Gas Pol! Film F1 Siap Mengaspal di Kalimantan: Catat Jadwal Tayangnya!

Table of Contents

relevant text from title

Film F1: The Movie belakangan ini lagi jadi buah bibir banget nih. Bukan cuma seru buat para penggemar balap mobil, tapi juga bikin penasaran pecinta film biasa. Gimana nggak, ada aktor sekelas Brad Pitt yang bakal ngebut di lintasan, beradu kecepatan kayak pembalap F1 sungguhan. Kebayang kan aksinya bakal kayak apa?

Ditambah lagi, film ini digarap oleh sutradara Top Gun: Maverick, Joseph Kosinski. Bareng penulis skenario Ehren Kruger dan produser Jerry Bruckheimer, tim ini emang udah terbukti sukses bikin film yang bikin penonton betah di kursi. Mereka bertiga sebelumnya juga kerja bareng di Top Gun: Maverick yang sukses besar di tahun 2022. Jadi, ekspektasi buat film F1 ini pastinya tinggi banget.

Proses syutingnya juga nggak main-main lho. Kru dan para aktor beneran ikutan syuting di tengah hiruk pikuk akhir pekan Grand Prix F1 sungguhan. Tim fiksi di film ini beneran bersaing dan berbagi lintasan sama tim-tim raksasa dunia F1 asli. Ini pasti bikin adegan balapannya kerasa super realistis!

Teknologi Unik di Balik Layar dan Trailer

Satu hal unik dari film F1 garapan Joseph Kosinski ini adalah pemanfaatan teknologi lama iPhone untuk trailer perdananya. Ini bukan cuma gimmick biasa, tapi beneran kasih pengalaman beda buat yang nonton. Teknologi ini memungkinkan pengguna iPhone buat ngerasain yang namanya haptic feedback pas lagi nonton trailer filmnya.

Jadi, waktu nonton trailer F1 di aplikasi Apple TV pakai iPhone, kamu bisa ngerasain getaran-getaran kecil yang sinkron sama adegan di layar. Mulai dari deru mesin jet darat yang kencang, sampai momen dramatis Brad Pitt yang ngalamin crash. Sensasi getaran ini bikin kamu serasa ikutan di dalam mobil balapnya, lho! Ini inovasi keren yang bikin trailer film jadi lebih imersif.

Film ini sendiri adalah hasil kolaborasi dari beberapa rumah produksi besar. Ada Apple Original Films, Monolith Pictures, Jerry Bruckheimer Films, Plan B Entertainment, dan Dawn Apollo Films yang gabung buat bikin film spektakuler ini. Distribusinya dipercayakan kepada Warner Bros Pictures.

F1: The Movie baru aja rilis di akhir Juni kemarin. Respons awal cukup positif dari para kritikus film. Dari segi pendapatan, film ini udah meraup sekitar $162 juta di seluruh dunia. Anggarannya sendiri berkisar antara $200-300 juta, jadi film ini masih berusaha keras buat nutupin biaya produksinya dan meraih keuntungan.

Sinopsis Film F1: The Movie

Film drama olahraga asal Amerika tahun 2025 ini mengangkat kisah yang cukup menarik. Dibintangi oleh Brad Pitt, film ini bercerita tentang seorang pembalap legendaris yang memutuskan kembali ke dunia F1 setelah absen selama 30 tahun. Karakternya bernama Sonny Hayes, diperankan oleh Brad Pitt.

Sonny Hayes ini diceritakan sebagai mantan pembalap F1 yang memutuskan pensiun setelah mengalami kecelakaan mengerikan di lintasan. Kejadian itu bukan cuma mengakhiri karier balapnya yang menjanjikan di era 90-an, tapi juga meninggalkan luka fisik dan mental. Setelah pensiun dini dari F1 di Grand Prix Spanyol tahun 1993 akibat cedera parah, hidup Sonny jadi nggak karuan.

Dia sempat hidup nomaden, balapan di sana-sini sebagai pembalap bayaran di ajang balap lain. Di luar lintasan, hidup pribadinya juga berantakan. Sonny diceritakan sempat terjerumus judi dan mengalami kegagalan dalam tiga kali pernikahannya. Jauh dari gemerlap F1, ia berusaha mencari jati diri dan makna hidup.

Namun, takdir kembali memanggilnya ke dunia balap yang pernah ia tinggalkan. Seorang teman lama sekaligus mantan rekan setimnya di Lotus, Ruben Cervantes (diperankan oleh Javier Bardem), datang dengan tawaran yang sulit ditolak. Ruben sekarang memiliki tim F1 sendiri bernama Expensify APXGP F1 Team.

Tim APXGP ini sedang berada dalam kondisi yang sulit. Investor mereka mengancam akan menjual tim jika tidak ada perbaikan performa yang signifikan. Dalam situasi genting ini, Ruben melihat Sonny sebagai satu-satunya harapan. Dia menawarkan Sonny untuk kembali ke F1, bukan cuma sebagai pembalap, tapi juga untuk membantu melatih pembalap muda andalannya, Joshua ‘Noah’ Pearce (diperankan oleh Damson Idris).

Tawaran ini awalnya disambut enggan oleh Sonny. Trauma masa lalu masih menghantuinya, dan dia merasa sudah terlalu tua untuk kembali ke kerasnya persaingan F1 modern. Namun, Ruben meyakinkannya bahwa dengan kembali dan meraih kemenangan, Sonny akan membuktikan dirinya sebagai ‘yang terbaik di dunia’ sekali lagi. Ini adalah kesempatan emas untuk penebusan diri dan mengembalikan kejayaan yang hilang.

Sonny akhirnya setuju dan mengikuti test drive di sirkuit Silverstone. Di sana, ia bertemu dengan staf kunci tim APXGP: Kepala Tim Kaspar Smolinski, Direktur Teknis Kate McKenna, dan tentu saja, Joshua Pearce, pembalap muda asal Inggris yang ambisius dan penuh percaya diri. Joshua dengan jujur mengungkapkan bahwa Sonny adalah pilihan terakhir, karena tujuh pembalap lain menolak kesempatan bergabung dengan tim yang sedang terpuruk itu.

Joshua Pearce ini digambarkan sebagai pembalap yang sangat berbakat, cepat, tapi mungkin sedikit sombong dan kurang berpengalaman dalam hal manajemen tim dan tekanan F1. Dia sangat ingin mengalahkan rekan setimnya—siapa lagi kalau bukan Sonny—untuk mengesankan para investor tim. Dinamika antara pembalap veteran yang berusaha comeback dan pembalap muda yang ingin membuktikan diri ini pasti akan menjadi salah satu daya tarik utama film ini.

Selama tes pertamanya dengan mobil F1 modern, Sonny merasa kesulitan beradaptasi. Teknologi dan kecepatan mobil F1 saat ini jauh berbeda dengan era 90-an saat ia terakhir kali membalap. Namun, pengalamannya yang segudang memungkinkannya untuk segera mengidentifikasi kelemahan-kelemahan krusial pada mobil APXGP. Pengetahuan dan insting balapnya yang tajam ternyata masih ada.

Bersama dengan Kate McKenna, direktur teknis yang cerdas, Sonny mulai bekerja untuk memperbaiki performa mobil. Tugas Sonny menjadi ganda: beradaptasi kembali sebagai pembalap di level tertinggi dan sekaligus menjadi mentor bagi Joshua. Dia harus menyeimbangkan ambisinya sendiri untuk kembali ke puncak dengan tugas membimbing talenta muda yang berpotensi menjadi saingannya.

APXGP harus memenangkan setidaknya satu dari sembilan Grand Prix tersisa di musim itu agar tim tidak jadi dijual. Ini adalah target yang sangat berat mengingat kondisi tim saat ini. Mampukah Sonny Hayes, sang veteran yang kembali dari pensiun, membawa tim APXGP meraih kemenangan? Bisakah ia mengembalikan kepercayaan dirinya yang sempat hancur? Dan bagaimana hubungan kompetitif namun membimbingnya dengan Joshua Pearce akan berkembang di tengah tekanan tinggi dunia F1? Film ini akan mengupas tuntas perjuangan mereka di lintasan balap dan di luar itu.

Brad Pitt sendiri kabarnya sangat serius mendalami perannya. Dia bahkan menghabiskan banyak waktu bersama tim dan pembalap F1 sungguhan, termasuk berdiskusi intens dengan Juara Dunia tujuh kali, Lewis Hamilton, yang juga bertindak sebagai salah satu produser film ini. Hamilton memberikan masukan berharga mengenai seluk beluk dunia F1 yang otentik, mulai dari dinamika tim, tekanan mental, hingga detail teknis balapan. Ini semua dilakukan untuk memastikan film ini terasa seautentik mungkin di mata para penggemar balap.

Proses syuting yang dilakukan di sirkuit F1 asli saat akhir pekan balapan beneran juga menambah tingkat realisme film ini. Penonton akan melihat adegan balap yang terasa sangat hidup, dengan mobil-mobil yang melaju kencang di lintasan yang sama persis dengan yang digunakan oleh pembalap F1 idola mereka. Mobil-mobil fiksi tim APXGP dan Konnersport (tim rival utama di film) didesain khusus dan bahkan dimodifikasi dari sasis mobil F2 agar terlihat dan berperilaku mirip mobil F1, tapi tetap bisa dikemudikan oleh aktor dalam kecepatan yang relatif tinggi untuk kebutuhan syuting.

Secara keseluruhan, F1: The Movie menawarkan kombinasi menarik antara drama personal yang kuat, persaingan di dunia olahraga elite, dan adegan balap yang spektakuler. Kisah tentang comeback, penebusan, dan dinamika antara mentor dan anak didik di tengah lingkungan yang sangat kompetitif pasti akan memikat penonton. Film ini bukan cuma soal mobil ngebut, tapi juga tentang semangat, ketahanan mental, dan hubungan antarmanusia.

Jadwal Tayangnya di Kalimantan

Nah, buat kamu yang udah nggak sabar pengen nonton aksi Brad Pitt di lintasan balap F1, ini dia jadwal tayang film F1: The Movie di beberapa kota di Kalimantan. Jadwal ini dirangkum dari situs resmi Cinema XXI dan CGV. Ingat ya, jadwal bisa berubah sewaktu-waktu tergantung kebijakan bioskop. Jadi, pastikan cek lagi di aplikasi atau situs resmi bioskop kesukaanmu sebelum berangkat!

Ini dia jadwalnya untuk beberapa kota:

1. CGV Plaza Balikpapan

  • Pukul 19.15 WITA

2. Pentacity XXI Balikpapan

  • Pukul 12.05 WITA
  • Pukul 14.55 WITA
  • Pukul 17.45 WITA
  • Pukul 20.35 WITA

3. Studio XXI Banjarmasin

  • Pukul 17.30 WITA
  • Pukul 20.20 WITA

4. Palma XXI Palangkaraya

  • Pukul 13.15 WITA
  • Pukul 18.00 WITA

5. Ayani XXI Pontianak

  • Pukul 17.00 WITA
  • Pukul 19.50 WITA

6. City Centrum XXI Samarinda

  • Pukul 18.00 WITA
  • Pukul 20.50 WITA

Catatan: Jadwal di atas adalah perkiraan berdasarkan informasi yang tersedia pada saat artikel ini ditulis. Untuk kepastian dan update jadwal terbaru, sangat disarankan untuk memeriksa langsung di situs web atau aplikasi resmi bioskop seperti Cinema XXI atau CGV terdekat di kotamu. Harga tiket juga bervariasi tergantung bioskop dan jenis studio.

Film ini pastinya jadi tontonan wajib buat para motorsport enthusiast dan juga penggemar film aksi dan drama. Kesempatan langka lho lihat Brad Pitt jadi pembalap F1! Apalagi disutradarai sama orang yang bikin Top Gun: Maverick sukses besar.

Yuk, siap-siap ajak teman, keluarga, atau pasangan buat merasakan sensasi balapan F1 di layar lebar!

Penasaran banget kan sama aksi Brad Pitt ngebut di F1? Atau kamu malah lebih tertarik sama drama di balik tim balap yang berjuang dari keterpurukan? Share dong pendapatmu di kolom komentar! Jangan lupa ajak teman-temanmu yang suka F1 atau Brad Pitt buat baca artikel ini ya!

Posting Komentar