Geger BRICS! Prabowo Dorong 'South-South Economic Compact', Ini Maksudnya!

Table of Contents

Presiden Prabowo Subianto di KTT BRICS

Dunia lagi rame nih, terutama pas ada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS 2025 di Rio de Janeiro, Brasil. Bayangin aja, para pemimpin dari negara-negara besar berkumpul ngomongin nasib dunia. Nah, di tengah suasana yang lagi serba nggak pasti ini, Presiden Prabowo Subianto muncul dengan ide yang cukup bikin kepo: ‘South-South Economic Compact’.

Usulan ini dilempar sama Pak Prabowo saat sesi kedua pleno KTT BRICS yang ngebahas soal multilateralisme, keuangan, dan pastinya, kecerdasan buatan alias AI. Ide ini bukan sekadar wacana biasa, tapi punya tujuan mulia. BRICS diharapkan bisa jadi motor penggerak buat negara-negara di Global South.

Apa Sih Global South Itu?

Mungkin ada yang masih bertanya-tanya, Global South itu apa sih? Gampangnya, ini sebutan buat negara-negara di seluruh dunia yang masih dalam tahap berkembang, kurang berkembang, atau malah terbelakang. Letaknya memang kebanyakan ada di belahan bumi selatan, makanya disebut Global South.

Negara-negara di Global South ini punya banyak tantangan serupa. Mulai dari soal ekonomi, pembangunan infrastruktur, pendidikan, kesehatan, sampai urusan utang luar negeri. Solidaritas dan kerja sama antar mereka jadi kunci penting buat bisa naik kelas bareng-bareng.

‘South-South Economic Compact’: Kenapa Penting?

Menurut Wakil Menteri Luar Negeri, Bapak Arrmanatha Nasir, yang akrab dipanggil Tata, ide ‘South-South Economic Compact’ ini intinya biar negara-negara BRICS yang lumayan kuat ekonominya bisa ngasih akses lebih luas buat negara-negara Global South. Akses ini bisa macem-macem, misalnya soal perdagangan, investasi, atau bahkan integrasi ekonomi.

Bayangin aja, negara-negara berkembang seringkali kesulitan buat masuk ke rantai pasok global atau dapet akses pasar yang adil. Nah, lewat compact ini, diharapkan BRICS bisa buka jalan lebar-lebar. Tujuannya jelas, biar perekonomian negara Global South bisa ikut terintegrasi dan berkembang lebih pesat.

Situasi dunia yang nggak menentu sekarang ini juga jadi latar belakang penting kenapa ide ini muncul. Bapak Tata bilang, banyak banget pelanggaran hukum internasional terjadi, dan sistem multilateral yang seharusnya jadi payung kerja sama global malah kurang dipatuhi atau dianggap remeh.

BRICS dan Kepemimpinan Global South

Di KTT BRICS ini, isu yang paling sering diangkat adalah pentingnya peran BRICS buat ngambil kepemimpinan di Global South. BRICS diharapkan bisa jadi suara yang kuat buat negara-negara berkembang. Mereka bisa bersatu buat terus ingetin dunia bahwa hukum internasional dan sistem multilateral itu penting banget buat negara berkembang.

Kenapa penting? Karena sistem yang tertib dan aturan main yang jelas itu dibutuhkan banget sama negara berkembang biar bisa menciptakan situasi yang kondusif buat pembangunan. Tanpa itu, negara-negara kecil dan berkembang gampang banget kena imbas negatif dari gejolak global.

Jadi, compact ini bukan cuma soal ekonomi, tapi juga ada dimensi politik dan hukum internasionalnya. BRICS diharapkan bisa menggandeng negara-negara Global South lainnya, bikin satu barisan yang solid, dan menyuarakan kepentingan mereka di forum-forum internasional.

Peran New Development Bank (NDB)

Selain ‘South-South Economic Compact’, isu lain yang nggak kalah penting dan disebut sama Presiden Prabowo adalah soal penguatan kemitraan ekonomi antarnegara Global South dan memperluas pemanfaatan New Development Bank (NDB). Ini disampaikan juga sama Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Bapak Airlangga Hartarto, yang ikut mendampingi di KTT BRICS.

NDB itu lembaga keuangan yang dibentuk sama negara-negara anggota BRICS. Ibaratnya, ini bank-nya BRICS buat mendanai proyek-proyek pembangunan. Bapak Airlangga bilang, kemitraan ekonomi negara berkembang itu penting banget, dan NDB punya potensi besar buat mendukung ini.

Pemanfaatan NDB diharapkan bisa ditingkatkan. Artinya, NDB bisa lebih aktif lagi dalam memberikan pinjaman atau pendanaan buat proyek-proyek di negara Global South. Ini sejalan banget sama ide ‘South-South Economic Compact’ yang mau memperkuat kerja sama ekonomi antar negara berkembang.

Indonesia dan Potensi Bergabung dengan NDB

Menariknya, Bapak Airlangga juga secara terang-terangan bilang kalau Indonesia itu siap buat bergabung secara aktif di NDB. Kenapa Indonesia mau gabung? Tujuannya biar Indonesia bisa akses pendanaan pembangunan dari NDB.

Pendanaan ini penting buat mendukung agenda transformasi hijau dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan di Indonesia. Kita tahu, proyek-proyek ramah lingkungan dan berkelanjutan itu butuh biaya besar. NDB ternyata sudah punya pengalaman lho dalam mendanai proyek-proyek kayak gitu.

Sampai sekarang, NDB dilaporkan sudah mendanai sekitar 120 proyek dengan total nilai fantastis, sekitar US$ 39 miliar. Kalau dirupiahkan, itu setara dengan sekitar Rp 633 triliun! Proyek-proyek yang didanai NDB macem-macem, ada yang buat energi bersih (clean energy), infrastruktur, sampai proyek-proyek yang berhubungan sama sustainability dan isu hijau.

Dengan bergabung di NDB, Indonesia bisa dapet tambahan sumber pendanaan di luar skema pembiayaan tradisional. Ini bisa jadi amunisi tambahan buat ngebut pembangunan, terutama di sektor-sektor prioritas yang sejalan sama visi Indonesia Emas 2045.

Kenapa BRICS Jadi Sorotan?

BRICS sendiri belakangan makin jadi sorotan dunia. Awalnya cuma Brazil, Rusia, India, China, dan South Africa (Afrika Selatan). Tapi belakangan, anggotanya makin banyak. Negara-negara kayak Arab Saudi, Mesir, Ethiopia, Iran, dan Uni Emirat Arab udah resmi gabung di awal tahun 2024. Ini nunjukkin kalau BRICS makin seksi dan diminati banyak negara, terutama dari Global South.

BRICS dilihat sebagai alternatif dari blok-blok ekonomi atau politik yang sudah ada, yang kebanyakan didominasi negara-negara Barat. BRICS menawarkan platform kerja sama yang lebih mengakomodasi kepentingan negara-negara berkembang. Mereka ingin menciptakan tatanan dunia yang lebih multipolar, di mana kekuatan ekonomi dan politik nggak cuma terpusat di satu atau dua kawasan aja.

Tantangan South-South Cooperation

Meskipun ide ‘South-South Economic Compact’ dan penguatan kerja sama antarnegara Global South ini terdengar keren, tentu ada tantangannya. Negara-negara Global South itu nggak homogen. Mereka punya kepentingan, sistem politik, dan tingkat pembangunan yang beda-beda. Menyatukan visi dan langkah mereka itu bukan perkara mudah.

Selain itu, ada juga tantangan soal kapasitas. Nggak semua negara Global South punya sumber daya atau kapasitas institusional yang kuat buat menjalin kerja sama ekonomi yang kompleks. Perlu ada upaya bareng buat meningkatkan kapasitas ini, mungkin lewat pertukaran pengetahuan atau bantuan teknis antar negara Global South yang lebih maju ke yang kurang maju.

Dana juga jadi isu. Meskipun ada NDB, kebutuhan pendanaan pembangunan di Global South itu jauh lebih besar dari yang bisa dicover NDB aja. Perlu ada inovasi dalam pembiayaan dan mungkin pelibatan sektor swasta yang lebih besar dalam skema kerja sama ini.

BRICS dan Reformasi Sistem Global

Salah satu tujuan utama BRICS, seperti yang disuarakan oleh Bapak Tata, adalah mendorong reformasi sistem multilateral. Mereka merasa institusi-institusi global yang ada saat ini, seperti PBB, Dana Moneter Internasional (IMF), atau Bank Dunia, masih mencerminkan konfigurasi kekuatan di masa lalu dan kurang mewakili suara negara-negara berkembang.

BRICS ingin sistem ini jadi lebih adil, transparan, dan responsif terhadap kebutuhan negara-negara Global South. Ide ‘South-South Economic Compact’ ini bisa dibilang bagian dari upaya itu. Dengan memperkuat ekonomi negara-negara Global South dan meningkatkan kerja sama di antara mereka, posisi tawar mereka di forum global juga akan makin kuat.

Mereka bisa bersuara lebih lantang menuntut reformasi, menolak praktik-praktik yang nggak adil dalam perdagangan internasional, atau bernegosiasi soal utang dan pendanaan pembangunan.

Masa Depan Kerja Sama Selatan-Selatan

Usulan Presiden Prabowo ini jadi penanda bahwa Indonesia melihat pentingnya penguatan poros Selatan-Selatan. Di tengah persaingan global yang makin ketat, membangun kemitraan yang solid dengan sesama negara berkembang bisa jadi strategi jitu buat memastikan kepentingan nasional terlindungi dan pembangunan bisa terus berjalan.

‘South-South Economic Compact’ bisa jadi cetak biru awal buat mengorganisir kerja sama ini dengan lebih terstruktur. Bukan cuma soal perdagangan, tapi juga bisa merambah ke transfer teknologi, pertukaran sumber daya manusia terampil, pengembangan infrastruktur bersama, sampai kerja sama di bidang riset dan inovasi.

BRICS, dengan kekuatan ekonomi anggotanya, punya peran sentral buat mewujudkan ini. Mereka bisa menyediakan platform, pendanaan (lewat NDB), dan leadership politik buat menggerakkan inisiatif ini.

Tentu masih banyak detail yang perlu dirumuskan dari usulan ini. Tapi intinya, pesan yang ingin disampaikan jelas: negara-negara Global South harus bersatu, bekerja sama, dan saling dukung buat menghadapi tantangan global dan mencapai kemakmuran bersama.

Gimana pendapat kamu tentang usulan ‘South-South Economic Compact’ ini? Apakah kamu setuju kalau BRICS harus jadi motor penggerak Global South? Atau ada ide lain? Share pandanganmu di kolom komentar ya!

Posting Komentar