kali takbir, disunnahkan mengangkat tangan.

Di antara setiap takbir tambahan ini (setelah takbir kedua sampai kelima), disunnahkan membaca bacaan yang sama seperti di rakaat pertama, yaitu:

اللهُ Ø£َÙƒْبَرُ ÙƒَبِÙŠْرًا، ÙˆَالْØ­َÙ…ْدُ Ù„ِÙ„ّٰÙ‡ِ ÙƒَØ«ِÙŠْرًا، ÙˆَسُبْØ­َانَ اللهِ بُÙƒْرَØ©ً ÙˆَØ£َصِÙŠْÙ„ًا

atau

سُبْØ­َانَ اللهِ ÙˆَالْØ­َÙ…ْدُ Ù„ِÙ„ّٰÙ‡ِ ÙˆَÙ„َا Ø¥ِÙ„ٰÙ‡َ Ø¥ِÙ„َّا اللهُ Ùˆَاللهُ Ø£َÙƒْبَرُ

Bacaan ini dibaca sebanyak empat kali, yaitu di sela-sela takbir kedua hingga kelima. Jadi, urutannya: Berdiri untuk rakaat kedua, Takbir ke-1 (dari 5 tambahan) -angkat tangan-, Takbir ke-2 -angkat tangan- Bacaan Subhanallah…, Takbir ke-3 -angkat tangan- Bacaan Subhanallah…, dan seterusnya hingga Takbir ke-5 -angkat tangan- Bacaan Subhanallah…

Jumlah takbir yang berbeda antara rakaat pertama (7 kali) dan kedua (5 kali) ini juga merupakan salah satu kekhasan Shalat Idul Adha. Angka ganjil ini memiliki makna simbolis dan merupakan bagian dari sunnah yang diajarkan Rasulullah SAW.

6. Membaca Surat Al-Fatihah dan Surat Pendek (Lanjutan)

Setelah selesai melaksanakan lima kali takbir tambahan dan bacaannya di rakaat kedua, selanjutnya membaca Surat Al-Fatihah seperti biasa.

Setelah Al-Fatihah, disunnahkan membaca surat pendek. Untuk rakaat kedua Shalat Idul Adha, surat yang dianjurkan adalah Surat Al-Ghashiyah. Surat ini bercerita tentang hari kiamat dan balasan bagi orang beriman dan orang kafir. Lagi-lagi, membaca surat ini hukumnya sunnah, jadi kalau tidak hafal bisa diganti surat lain.

7. Melanjutkan Gerakan Shalat hingga Salam

Setelah membaca surat pendek, lanjutkan gerakan shalat seperti biasa hingga selesai: ruku’, i’tidal, sujud dua kali dengan duduk di antara dua sujud.

Setelah sujud kedua di rakaat kedua, duduk untuk tasyahud akhir. Bacaan tasyahud akhir ini sama dengan tasyahud akhir pada shalat fardhu, dimulai dari Attahiyat hingga shalawat Nabi dan diakhiri dengan salam.

Terakhir, akhiri shalat dengan mengucapkan salam. Menoleh ke kanan sambil mengucapkan “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh” dan menoleh ke kiri sambil mengucapkan “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh”. Dengan salam, selesailah rangkaian Shalat Idul Adha.

Agar lebih mudah memahami urutan gerakan dan takbir, kamu bisa lihat ringkasan dalam tabel berikut:

Rakaat Setelah Doa Iftitah / Setelah Berdiri Jumlah Takbir Tambahan Bacaan Antar Takbir Setelah Takbir Tambahan Surat Pendek Dianjurkan
Pertama Setelah Doa Iftitah 7 Kali Subhanallah walhamdulillah… atau Allahu Akbar Kabira… Al-Fatihah Al-A’la
Kedua Setelah Berdiri 5 Kali Subhanallah walhamdulillah… atau Allahu Akbar Kabira… Al-Fatihah Al-Ghashiyah

Setelah salam, jangan buru-buru pulang, terutama jika kamu shalat berjamaah. Ada satu tahapan lagi yang penting.

Ringkasan Gerakan Shalat Idul Adha

Berikut adalah urutan lengkap gerakan Shalat Idul Adha:

  1. Niat di dalam hati (disunnahkan melafalkan).
  2. Takbiratul Ihram (“Allahu Akbar”) sambil mengangkat tangan.
  3. Membaca Doa Iftitah (Sunnah).
  4. Takbir tambahan 7 kali di rakaat pertama, di sela-selanya membaca dzikir yang dianjurkan. Mengangkat tangan setiap takbir (Sunnah).
  5. Membaca Surat Al-Fatihah.
  6. Membaca Surat Al-A’la (Sunnah).
  7. Ruku’.
  8. I’tidal.
  9. Sujud pertama.
  10. Duduk di antara dua sujud.
  11. Sujud kedua.
  12. Berdiri untuk rakaat kedua.
  13. Takbir tambahan 5 kali di rakaat kedua, di sela-selanya membaca dzikir yang dianjurkan. Mengangkat tangan setiap takbir (Sunnah).
  14. Membaca Surat Al-Fatihah.
  15. Membaca Surat Al-Ghashiyah (Sunnah).
  16. Ruku’.
  17. I’tidal.
  18. Sujud pertama.
  19. Duduk di antara dua sujud.
  20. Sujud kedua.
  21. Duduk Tasyahud Akhir.
  22. Membaca Tasyahud Akhir.
  23. Mengucap Salam.

Setelah Shalat: Khutbah Idul Adha

Berbeda dengan shalat Jumat di mana khutbah disampaikan sebelum shalat, pada Shalat Idul Adha (juga Idul Fitri), khutbah dilaksanakan setelah shalat selesai. Menyimak khutbah ini hukumnya sunnah bagi jamaah yang melaksanakan shalat berjamaah.

Khutbah Idul Adha biasanya disampaikan oleh khatib sebanyak dua sesi atau dua khutbah yang dipisah dengan duduk sejenak di antara keduanya. Isi khutbah Idul Adha umumnya meliputi:
* Ajakan untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.
* Penjelasan tentang makna dan hikmah Hari Raya Idul Adha dan ibadah kurban.
* Kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS sebagai inspirasi keikhlasan dan kepasrahan kepada perintah Allah.
* Nasihat-nasihat kebaikan, persatuan umat, dan pentingnya berbagi.
* Doa untuk kaum muslimin.

Bagi kamu yang shalat Idul Adha sendirian di rumah, tidak ada kewajiban untuk melaksanakan khutbah. Cukup selesaikan shalat dua rakaat hingga salam. Namun, jika shalat berjamaah, usahakan untuk tetap berada di tempat shalat dan menyimak khutbah hingga selesai. Mendengarkan khutbah adalah bagian dari kesempurnaan ibadah di hari raya.

Berikut adalah contoh video panduan Shalat Idul Adha yang mungkin bisa membantu visualisasimu:


*(Catatan: Silakan ganti "example_video_id" dengan ID video YouTube yang relevan, contoh: https://www.youtube.com/watch?v=uN4jA350K_w bisa menggunakan ID 'uN4jA350K_w'. Jika tidak ada video yang pas, bagian ini bisa dihilangkan.)*

Sunnah-Sunnah Lain di Hari Raya Kurban

Selain melaksanakan Shalat Idul Adha, ada beberapa amalan sunnah lain yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan di hari yang mulia ini, diantaranya:

  • Mandi Sunnah: Disunnahkan mandi sebelum berangkat menunaikan Shalat Id. Mandi ini bertujuan membersihkan diri dan menyucikan jiwa untuk menyambut hari raya.
  • Memakai Pakaian Terbaik: Kenakan pakaian terbaik, terbersih, dan paling rapi yang kamu miliki. Ini sebagai bentuk syukur dan sukacita menyambut hari raya.
  • Mengenakan Wangi-wangian: Memakai parfum atau wangi-wangian yang harum juga sangat dianjurkan. Tujuannya untuk menambah kesegaran dan keharuman saat bertemu sesama muslim di tempat shalat.
  • Tidak Makan Sebelum Shalat: Berbeda dengan Idul Fitri yang disunnahkan makan sebelum berangkat shalat, di Idul Adha justru disunnahkan untuk tidak makan terlebih dahulu. Dianjurkan untuk menahan diri hingga selesai penyembelihan kurban dan bisa menikmati hidangan dari daging kurban tersebut. Ini juga sebagai simbol kesiapan untuk berkorban.
  • Berjalan Kaki Menuju Tempat Shalat: Jika memungkinkan dan jaraknya tidak terlalu jauh, disunnahkan berjalan kaki saat menuju tempat Shalat Id. Ini menunjukkan semangat dan antusiasme dalam beribadah.
  • Mengambil Jalan yang Berbeda Saat Pulang: Setelah selesai shalat dan menyimak khutbah, disunnahkan untuk mengambil rute pulang yang berbeda dari rute saat berangkat. Hikmahnya konon agar lebih banyak tempat yang dilalui untuk menyebarkan syiar Islam dan bertemu dengan lebih banyak orang, atau agar langkah kaki kita bersaksi di Hari Kiamat.
  • Mengumandangkan Takbir: Mulai dari malam takbiran hingga sebelum Shalat Idul Adha, sangat dianjurkan untuk memperbanyak takbir. Lafal takbir Idul Adha yang umum adalah “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaha Illallah, Wallahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamd”.

Makna Kurban di Hari Raya Idul Adha

Shalat Idul Adha tidak bisa dilepaskan dari ibadah kurban. Hari raya ini juga sering disebut sebagai “Hari Raya Kurban”. Ibadah kurban adalah syariat yang mengingatkan kita pada kisah keteladanan Nabi Ibrahim AS yang siap mengorbankan putranya, Nabi Ismail AS, demi menjalankan perintah Allah SWT. Allah kemudian mengganti Ismail dengan seekor domba.

Dari kisah ini, kurban mengajarkan kita tentang:
* Keikhlasan dan Kepatuhan: Kesiapan untuk mengorbankan sesuatu yang paling kita cintai demi Allah.
* Ketulusan: Menyerahkan jiwa dan raga sepenuhnya kepada kehendak Allah.
* Solidaritas Sosial: Membagi daging kurban kepada fakir miskin, yatim piatu, dan mereka yang membutuhkan. Ini adalah wujud kepedulian dan berbagi kebahagiaan di hari raya.

Shalat Idul Adha yang kita tunaikan adalah wujud syukur atas segala nikmat, termasuk nikmat mampu meneladani ketaatan para nabi. Khutbah setelah shalat sering kali mengaitkan langsung pentingnya ibadah shalat dan ibadah kurban sebagai satu kesatuan pengabdian diri kepada Allah SWT.

Dengan memahami tata cara Shalat Idul Adha dan sunnah-sunnah lainnya, semoga kita bisa melaksanakan ibadah di hari raya kurban dengan lebih sempurna dan penuh makna. Mari kita sambut Hari Raya Idul Adha dengan hati yang bersih, penuh sukacita, dan siap berbagi kebaikan kepada sesama.

Semoga panduan ini bermanfaat buat kamu semua yang akan menunaikan Shalat Idul Adha. Bagaimana persiapanmu menyambut Hari Raya Idul Adha tahun ini? Adakah tradisi khusus di daerahmu yang kamu rindukan? Yuk, bagikan pengalaman atau pertanyaanmu di kolom komentar!

Posting Komentar